Rembug di Bawah Pepohonan: Wajah Kearifan Lokal Pringkuku Pacitan Tahun 1938

Rembug di Bawah Pepohonan: Wajah Kearifan Lokal Pringkuku Pacitan Tahun 1938
SHARE

PRABANGKARANEWS, PACITAN – Sebuah foto hitam-putih yang dikutip dari Joekes, L. V. (1938) Baai van Patjitan merekam adegan sederhana namun sarat makna: sekelompok penduduk Pringkuku, Pacitan, duduk melingkar di ruang terbuka, berlindung di bawah rimbun pepohonan. Tanpa bangunan resmi, tanpa kursi, tanpa mimbar—namun justru di sanalah denyut kebudayaan lokal bekerja dengan utuh.

Duduk melingkar di atas tanah bukan sekadar pilihan posisi, melainkan cerminan nilai. Pola ini menandakan tradisi musyawarah yang egaliter, di mana setiap orang hadir sejajar, tanpa jarak hierarkis yang mencolok. Dalam tradisi Jawa, inilah yang dikenal sebagai rembug bebarengan—berunding bersama demi mufakat. Keputusan tidak dipaksakan, melainkan dirajut melalui kesepahaman kolektif.

Pertemuan yang berlangsung di alam terbuka memperlihatkan relasi akrab masyarakat Pringkuku dengan lingkungannya. Pepohonan berfungsi sebagai atap alami, tanah sebagai alas, dan udara bebas sebagai saksi. Alam bukan hanya latar, melainkan bagian dari kehidupan sosial dan spiritual. Bagi masyarakat desa di Pacitan kala itu, alam adalah ruang hidup, ruang temu, sekaligus ruang budaya.

Baca Juga  Personil Gabungan Disiagakan Wujudkan Kondusifitas Ramadhan 1444 H di Wilayah Kecamatan Pacitan

Ekspresi tubuh yang tenang dan jarak duduk yang rapat menggambarkan ikatan sosial yang kuat. Tidak ada gestur tergesa, tidak ada sikap saling mencurigai. Inilah wajah guyub rukun, nilai yang diyakini sebagai fondasi ketahanan masyarakat: rukun agawe santosa. Kebersamaan menjadi sumber kekuatan, bahkan di tengah situasi kolonial yang menekan. Pacitan  antara tahun 1933-1937, diperintah oleh  R.T Soerjo Hadijokro.

Menariknya, meski suasana tampak informal, tata krama tetap dijaga. Cara duduk bersila, sikap tubuh yang tertib, serta busana yang sopan mencerminkan kuatnya unggah-ungguh Jawa. Etika sosial tidak luntur hanya karena pertemuan berlangsung di alam terbuka; justru di situlah nilai-nilai itu hidup secara alami.

Baca Juga  Refleksi Kemerdekaan: Dosen FIB UNS Ajak Masyarakat Melalui Literasi Bersama RRI

Forum semacam ini juga menjadi ruang penting bagi tradisi lisan. Tanpa dokumen tertulis, pengetahuan adat, petuah hidup, hingga kesepakatan sosial diwariskan dari mulut ke mulut. Di bawah pepohonan itulah ingatan kolektif dirawat dan diteruskan lintas generasi.

Pakaian Orang Pacitan

Dalam konteks kolonialisme, foto ini menjadi penanda ketahanan budaya. Di tengah hadirnya sistem administrasi asing, masyarakat Pringkuku tetap mempraktikkan cara hidup mereka sendiri—sunyi, sederhana, namun kukuh.

Kesederhanaan juga tampak jelas dari busana yang dikenakan. Para lelaki mengenakan baju polos berwarna terang, berlengan panjang atau pendek, dipadukan dengan celana longgar atau kain sebatas betis. Beberapa lengan digulung, menandakan pakaian ini adalah busana kerja sehari-hari, bukan pakaian seremoni. Kain dan sarung dililitkan secara praktis di pinggang, tanpa lipatan rumit—menegaskan kuatnya tradisi berpakaian Jawa di pedesaan.

Baca Juga  KAFIB UNS Gelar Rapat Virtual, Sepakati Pembentukan Yayasan Adyayana Budaya Universitas Sebelas Maret

Sebagian kepala ditutup iket sederhana, sebagian lain dibiarkan terbuka, menyesuaikan suasana. Iket bukan hanya penanda identitas budaya, tetapi juga pelindung dari terik matahari. Mayoritas kaki dibiarkan telanjang, menapak langsung ke tanah—simbol kedekatan dengan alam, kesahajaan hidup, sekaligus realitas ekonomi masyarakat desa saat itu.

Tidak tampak perbedaan mencolok dalam busana. Semua terlihat setara, tanpa atribut status sosial. Keseragaman yang alami ini mencerminkan nilai prasaja, tepa slira, serta sikap ora gumunan, ora kagetan—tidak berlebihan, tidak silau, tidak terkejut oleh gemerlap dunia luar.

Foto ini, dengan segala kesenyapannya, menjadi arsip visual yang berbicara lantang: tentang masyarakat yang hidup dari kebersamaan, merawat nilai, dan bertahan dengan cara mereka sendiri.

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto