Menelusuri Jejak Aksara, Menyelami Makna: Mahasiswa Sastra Indonesia Kunjungi Khong Kauw Lithang Surakarta

Menelusuri Jejak Aksara, Menyelami Makna: Mahasiswa Sastra Indonesia Kunjungi Khong Kauw Lithang Surakarta
SHARE

PRABANGKARANEWS, Surakarta, 4 Juni 2025 — Derap langkah para pencinta aksara menggetarkan aula penuh sejarah. Mahasiswa Program Studi Filologi Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) menapaki ruang-ruang sunyi penuh naskah di Perkumpulan Khong Kauw Lithang Gerbang Kebajikan, Jebres, Surakarta. Bukan sekadar kunjungan akademik, kegiatan ini menjadi ziarah intelektual untuk menyibak warisan naskah kuno dan menyelami kebijaksanaan ajaran Konghucu yang terpatri dalam lembar-lembar tua beraksara Mandarin klasik.

Didampingi dosen dan narasumber, mahasiswa mengamati langsung koleksi tak kurang dari 1.815 naskah kuno, sebagian besar berupa kitab-kitab beraksara Mandarin, ditulis dari kanan ke kiri, menyimpan nilai-nilai luhur yang nyaris terhapus waktu. WS Adjie Chandra, seorang tokoh spiritual Tionghoa dan penjaga warisan budaya Lithang, membuka lembar demi lembar kisah: dari sejarah naskah hingga perjuangan pelestariannya.

Baca Juga  Zia Barokah: Olahan Ikan Berkualitas dengan Izin Lengkap, Lezat dan Praktis!

“Proyek digitalisasi pertama dilakukan pada 2018 dengan alat sederhana. Kami lakukan satu per satu, memindai dengan sabar,” ujar Adjie, mengenang langkah awal mereka melawan pelupaan. Berkat dukungan British Library dan dipimpin oleh Ibu Retno, upaya ini berlanjut pada 2024 dengan alat yang lebih canggih—upaya tak kenal lelah agar sejarah tak terkubur debu zaman.

Namun, bukan hanya naskah yang ditelaah. Para mahasiswa juga diajak memahami makna filosofis Lithang—gabungan dari “li” (tata krama) dan “thang” (aula)—sebagai tempat suci yang berdiri di atas nilai-nilai. Dulunya bagian dari klenteng, Lithang ini kini berdiri mandiri sebagai saksi bisu perjuangan identitas, khususnya di masa tekanan politik ketika simbol-simbol Konghucu harus disamarkan atau bahkan disembunyikan.

Baca Juga  TNI AL Kerahkan Satgas Banjir ke Kalimantan Selatan

“Baru pada era Gus Dur dan SBY, kami bisa mengekspresikan kepercayaan secara terbuka,” kenang Adjie, yang juga berbagi kisah pribadinya mempelajari Mandarin dari nol demi memahami ajaran leluhur.

Dalam perbincangan yang sarat makna, Adjie memaparkan Tripusaka—cerdas, penuh kasih, dan mandiri—sebagai nilai dasar dalam ajaran Konghucu. Ia juga mengenalkan Hasta Brata, delapan kebajikan luhur: xiao (berbakti), ti (rendah hati), zhong (setia), xin (jujur), li (sopan), yi (bijaksana), lian (suci), dan chi (tahu malu). Nilai-nilai yang tak hanya ditulis, tetapi dihidupi.

Kunjungan ini juga menjadi momen penghayatan spiritual, ketika mahasiswa diajak mempraktikkan salam fai-fai—simbol keharmonisan laki-laki dan perempuan, ayah dan ibu, yin dan yang. “Dalam Konghucu, setiap gerakan mengandung makna. Bahkan salam pun adalah bentuk doa,” ujar Adjie penuh penghayatan.

Baca Juga  Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Beri Penghargaan ke Pecalang Bali Karena Berprestasi

Khong Kauw Lithang Gerbang Kebajikan berdiri sebagai penjaga nilai, benteng kebudayaan, dan ruang kontemplatif bagi generasi muda. Kunjungan ini menjadi pintu masuk baru bagi para mahasiswa untuk tak hanya membaca teks, tapi juga menafsirkan makna kehidupan, dari naskah-naskah bisu yang berbicara lewat keheningan. ((Febriyanti Tri Wahyuningtyas)