Sasmito Langit: Ketika Hidup Mengajarkan Tempat Kembali

Sasmito Langit: Ketika Hidup Mengajarkan Tempat Kembali
SHARE

PRABANGKARANEWS – Ada saat dalam hidup ketika manusia berhenti berlari, lalu menengadah. Bukan untuk mencari jawaban dari sesama, melainkan untuk menyadari satu kebenaran paling hakiki: tempat kembali manusia hanyalah kepada Allah SWT. Inilah yang oleh sebagian orang dimaknai sebagai sasmito langit—isyarat halus dari semesta yang mengajak manusia memahami arti kehidupan dengan lebih dalam.

Dalam perjalanan hidup, manusia kerap menggantungkan harapan pada sesama makhluk. Pada manusia lain, pada jabatan, pada profesi, bahkan pada pengakuan dunia. Namun waktu perlahan mengajarkan bahwa makhluk, betapapun dekat dan dicintai, tetap memiliki keterbatasan dan kelemahan yang sama. Dari sanalah lahir kekecewaan, luka, dan kegelisahan.

Baca Juga  Harapan Suyadi, S.Pd.,M.Pd; terhadap Pelestarian dan Pengembangan Budaya di Pacitan

Bukan karena makhluk itu jahat, tetapi karena hakikat makhluk memang tidak sempurna.

Kesadaran ini bukan untuk menjauhkan diri dari sesama, melainkan untuk menata ulang sandaran hidup. Bahwa menggantungkan diri sepenuhnya kepada makhluk akan berujung rapuh, sementara bersandar kepada Sang Pencipta menghadirkan ketenangan yang tidak mudah runtuh.

Dalam perspektif sasmito langit, setiap profesi—apa pun bentuknya—bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah jalan pengabdian. Ketika niat diluruskan semata-mata untuk Allah SWT, maka bekerja bukan lagi soal pujian atau pengakuan, melainkan bagian dari ibadah yang sunyi namun bermakna. Pada titik ini, manusia belajar bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh siapa yang melihat, tetapi oleh siapa yang menerima niatnya.

Baca Juga  Viral di Media Sosial, Petugas Tetap Sabar Dimarahi Wisatawan dalam Jalankan Tugas

Janji Allah SWT selalu datang tepat pada waktunya. Tidak selalu cepat, tidak selalu sesuai harapan manusia, tetapi selalu tepat sesuai hikmah-Nya. Kegagalan, keberhasilan, kekecewaan, dan kegembiraan sejatinya bukanlah tujuan, melainkan rona-rona yang mewarnai perjalanan panjang bernama kehidupan.

Ada hari ketika manusia jatuh, ada masa ketika ia berdiri tegak. Ada saat tertawa, ada waktu menangis dalam diam. Semua itu bukan untuk disesali atau dibanggakan berlebihan, melainkan untuk disyukuri sebagai proses pendewasaan jiwa.

Sasmito langit mengajarkan bahwa hidup bukan tentang menghindari luka, tetapi tentang memahami maknanya. Bukan tentang menolak kegagalan, tetapi tentang mengambil hikmah darinya. Dan bukan tentang mengejar dunia, tetapi tentang menempatkan dunia di tangan—bukan di hati.

Baca Juga  Sambut Pergantian Tahun 2025–2026, Pemkab Pacitan Gelar Istighosah dan Doa Bersama

Pada akhirnya, ketika manusia mampu melepaskan sandaran palsu dan kembali menggantungkan hidup sepenuhnya kepada Allah SWT, di situlah ketenangan sejati bermula. Sebab hidup, dengan segala naik turunnya, hanyalah perjalanan pulang menuju Sang Pemilik Kehidupan.