Tapak di Batu Hitam: Misteri “Situs Bimo” di Pacitan yang Terancam Musnah
Oleh: Amat Taufan (*)
(*) Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pacitan
Di balik rimbun semak dan debu tambang batu di Desa Tanjungsari, Kecamatan Pacitan, tersimpan sebuah jejak masa lampau yang nyaris terlupakan. Sebuah lempengan batu hitam memanjang, sunyi, dan tak banyak dikenal orang. Warga menyebutnya Situs Tapak Bimo—sebuah artefak yang diyakini menyimpan kisah perebutan kekuasaan di tanah Jawa ratusan tahun silam.
Batu itu berukuran sekitar dua meter dengan lebar setengah meter. Sekilas tampak seperti bongkahan batu biasa. Namun bila didekati, pada bagian atasnya terlihat jelas jejak telapak kaki kanan yang terpahat alami, seolah menjadi penanda kehadiran seseorang dari masa lalu. Di bagian bawah batu, tampak goresan tulisan yang nyaris pudar—halus, kecil, dan samar—diduga menggunakan aksara Palawa atau Jawa Kuno.
Situs Tapak Bimo pertama kali ditemukan oleh Rudi Prasetyo, guru SMP Negeri 1 Arjosari. Saat itu, ia tengah menyusuri kawasan semak di wilayah hutan pembangunan, area yang kini masuk dalam zona pertambangan batu. Penemuan tersebut tidak disengaja, namun sejak saat itu, perhatian terhadap keberadaan batu misterius ini mulai tumbuh, meski belum sepenuhnya mendapat perlindungan resmi.
Ironisnya, lokasi situs berada di wilayah tambang yang dikelola oleh salah satu pengusaha besar di Pacitan. Tanpa status cagar budaya, batu bersejarah itu terancam dihancurkan dan diolah menjadi batu split—lenyap tanpa sempat dibaca sejarahnya.
Dalam tradisi Nusantara kuno, jejak telapak kaki kerap menjadi tetenger atau penanda kekuasaan. Jejak semacam ini biasanya dikaitkan dengan raja atau tokoh penting yang menandai wilayah kekuasaannya. Kesamaan simbol inilah yang membuat sejumlah pemerhati sejarah menduga Situs Tapak Bimo berasal dari masa Kerajaan Tarumanegara, sekitar abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, pada masa pemerintahan Raja Purnawarman.
Dugaan tersebut diperkuat dengan temuan situs serupa di wilayah Ciampea, Bogor, yang juga menampilkan telapak kaki sebagai simbol legitimasi kekuasaan. Tulisan samar pada batu Tapak Bimo ditafsirkan sebagai pernyataan teritorial—bahwa wilayah tersebut berada dalam kekuasaan raja, dan siapa pun yang berusaha menguasainya akan mengalami kehancuran, sebagaimana batu yang tampak terbelah di lokasi situs.
Jika dugaan ini benar, maka Pacitan bukanlah wilayah pinggiran dalam sejarah Jawa kuno. Sebaliknya, daerah ini diduga pernah menjadi ruang perebutan pengaruh dan kekuasaan, wilayah terbuka yang strategis dan diperebutkan para penguasa Nusantara.
Namun, misteri Tapak Bimo kini berpacu dengan waktu. Aktivitas pertambangan terus berjalan, sementara batu bersejarah itu belum tersentuh penelitian arkeologis mendalam. Tanpa perhatian serius dari pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat, Situs Tapak Bimo bisa hilang sebelum kisahnya sempat terungkap.
Di tengah ancaman itu, harapan masih disematkan—bahwa jejak di batu hitam ini tidak hanya menjadi saksi bisu masa lalu, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga warisan sejarah. Sebab, ketika sebuah situs musnah, yang hilang bukan sekadar batu, melainkan identitas dan ingatan kolektif sebuah daerah.
“Mugio Gusti Allah SWT paring berkahipun dhateng kita sedaya, bumi lan langit sak isine.”
