Ilmu Lingkungan, Agoes Hendriyanto
MATA KULIAH ILMU LINGKUNGAN
Dr. AGOES HENDRIYANTO
Jadwal
Selasa Kelas 2C , 07.30 -09.00 R41, dan 2 D 14.00-15.30 R. 41
Rabu Kelas 2B 07.30 – 09.00 R 16
Kamis, 2A 10.30 – 12.00 WIB R. 40 dan 2E 12.30 – 14.00
RPL Secara Daring Jum’at , 12.30-
DESKRIPSI MATA KULIAH LINGKUNGAN
Ilmu lingkungan adalah disiplin ilmiah yang menggabungkan ilmu fisika, biologi, kimia, ekologi, ilmu tanah, geologi, sains atmosfer, dan geografi. Ilmu tersebut untuk mempelajari lingkungan dan solusi dari permasalahan lingkungan yang sangat kompleks.
Ilmu lingkungan menyediakan pendekatan interdisipliner yang terintegrasi secara kuantitatif untuk mempelajari sistem lingkungan.[1] Dasar dari ilmu lingkungan sekaligus penerapannya yaitu pada ekologi.[2]
Ilmu lingkungan memiliki prinsip dasar yaitu prinsip interaksi, ketergantungan, keanekaragaman, keselarasan, kegunaan, arus informasi aktual, dan keberlanjutan.[3] Secara fisik, ilmu lingkungan meliputi segala unsur dan faktor yang mempengaruhi kualitas lingkungan hidup manusia. Ilmu lingkungan berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, hukum, filsafat, dan agama.[4] Cabang keilmuan dari ilmu lingkungan sangat beragam karena ilmu lainnya dapat diterapkan pada kajian lingkungan.[5]
Ilmu lingkungan merupakan ilmu murni dengan sudut pandang yang tunggal. Sudut pandang llmu lingkungan berkaitan dengan pertahanan kehidupan manusia yang kompleks di dalam lingkungan alam dengan menggunakan metode ilmiah. I
lmu lingkungan menggabungkan antara hukum manusia dan hukum alam berdasarkan teori, perangkat dan penerapannya. Landasan yang digunakan dalam penerapannya ialah nilai kemanusiaan melalui keterampilan profesional dan sistematika ilmiah. Ilmu lingkungan mengatur sikap atau perilaku manusia dalam berbagai disiplin ilmiah yang saling berkaitan satu sama lain.
Sudut pandang keilmuannya berkaitan dengan persoalan lingkungan yang dihadapi oleh manusia. Ilmu lingkungan dapat diarahkan ke dalam berbagai disiplin ilmiah.[8]
PERTEMUAN 1 KONTRAK KULIAH ILMU LINGKUNGAN
Pertemuan 2-3 Ekosistem
Ekosistem adalah suatu sistem atau lingkungan yang terdiri dari berbagai jenis organisme yang hidup bersama-sama dan berinteraksi satu sama lain serta dengan lingkungan fisik yang mereka tinggali.
Ekosistem mencakup segala sesuatu yang terdapat dalam suatu lingkungan.
Ekosistem dikelompokan menjadi 2 yaitu:
- Faktor biotik ( tumbuhan, hewan, mikroorganisme) dan
- Faktor abiotik (udara, air, dan tanah).
Faktor Biotik
Tumbuhan sebagai produsen menghasilkan makanan melalui fotosintesis, sedangkan hewan sebagai konsumen mendapatkan makanan dari tumbuhan atau hewan lainnya. Selain itu, mikroorganisme juga memiliki peran penting dalam mengurai bahan organik menjadi zat yang dapat diserap oleh tumbuhan.

