Kenal Lebih Dekat Komunitas Masyarakat Pernaskahan Nusantara
PRABANGKARANEWS, SURAKARTA – Pada Kamis (13/11/2025), sebuah diskusi hangat bertajuk “Kenal Lebih Dekat Komunitas Masyarakat Pernaskahan Nusantara” menghadirkan suasana penuh antusiasme. Acara yang dipandu Manggala Putra ini menghadirkan empat narasumber yang telah malang melintang di dunia pernaskahan, yaitu KRAT Supardjo Dwijo Hadinagoro, M.Hum, Asep Yudha Wirajaya, S.S., M.A, Prof. Dr. Bani Sudardi, dan Adi Deswijaya, M.Hum. Melalui perbincangan ini, para narasumber membuka wawasan publik mengenai pentingnya naskah Nusantara bagi pemahaman sejarah dan pengetahuan bangsa.
Diskusi dibuka dengan pemaparan mengenai Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), komunitas yang berdiri sejak 1996 di Jakarta. Hingga kini, organisasi ini telah memiliki ratusan anggota di berbagai wilayah Indonesia dan mancanegara. Manassa menjadi wadah bagi peneliti, filolog, arsiparis, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap pelestarian naskah Nusantara.
Menurut Asep Yudha Wirajaya, perkembangan Manassa kini bersifat lintas disiplin ilmu. Anggotanya tidak hanya berasal dari bidang sastra atau filologi, tetapi juga dari rumpun teknik, kedokteran, pertanian, antropologi, hingga ilmu-ilmu terapan lain. Keberagaman latar belakang ini menunjukkan bahwa naskah Nusantara menyimpan khazanah pengetahuan yang sangat luas.
KRAT Supardjo Dwijo Hadinagoro menambahkan bahwa naskah kuno kerap menjadi sumber informasi penting bagi berbagai penelitian modern. Fakultas teknik, misalnya, membutuhkan dokumentasi arsitektur tradisional dalam naskah. Dunia kedokteran memanfaatkan informasi tentang tanaman obat yang tercatat dalam teks-teks lama. Hal ini membuktikan bahwa kandungan naskah bukan hanya budaya, tetapi juga sains, kesehatan, dan pengetahuan praktis masyarakat masa lalu.
Dalam penjelasannya, Asep Yudha juga menegaskan bahwa Manassa telah berkembang sebagai komunitas internasional. Selain memiliki komisariat di berbagai provinsi Indonesia, organisasi ini juga menjangkau Jepang, Belanda, Jerman, Australia, hingga Amerika. Banyak akademisi dan pegiat budaya dari berbagai negara memiliki minat besar terhadap naskah Nusantara, terutama untuk penyelamatan dan pengkajian isinya.
Manassa juga aktif dalam kegiatan mitigasi bencana berbasis kearifan lokal. Dalam sejumlah naskah kuno ditemukan catatan mengenai pagebluk, ilmu titen, serta cara nenek moyang dalam merespons bencana alam. Pengetahuan ini kemudian dikaji secara ilmiah. Manassa bahkan pernah berkolaborasi dengan BNPB dalam pemetaan mitigasi gempa dan tsunami menggunakan informasi historis dari naskah.
Dalam bidang keanggotaan, Manassa membuka ruang yang inklusif untuk siapa saja. Mahasiswa, peneliti independen, hingga masyarakat umum dapat bergabung melalui pendaftaran daring. Mereka yang menjadi anggota dapat mengikuti simposium, pelatihan aksara, serta program penerbitan ilmiah yang diselenggarakan oleh Manassa.
Salah satu langkah konkret komunitas ini adalah mendorong advokasi penyelamatan naskah milik masyarakat. Tahun 2025, DAK non-fisik disalurkan ke Jawa Tengah untuk pendataan dan identifikasi naskah-naskah berharga. Langkah ini bertujuan mengurangi risiko hilangnya naskah yang masih tersimpan di tangan privat karena minimnya kesadaran mengenai nilai historis dan ilmiahnya.
Selain itu, para narasumber juga mengungkapkan bahwa karakter pemilik naskah sangat beragam. Beberapa pemilik bersedia membuka akses, namun ada pula yang masih tertutup, seperti di wilayah Sukoharjo. Oleh karena itu, pendekatan terhadap masyarakat menjadi penting agar upaya pelestarian dapat berjalan tanpa mengabaikan nilai budaya dan sentimental pemilik.
Manassa saat ini juga sedang memperjuangkan pengakuan naskah pengobatan atau jamu sebagai bagian dari Memory of the World (MOW) UNESCO. Sebelumnya, Jawa Tengah berhasil mengajukan Babad Diponegoro sebagai bagian dari Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan kemudian masuk ke MOW. Usaha serupa kini diarahkan untuk naskah yang berkaitan dengan pengetahuan kesehatan tradisional Nusantara.
Pada akhir diskusi, para narasumber menyampaikan pesan penting bagi generasi muda. KRAT Supardjo mengajak anak muda untuk lebih mengenal warisan leluhur melalui naskah kuno. Adi Deswijaya menekankan perlunya memasyarakatkan isi manuskrip agar berdampak luas dalam kehidupan modern. Asep Yudha mengingatkan bahwa naskah menyimpan berbagai pengetahuan yang relevan untuk masa kini.
Prof. Dr. Bani Sudardi menutup sesi dengan refleksi mendalam bahwa bangsa Indonesia memiliki masa depan sekaligus masa lalu yang tak terpisahkan. Dari masa depan kita belajar teknologi modern, tetapi dari masa lalu kita menemukan nilai moral, identitas, dan pemikiran nenek moyang dalam naskah-naskah kuno. Keduanya harus berjalan berdampingan untuk membangun bangsa yang berakar kuat namun tetap progresif.
Penulis: Syarifa Farah Azizah & Hanifah Rohadhotul Aisy
