Wayang Blabak: Jejak Panji dan Spiritualitas Hidup dari Pacitan Kota Misteri

Wayang Blabak: Jejak Panji dan Spiritualitas Hidup dari Pacitan Kota Misteri
SHARE

PRABANGKARANEWS, PACITAN – Bismillah. Salam Literasi Sejarah. Pacitan Kota Misteri.  Di sebuah sudut Pacitan, tepatnya di Desa Nanggungan, tersimpan sebuah karya seni yang memadukan sejarah, spiritualitas, dan kreativitas lokal: Situs Wayang Blabak. Di tangan seorang seniman, budayawan sekaligus guru SMPN 1 Arjosari, Rudi Prasetyo, tradisi panjang Wayang Beber Pacitan menemukan bentuk baru yang kokoh: ukiran kayu sepanjang dua meter dengan lebar 45 sentimeter.

Rudi Prasetyo—yang juga dikenal sebagai dalang Wayang Beber—menghadirkan kembali kisah Panji, salah satu cerita tertua Nusantara, dalam medium yang tidak lazim: papan kayu atau blabak. Karya ini menjadi pengembangan langsung dari Wayang Beber Donorojo Pacitan, yang selama berabad-abad dituturkan dengan media kertas daluang dari kulit kayu saeh (paper mulberry).

Baca Juga  IDXCarbon Catat Pertumbuhan 247%, Indonesia Ungguli Jepang dan Malaysia

Jika Wayang Beber klasik digelar dengan membuka lembaran kertas dari kiri ke kanan sesuai alur cerita, Wayang Blabak mempertahankan prinsip serupa. Namun kali ini, sang dalang mengisahkan lakon Panji dari ukiran kayu yang tersusun berurutan, membuka layar kehidupan Panji tahap demi tahap.

Situs Wayang Blabak yang diciptakan Rudi Prasetyo mengangkat sebuah lakon yang sarat makna: “Perjalanan Raden Panji Menuju Kasempurnaan Hidup yang Penuh Derita.” Kisah ini tidak hanya menampilkan perjalanan fisik Panji, tetapi juga perjalanan batinnya—menuju kasampurnan, kemuliaan sejati yang hanya dapat dicapai melalui kesederhanaan, laku prihatin, dan keteguhan hati.

Dalam penjelasan sang kreator, filosofi Wayang Blabak mengingatkan bahwa manusia hidup di dunia tidak lain adalah menapaki jalan menuju kesempurnaan. Jalan itu tidak selalu mudah: penuh cobaan, kesunyian, dan kerendahan hati. Namun justru di situlah letak kemuliaan sejati, jalan menuju alam kalanggengan.

Di era modern yang serba cepat dan instan, Wayang Blabak menjadi artefak langka. Ia bukan hanya seni ukir; ia adalah jembatan pengetahuan, warisan spiritual, dan pengingat perjalanan budaya Pacitan sejak berabad-abad lalu. Tradisi pementasan Wayang Blabak bahkan mengikuti pakem Wayang Beber yang sudah ada sejak tahun 1692 M, menjadikannya salah satu bentuk pelestarian budaya tertua yang masih bertahan.

Baca Juga  [VIDEO] Pantai Srau: Keindahan Alami yang Menyegarkan dan Komitmen Kebersihan

Pada akhirnya, Wayang Blabak adalah doa yang diukir:

Mugio Gusti Allah paring berkahipun dhateng engsun, keluarga, lan para penerusipun Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, bumi langit sak isiné.

Sebuah permohonan tulus yang menyatukan seni, budaya, dan rasa syukur manusia Jawa kepada Sang Pencipta. (Amat Taufan)