Situs Linting Gori Lorok: Warisan Kuliner dan Ketahanan Pangan dari Lorok Pacitan

Situs Linting Gori Lorok: Warisan Kuliner dan Ketahanan Pangan dari Lorok Pacitan
SHARE

PRABANGKARANEWS – Bismillah. Salam Literasi Sejarah. Lorok, sebuah wilayah di Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, menyimpan kisah sejarah yang penuh nilai budaya dan kearifan lokal. Diperkirakan pada abad ke-15 Masehi, tokoh sejarah Ki Ageng Bandung atau Raden Kian Santang—putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran—membuka wilayah hutan belantara yang kala itu masih liar dan penuh rawa. Dalam proses tersebut, ia bersama para abdi dalem dan keluarga mereka mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan akibat kondisi alam yang ekstrem dan akses logistik yang terbatas.

Di tengah kondisi krisis pangan itu, mereka menemukan pohon nangka liar yang berbuah lebat. Buah nangka muda (tewel) tersebut kemudian diolah oleh istri beliau menggunakan bumbu sederhana seperti cabai, garam, lengkuas, daun salam, dan santan, yang dimasak menggunakan kuali tanah. Hasil masakan itu ternyata nikmat, tahan lama, dan cukup untuk mengisi kebutuhan pangan kelompok mereka.

Baca Juga  Pjs Bupati Pacitan Pimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2024

Namun, untuk memperpanjang daya tahan makanan, sebagian olahan tersebut kemudian dibungkus daun pisang, digulung, dan dibakar hingga daun menghitam. Makanan ini kemudian dikenal sebagai “Citus Linting Gori Lorok”, kuliner praktis yang tahan lama dan mudah dibawa ke hutan atau ladang.

Lebih dari sekadar makanan, citus ini merupakan simbol teknik pengawetan pangan tradisional yang sederhana namun canggih untuk masa itu. Hingga kini, tradisi membuat Citus Linting Gori masih dijaga oleh masyarakat desa sebagai bentuk pelestarian nilai-nilai lokal dan filosofi hidup yang mengakar. Citus menjadi saksi sejarah kemandirian pangan masyarakat dan adaptasi manusia terhadap tantangan alam.

Secara filosofis, kata “Gori” atau “Gho” dimaknai sebagai lambang Gusti Allah SWT, mengingatkan bahwa segala kehidupan di dunia terjadi atas ridho dan kehendak-Nya. Makanan ini tidak hanya mengenyangkan secara fisik, tetapi juga mengandung pesan spiritual tentang rasa syukur, kesederhanaan, dan kesadaran akan kebesaran Tuhan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan bagi kita, keluarga, dan seluruh keturunan Nabi Muhammad SAW di bumi dan seluruh isinya.

Baca Juga  Kunjungan Asdep Perlindungan Anak Khusus Ratna Oeni Cholifah ke Pacitan untuk Advokasi dan Koordinasi

Penulis: Amat Taufan