CAKIL BAKAR: Jejak Rasa dan Spirit Hijrah dari Hutan Nglorok, Pacitan

CAKIL BAKAR: Jejak Rasa dan Spirit Hijrah dari Hutan Nglorok, Pacitan
SHARE

PRABANGKARANEWS – “Bismillah. Salam Literasi Sejarah. Pacitan Kota Myisteri.”  Di balik lebatnya hutan rawa Nglorok—yang kini berada di wilayah Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur—tersembunyi sebuah kisah rasa yang melegenda. Jejak sejarah ini menelusuri kembali abad ke-15 Masehi, saat Kyi Ageng Bandung atau dikenal pula sebagai Raden Kian Santang, putra Prabu Siliwangi dari Pajajaran, memulai perjalanan spiritual dan fisik membuka rimba Pacitan.

Dalam proses hijrah dan penyebaran Islam yang ia emban, Kyi Ageng Bandung beserta rombongan menemukan tanaman khas yang tumbuh subur di hutan basah itu: buah kluwak. Terinspirasi dari rasa dan manfaatnya, sang tokoh pun memerintahkan rakyat dan istri tercintanya untuk meramu kluwak menjadi sajian istimewa.

Baca Juga  Pandangan Roy Surya tentang Permendag 31,Tahun 2023

Kuliner ini memadukan isi kluwak yang hitam pekat, dipadu parutan kelapa, serta bumbu rempah seperti garam, cabe, kemiri, bawang merah, bawang putih, dan ketumbar. Seluruh adonan dimasukkan kembali ke dalam tempurung kluwak yang telah dibelah, lalu dipanggang di atas bara hingga matang, legam, dan mengeluarkan aroma khas yang menggoda.

Cakil Bakar biasanya dinikmati bersama tiwul dan sayur besengek. Perpaduan ini begitu menggugah selera hingga membuat Kyi Ageng Bandung menari-nari kegirangan. Gaya tarian yang unik dan enerjik itulah yang oleh masyarakat setempat diidentifikasi menyerupai gerakan Buto Cakil, tokoh antagonis dalam wayang yang terkenal liar dan ekspresif—dari sinilah makanan ini mendapat namanya: Cakil Bakar.

Baca Juga  Inspiratif, Anak Penjual Mie Ayam Asal Tonjong, Brebes Juga Lulus Jadi Tentara Tanpa Biaya

Lebih dari sekadar rasa, Cakil Bakar menyimpan filosofi mendalam:  “Menuju kemuliaan hidup harus melalui proses ‘di-cakil’ atau ‘dicukil’, artinya berpindah tempat, hijrah, dan bekerja keras meninggalkan zona nyaman.”

Makanan ini sekaligus menjadi bukti bahwa masyarakat kuno Pacitan telah memiliki teknologi pangan lokal yang maju, mandiri, dan memanfaatkan sumber daya sekitar secara cerdas. Tempurung kluwak dijadikan wadah alami, sementara teknik pemanggangan menunjukkan kearifan dalam mengolah bahan agar tahan lama dan nikmat disantap.

ini, Cakil Bakar tergolong langka. Tidak mudah ditemukan di pasar tradisional. Namun di beberapa dapur masyarakat tua di wilayah Nglorok, Kecamatan Ngadirojo, kuliner ini masih dijaga sebagai warisan turun-temurun. Ia bukan sekadar makanan, tetapi citus sejarah—situs cita rasa dan spiritualitas yang nyaris terlupakan di zaman modern ini.

Baca Juga  Sabtu Hari Ini; Kemenhub Mencatat Sejumlah 477.000 Kendaraan Melewati Trans Jawa

Warisan ini mengingatkan kita bahwa kemandirian pangan dan keluhuran filosofi hidup telah lama menjadi pijakan poro leluhur bumi Pacitan. Maka sudah sepantasnya, generasi kini mengenal dan melestarikannya, sebagai bagian dari identitas sejarah dan budaya lokal.

Mugio Gusti Allah SWT paring berkahipun teng engsun, keluarga, rakyat lan para penerusipun Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, bumi langit sak isinipun. Aamiin. (Amat Taufan)