Situs Wedus Kendit: Jejak Sunan Kalijaga di Pacitan dan Ikatan Suci Bumi–Langit
PRABANGKARANEWS, PACITAN – Pacitan selalu memiliki cara sendiri untuk menyimpan rahasia. Di balik perbukitan karst dan lembah sunyi Arjosari, tersimpan sebuah tradisi tua yang tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat: Situs Wedus Kendit, ritual penyembelihan kambing unik berwarna hitam dengan lingkar putih di bagian perut. Tradisi ini bukan sekadar cerita rakyat melainkan penanda bahwa Pacitan pernah menjadi persinggahan penting para Wali Allah pada abad ke-14 hingga ke-15 M. Jelas mengandung petanda yang syarat makna yang tersimpan rapi di Bumi Pacitan.
Jejak di Gunung Petit: Ketika Para Wali Menapakkan Kaki
Di sebuah kawasan terpencil bernama Pok Teng, Gunung Petit/Banyu Biru, Dusun Ngasem Nganyang, Desa Gembong, masyarakat percaya para Alim Ulama dan Wali Allah dahulu berkumpul setiap Iduladha.
Di tempat inilah mereka menyembelih hewan qurban yang tidak biasa: Wedus Kendit, kambing hitam yang memiliki lingkar putih seperti sabuk yang melingkari perut hingga pusarnya. Bagi para wali, keberadaan kendit bukanlah kebetulan, tetapi simbol spiritual yang sangat dalam.
Konon, Sunan Kalijaga tokoh besar Wali Songo yang dikenal memahami filosofi tanah Jawa adalah sosok yang memaknai dan mengajarkan kesakralan hewan kendit ini kepada masyarakat setempat.
Filosofi Tinggi: “Tali Suci ning Bumi-Langit sak Isinipun”
Dalam tradisi lisan masyarakat Gembong, Wedus Kendit merupakan perwujudan dari ikatan sakral antara bumi dan langit. Lingkar putih pada perut kambing dipandang sebagai titik kosmis yang menghubungkan dunia nyata dengan dunia batin.
Wedus Kendit menjadi simbol:
-
Pusat kesucian
-
Ikatan silaturahim antar-makhluk
-
Keselarasan alam dzahir dan alam gaib
-
Fitrah manusia yang tetap putih di tengah gelapnya dunia
Tak heran jika ritual penyembelihan ini selalu dimaknai sebagai upaya “nguripi dalan kang mati”—menghidupkan kembali jalan ruhani yang nyaris padam, menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta.
Pusat Simbol: Pusar Kambing dan Bayang-bayang Ka’bah
Bagi para wali, pusar pada Wedus Kendit bukan sekadar anatomi hewan. Ia menjadi simbol Ka’bah, pusat penyembahan dan titik orientasi spiritual umat Islam. Lingkar kendit yang mengelilingi pusar dipahami sebagai tali suci yang menjaga agar hubungan hamba dan Tuhannya tetap terikat kuat.
Simbol ini kemudian menjadi warisan filosofis yang senafas dengan lambang Nahdlatul Ulama (NU) yang digagas KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama abad ke-19: bumi yang diikat tali, dijaga oleh cahaya tauhid.
Masyarakat yang Menjaga Kesunyian
Hingga kini, masyarakat Gembong dan sekitarnya masih memandang Citus Wedus Kendit sebagai jejak suci yang tidak boleh dianggap remeh. Banyak yang percaya tradisi ini membawa keberkahan bagi bumi Pacitan, sekaligus menguatkan hubungan mereka dengan para leluhur Alim Ulama.
Di tengah dunia yang kian bergerak cepat, Situs Wedus Kendit berdiri sebagai pengingat, bahwa spiritualitas Jawa tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk ditemukan kembali—dalam sunyi Gunung Petit, dalam cerita para sesepuh, dan dalam doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh keyakinan.
“Mugi Gusti Allah paring berkah, nyawiji antarane bumi–langit, lan tansah nglindhungi titah-titahipun.”
Penulis: Amat Taufan
