Menyungging Warisan Leluhur: Suvervisi Wayang Beber Tawangalun, Antara Tradisi, Waktu, dan Kertas Daluang

Menyungging Warisan Leluhur: Suvervisi Wayang Beber Tawangalun, Antara Tradisi, Waktu, dan Kertas Daluang
SHARE

PRABANGKARANEWS, WAYANG BEBER – Di sebuah sudut sunyi Galeri Wayang Grebel,  sekelompok orang tampak khidmat menyimak proses pewarnaan halus pada selembar kertas tua. Kertas itu bukan sembarang lembaran—ia adalah daluang, kertas tradisional dari pohon saeh, yang menjadi saksi abadi dari upaya manusia merawat jejak budaya.

Proyek ini bukan sekadar membuat tiruan. Bagi Tri Hartanto, dalang sekaligus penggiat seni Wayang Beber, kegiatan ini adalah bentuk pelestarian warisan tak benda yang hampir punah. “Wayang Beber Tawangalun ini memiliki akar sejarah kuat. Berdasarkan condrosengkolo ‘Gawe Srabi Jinamah Wong’, artefak aslinya diperkirakan dibuat tahun 1614 Saka atau 1692 Masehi. Usianya kini sudah 333 tahun,” jelasnya.

Baca Juga  Kriteria Pemilihan Pemimpin yang Efektif

Yang menjadikan proyek ini istimewa adalah pendekatannya yang tidak hanya menghidupkan bentuk visual wayang, tetapi juga semangat dan filosofi pembuatannya. Mulai dari penyamakan kulit pohon saeh untuk dijadikan kertas daluang, hingga teknik pewarnaan dan motif yang dijaga agar tetap setia pada pakem leluhur.

Keberadaan wayang beber bukan hanya soal pertunjukan. Ia adalah narasi yang hidup dalam lembaran demi lembaran, yang menyimpan kisah-kisah klasik Nusantara, nilai sosial, hingga pandangan hidup masyarakat Jawa masa lampau.

Upaya ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu monumental. Ia bisa dimulai dari sebidang ruang kecil, selembar kertas tradisional, dan segenggam semangat para pelaku budaya. Di tengah derasnya arus digital, langkah ini menjadi pengingat bahwa budaya yang kuat bukan yang dibekukan di museum, melainkan yang terus dihidupkan dalam praktik dan pemahaman generasi masa kini.

Baca Juga  [Covid-19 di Indonesia] +568 Kasus Baru, Sembuh 231 per 14 Mei 2020

Wayang Beber Tawangalun bukan hanya dilihat, tetapi dirawat—dihirup sebagai napas warisan yang tak lekang oleh zaman.

Tri Hartanto kepada jurnalis Minggu (1/6/25) Launching duplikasi Wayang Beber Tawangalun dan Buku Wayang Beber Tawangalun, akan direncanakan pada hari Rabu (11/6/25).  Kegiatan dilaksanakaan sesuai dengan Linimasa dalam proposal kepada progra, DKPM kementerian Kebudayaan Dana Indonesiana dan LPDP.