Ekosistem terbentuk melalui interaksi antara organisme dan lingkungan fisik mereka. Jika masih terdapat interaksi antara organisme dalam suatu ekosistem salah satu ekosistemnya masih baik. Organisme dalam ekosistem saling bergantung satu sama lain dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Faktor abiotik
Lingkungan fisik juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Faktor-faktor seperti suhu, kelembaban, cahaya matahari, dan nutrisi tanah mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan organisme dalam ekosistem. Pencemaran dan kerusakan lingkungan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem, sehingga penting untuk menjaga kualitas lingkungan untuk menjaga kelestarian ekosistem.
Peran Manusia
Manusia (populasi) kumpulan dari individu juga merupakan bagian dari ekosistem dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan tau merusak ekosistem. Manusia dapat mempengaruhi ekosistem dengan aktivitas seperti pertanian, industri, dan transportasi.
Manusia sebagai kalifah di bumi harus arif bijaksana dalam menjaga biosfer agar komunitas dalam biosfer bisa melangsungkan proses hidupnya. Interaksi terutama dalam proses makan memakan antara individu dari tingkat rendah ke tertinggi, setelah individu tingkat tinggi mati bakteri pengurai dapat melaksanakan tugasnya untuk menjaga kesuburan tanah. Tanah yang subur kaya akan hara tanaman dan akan menjaga kelangsungan hidup tanaman sebagai produsen.
Hubungan
Manusia – Ilmu Pengetahuan – Kebutuhan Manusia – Produksi (Pangan-Papan-Sandang-Tersier)-Teknologi – Mempengaruhi Lingkungan
🌍 1. Manusia
-
Makhluk yang memiliki akal, naluri, dan kebutuhan yang terus berkembang.
-
Mempunyai hasrat untuk bertahan hidup, meningkatkan kualitas hidup, dan mengeksplorasi dunia sekitarnya.
📚 2. Ilmu Pengetahuan
-
Lahir dari rasa ingin tahu manusia.
-
Dikembangkan melalui observasi, eksperimen, dan refleksi terhadap fenomena alam dan sosial.
-
Ilmu pengetahuan menjadi dasar untuk memahami alam, merancang alat, dan menciptakan sistem produksi yang efisien.
🧩 3. Kebutuhan Manusia
-
Kebutuhan primer: pangan, papan (tempat tinggal), sandang (pakaian)
-
Kebutuhan sekunder dan tersier: transportasi, komunikasi, hiburan, pendidikan, dll.
-
Ilmu pengetahuan dan kreativitas digunakan untuk memenuhi kebutuhan ini secara lebih cepat, murah, dan praktis.
🏭 4. Produksi
Dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui berbagai sektor:
-
Pangan: pertanian, peternakan, perikanan, industri makanan
-
Papan: konstruksi, arsitektur, material bangunan
-
Sandang: tekstil, mode, industri pakaian
-
Tersier: jasa, teknologi informasi, pariwisata, hiburan
Produksi ini semakin masif dan kompleks seiring pertumbuhan populasi dan peningkatan standar hidup.
Manusia jangan rakus dalam melakukan kegiatan tersebut dengan memperhatikan dampaknya pada lingkungan serta melakukan tindakan untuk mengurangi dampak negatifnya. Pencemaran udara, air, tanah sebagai akibat aktifitas manusia yang sanat meningkat.
Mungkin manusia harus sadar bahwa alam yang semakin rusak juga akan mengancam keselamatan manusia itu sendiri. Pertambangan, pembalakan liar, serta kegiatan merusak lingkungan lainnya. Kendaraan, pabrik yang menggunakan bahan bakar fosil harus dikurangi. Sisi lain peggunaan teknologi ramah lingkungan harus ditingkatkan.
Dalam menjaga keseimbangan ekosistem, perlu dilakukan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan pengurangan emisi gas rumah kaca. Hal ini dapat dilakukan melalui penggunaan energi terbarukan, pengelolaan sampah yang baik, dan konservasi alam. Dengan menjaga ekosistem yang sehat, kita dapat memastikan keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di bumi.

Tingkatan organisasi kehidupan dari yang paling rendah hingga tertinggi adalah sebagai berikut:
-
Individu – satu makhluk hidup tunggal, misalnya satu pohon, satu manusia, atau satu hewan.
-
Populasi – kumpulan individu sejenis yang hidup di tempat dan waktu yang sama, misalnya populasi rusa di hutan.
-
Komunitas – gabungan berbagai populasi yang hidup bersama dan saling berinteraksi di suatu wilayah, misalnya tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme di hutan.
-
Ekosistem – hubungan antara komunitas makhluk hidup dengan lingkungan tak hidupnya (tanah, air, udara, cahaya).
-
Bioma – kumpulan ekosistem yang sangat luas dengan iklim dan jenis vegetasi yang serupa, seperti bioma hutan hujan tropis, gurun, atau tundra.
-
Biosfer – seluruh wilayah di bumi yang mendukung kehidupan, mencakup semua bioma yang ada di planet ini.
Tugas Mandiri 1
Silakan dibaca tulisan di bawah ini dengan judul ekosistem !
Simpulkan hasil dari bacaan dan ditulis di kertas folio dan dikumpulkan pada saat pertemuan luring minggu depan
Pertemuan 4
Macam-macam Bioma di Dunia
Bioma adalah wilayah geografis yang luas dengan kondisi lingkungan tertentu, serta dihuni oleh komunitas tumbuhan dan hewan yang khas. Bioma juga dapat disebut sebagai zona kehidupan utama atau unit biotik geografis terbesar.
Salah satu contoh bioma yaitu bioma taiga terdapat di negara Rusia dan Kanada. Selain Taiga, terdapat 7 macam bioma lainnya yaitu bioma: gurun, stepa, sabana, hutan basah atau hutan hujan tropis, hutan gugur, taiga dan tundra.
1. Bioma Gurun

