Merekam Warna, Mewariskan Makna: Proses Sungging Duplikasi Wayang Beber Tawangalun Donorojo
PRABANGKARANEWS, PACITAN – Di balik keindahan visual Wayang Beber Tawangalun, terdapat proses panjang penuh ketelitian dan kecintaan pada budaya. Program Dokumentasi Karya dan Pengetahuan Maestro menghadirkan kembali kejayaan narasi bergambar khas Pacitan ini melalui proses duplikasi, salah satunya melalui tahapan krusial: sungging.
Sungging bukan sekadar mewarnai. Ia adalah seni, warisan, dan bentuk penghormatan kepada leluhur. Faris Wibisono, seniman muda yang terlibat dalam proyek ini, menyebut sungging sebagai “perjalanan rasa dan ketelitian yang berulang setiap helai kuas digoreskan.”
Gulungan 1 saat ini berada dalam tahap finishing, menyelesaikan detail akhir sebelum siap dikemas dan didistribusikan. Sementara itu, Gulungan 2 telah memasuki proses kalkir—langkah awal yang menyalin pola asli ke atas media kertas daluang, sebagai panduan produksi utama.
Sungging, Warna dalam Napas Tradisi
Proses sungging pada Wayang Beber Tawangalun dimulai dengan pelapisan warna putih sebagai dasar pada kertas daluang berukuran 0,8 meter x 4,4 meter, yang dipasok langsung dari pengrajin Mufid di Bandung. Kertas ini kemudian dikalkir dengan pola asli menggunakan pensil atau pena halus, sebelum diberi pewarna dasar seperti hitam, merah bata, cokelat kemerahan, dan oranye muda.
Warna hitam digunakan untuk memperkuat karakter dalam cerita, dan pewarnaan awal ini dilakukan oleh penyungging utama yang memiliki pengalaman mendalam. Ketelitian dalam ketebalan dan kerataan warna putih sangat menentukan kualitas tahap sketsa berikutnya.
Detail yang Bicara
Selepas warna dasar, proses berlanjut ke pewarnaan tambahan—hijau, biru, dan kuning—yang menghadirkan gradasi dan kedalaman visual. Warna biru menghadirkan nuansa tenang, sementara hijau menyiratkan kesegaran alam. Tak berhenti di situ, detail-detail kecil seperti ornamen, motif pakaian, hingga ekspresi wajah karakter turut digarap teliti.
Setiap lapisan warna dilakukan dalam lima tahapan, memerlukan keterampilan seimbang antarpenyungging agar hasil akhirnya konsisten. Pewarnaan ini bukan sekadar estetika, melainkan sarat dengan simbolisme budaya dan nilai-nilai filosofis, sesuai dengan cerita Wayang Beber yang sedang direproduksi.
Melampaui Sekadar Warna
Duplikasi ini bukan semata pelestarian visual, melainkan juga pelestarian ruh budaya. Wayang Beber, dengan gulungan cerita yang panjang, membawa narasi kepemimpinan, keteladanan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Di tangan para penyungging, nilai-nilai ini lahir kembali dalam rupa warna yang hidup dan bercerita.
Seperti yang diungkap Faris Wibisono, “Setiap warna yang kita sunggingkan adalah doa agar budaya ini tidak pudar, dan generasi ke depan bisa merasakannya dengan mata dan hati mereka.”
