Panembromo Ngleluri Budaya Jawi, STKIP PGRI Pacitan Tanamkan Karakter dan Jiwa Wirausaha Mahasiswa

Panembromo Ngleluri Budaya Jawi, STKIP PGRI Pacitan Tanamkan Karakter dan Jiwa Wirausaha Mahasiswa
Panembromo Ngleluri Budaya Jawi digelar di Student Hall STKIP PGRI Pacitan, Kamis (8/1/2026)
SHARE

PRABANGKARANEWS, Pacitan – Perguruan tinggi tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga arena pembentukan karakter dan mental mahasiswa. Prinsip inilah yang diwujudkan STKIP PGRI Pacitan melalui kegiatan Panembromo Ngleluri Budaya Jawi yang digelar di Student Hall STKIP PGRI Pacitan, Kamis (8/1/2026) pagi.

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk pentas seni Panembromo dan bazar UMKM tersebut diikuti oleh mahasiswa semester 1 dan semester 3 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Sebanyak 65 jenis produk makanan dan minuman hasil kreasi mahasiswa dipamerkan dan dipasarkan dalam kegiatan tersebut.

Ketua STKIP PGRI Pacitan, Bakti Sutopo, menegaskan bahwa Panembromo bukan sekadar agenda seremonial kampus, melainkan bagian dari implementasi Mata Kuliah Kewirausahaan yang dirancang berbasis praktik nyata.

“Kegiatan Panembromo Ngleluri Budaya Jawi ini merupakan implementasi Mata Kuliah Kewirausahaan. Mahasiswa tidak hanya menerima teori di kelas, tetapi langsung mempraktikkan nilai-nilai yang dipelajari,” ujar Bakti Sutopo.

Menurutnya, konsep Panembromo dipilih karena sarat dengan nilai budaya dan pembentukan karakter. Sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan, mahasiswa dituntut terlibat aktif, bekerja sama, serta berani tampil di ruang publik.

“Panembromo, jika dilihat dari prosesnya, mulai persiapan, penampilan hingga penutupan kegiatan, mengandung banyak nilai. Mahasiswa belajar tidak hanya secara teoretik, tetapi juga praktik langsung,” jelasnya.

Bakti menambahkan bahwa penguatan nilai budaya menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter mahasiswa. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, mahasiswa perlu tetap memiliki kecintaan terhadap budaya lokal, khususnya budaya Jawa yang sarat nilai adiluhung.

“Melalui Panembromo ini, mahasiswa belajar mencintai budaya sendiri. Budaya Jawa mengajarkan unggah-ungguh, etika, kerja sama, dan tanggung jawab. Nilai-nilai ini sangat relevan bagi calon pendidik,” katanya.

Selain aspek budaya, kegiatan ini juga menanamkan jiwa kewirausahaan melalui bazar UMKM yang menampilkan beragam produk inovatif mahasiswa, mulai dari makanan ringan, minuman kekinian, hingga olahan tradisional dengan kemasan modern.

Baca Juga  Projo Pacitan: Seruan Penurunan Spanduk Salah Satu Calon untuk Keadilan Pilkada

Menurut Bakti, kewirausahaan tidak semata-mata soal mencari keuntungan, tetapi juga membangun mental dan karakter.

“Di dalamnya ada internalisasi nilai kewirausahaan, seperti ketekunan, ketangguhan, tidak gengsi, dan keberanian mencoba. Ini penting untuk memperkuat karakter mahasiswa,” paparnya.

Ia menyadari bahwa sebagian besar lulusan STKIP PGRI Pacitan diproyeksikan menjadi guru atau tenaga kependidikan. Namun demikian, kesiapan mental menghadapi realitas sosial dan ekonomi tetap menjadi bekal penting.

“Mahasiswa perlu memiliki kesadaran berwirausaha. Meski kelak menjadi guru, mereka harus siap secara mental menghadapi realitas sosial di masyarakat,” ungkapnya.

Kesiapan mental tersebut, lanjut Bakti, harus ditanamkan sejak awal masa perkuliahan. Oleh karena itu, mahasiswa semester 1 dan semester 3 dilibatkan secara langsung dalam kegiatan Panembromo.

Baca Juga  Jubir Penanganan Covid-19: Kelompok Usia Muda Bisa Terkena dan Tanpa Gejala

Mahasiswa semester 1 mengikuti kegiatan ini sebagai pengenalan kewirausahaan, sementara mahasiswa semester 3 berada pada tahap penguatan praktik. Kolaborasi lintas semester ini diharapkan menumbuhkan budaya belajar bersama dan saling menguatkan.

“Panembromo ini diikuti mahasiswa semester tiga, sementara mata kuliah kewirausahaan ada di semester satu. Jadi ada proses belajar yang berkelanjutan,” tambahnya.

Ke depan, Bakti berharap Panembromo Ngleluri Budaya Jawi dapat menjadi model pembelajaran kontekstual yang terus dikembangkan di STKIP PGRI Pacitan. Integrasi antara budaya, kewirausahaan, dan pendidikan dinilai relevan dengan kebutuhan zaman.

“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga menjadi bekal mahasiswa untuk membangun kemandirian ekonomi di masa depan,” pungkasnya.