Ekspor Mobil China Melonjak Tajam, Dominasi Global Kian Tak Terbendung
PRABANGKARANEWS.COM – China telah secara tegas memantapkan dirinya sebagai eksportir mobil terbesar di dunia, melampaui Jepang dan Jerman dengan selisih yang signifikan. Berdasarkan data yang dihimpun oleh McKinsey, China hanya mengekspor sekitar 700.000 kendaraan pada tahun 2019, namun pada tahun 2024 angka tersebut melonjak menjadi 5,5 juta unit. Jepang, yang memimpin ekspor dengan 4,8 juta kendaraan pada 2019, justru mengalami penurunan menjadi 4,2 juta unit pada 2024.
Salah satu pendorong utama lonjakan ini adalah booming kendaraan listrik (EV). EV menyumbang 40% dari ekspor mobil penumpang China pada tahun 2024, seiring dengan keberhasilan BYD melampaui Tesla sebagai produsen EV terbesar di dunia. BYD menjual hampir 4,3 juta unit EV pada 2024, dibandingkan dengan Tesla yang menjual 1,8 juta unit, dilansir ari media sosial @ Seasia.news selasa (17/3/26).
Pada paruh pertama (H1) 2025, Chery memimpin ekspor dengan hampir 545.000 unit, diikuti oleh BYD dengan 443.000 unit, meningkat 118% dibandingkan tahun sebelumnya. SAIC, terutama melalui merek MG, menempati posisi ketiga dengan hampir 243.000 unit ekspor. Proyeksi pada Juli 2025 menunjukkan bahwa ekspor China berpotensi melampaui 7 juta unit pada akhir tahun jika tren ini terus berlanjut.
Mobil listrik dan hybrid asal China seringkali dibanderol 15 hingga 30% lebih murah dibandingkan pesaing dari Eropa, sekaligus menawarkan fitur standar yang lebih lengkap. Hal ini membuatnya semakin menarik bagi konsumen global yang mengutamakan nilai. Merek seperti BYD, SAIC (MG), Chery, dan Geely menjadi motor utama ekspansi global, dengan BYD kini menempati posisi sebagai penjual EV terbesar kedua di Eropa setelah Tesla.
Timur Tengah kini muncul sebagai pasar tujuan yang semakin penting bagi kendaraan buatan China, dengan ekspor ke Uni Emirat Arab dan Arab Saudi diperkirakan terus meningkat. Sementara itu, Eropa tetap menjadi pasar pertumbuhan utama meskipun terdapat tambahan tarif dari Uni Eropa, karena produsen China beralih ke kendaraan PHEV dan HEV untuk mengatasi hambatan perdagangan.