Bioma gurun merupakan salah satu jenis ekosistem darat yang memiliki kondisi sangat kering dengan tingkat curah hujan yang sangat rendah, umumnya kurang dari 25 cm setiap tahun. Wilayah ini biasanya didominasi oleh hamparan pasir atau batuan dengan vegetasi yang sangat terbatas. Meskipun demikian, flora dan fauna yang hidup di bioma gurun telah memiliki kemampuan adaptasi khusus untuk bertahan dalam kondisi kekurangan air dan suhu yang ekstrem.
Lingkungan gurun memiliki karakteristik tanah yang kering, suhu yang dapat sangat panas pada siang hari dan dingin pada malam hari, serta minimnya sumber air. Oleh karena itu, tumbuhan dan hewan yang hidup di wilayah ini umumnya memiliki mekanisme khusus, seperti menyimpan air dalam tubuh atau memiliki bentuk fisik tertentu yang membantu mengurangi penguapan.
Bioma gurun banyak ditemukan di beberapa wilayah dunia, antara lain di Benua Afrika, kawasan Semenanjung Arab, serta wilayah Asia Tengah yang memiliki iklim kering dan curah hujan sangat sedikit.
Tumbuhan
2. Bioma Stepa

Bioma stepa adalah padang rumput yang kering dan dingin yang berada di daerah tropis dan subtropis. Bioma ini juga dikenal sebagai padang rumput atau stepa.
Bioma stepa merupakan salah satu jenis ekosistem darat yang berupa padang rumput luas dengan kondisi relatif kering dan curah hujan yang tidak terlalu tinggi. Vegetasi yang mendominasi wilayah ini adalah rumput-rumput pendek dan semak, sementara pepohonan sangat jarang ditemukan karena keterbatasan air.
Secara umum, bioma stepa memiliki iklim yang cenderung kering dengan suhu yang dapat berubah cukup ekstrem, yaitu panas pada musim tertentu dan cukup dingin pada waktu lainnya. Kondisi tanahnya cukup subur sehingga wilayah stepa sering dimanfaatkan sebagai lahan peternakan maupun pertanian di beberapa negara.
Bioma ini sering disebut juga sebagai padang rumput (grassland) atau stepa, dan dapat ditemukan di berbagai wilayah dunia yang berada di daerah tropis maupun subtropis.
3. Bioma Hutan Hujan Tropis

Bioma hutan hujan tropis adalah ekosistem besar yang memiliki curah hujan tinggi dan suhu hangat sepanjang tahun, kaya akan keanekaragaman hayati, dan terletak di sekitar garis khatulistiwa.
Bioma hutan hujan tropis merupakan salah satu ekosistem darat yang memiliki curah hujan sangat tinggi serta suhu yang hangat dan relatif stabil sepanjang tahun. Kondisi iklim tersebut menjadikan wilayah ini sangat subur dan mendukung pertumbuhan berbagai jenis tumbuhan yang lebat dan rapat.
Ekosistem ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati paling tinggi di dunia. Beragam jenis flora seperti pohon besar, liana, dan epifit tumbuh dengan subur, sementara berbagai jenis fauna seperti burung, mamalia, reptil, dan serangga hidup dan berkembang di dalamnya.
Bioma hutan hujan tropis umumnya terletak di sekitar garis khatulistiwa, seperti di kawasan Asia Tenggara, Amerika Selatan, dan Afrika Tengah. Wilayah-wilayah tersebut memiliki iklim lembap yang sangat mendukung terbentuknya hutan yang lebat dan kaya akan kehidupan.
4. Bioma Savana atau Sabana

Bioma sabana merupakan salah satu ekosistem darat berupa padang rumput luas yang berada di wilayah beriklim tropis dan subtropis. Ciri utama bioma ini adalah hamparan rumput yang luas dengan keberadaan pepohonan yang tumbuh jarang-jarang di beberapa bagian.
Selain didominasi rumput, sabana juga dapat berbentuk kawasan dengan tanaman semak, pohon tunggal, atau pohon berkanopi yang tersebar di antara padang rumput. Kondisi tersebut membuat sabana terlihat seperti lahan terbuka dengan vegetasi yang tidak terlalu rapat.
Bioma sabana umumnya berada pada wilayah yang memiliki iklim kering hingga semi-kering atau semi-lembap. Curah hujan di daerah ini tidak terlalu tinggi dan biasanya memiliki musim kemarau yang cukup panjang, sehingga memengaruhi jenis tumbuhan dan hewan yang mampu hidup di lingkungan tersebut
5. Bioma Hutan Gugur

Bioma hutan gugur merupakan salah satu jenis ekosistem darat yang terdapat di wilayah beriklim sedang yang mengalami empat musim, yaitu musim semi, panas, gugur, dan dingin. Ciri utama bioma ini adalah keberadaan pohon-pohon yang menggugurkan daunnya pada musim gugur.
Proses gugurnya daun merupakan bentuk adaptasi tumbuhan untuk menghadapi musim dingin yang bersuhu rendah dan ketersediaan air yang terbatas. Dengan menggugurkan daun, pohon dapat mengurangi penguapan air serta mempertahankan energi selama kondisi lingkungan yang kurang mendukung.
Bioma hutan gugur umumnya dapat ditemukan di beberapa wilayah dunia seperti Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur. Di kawasan ini tumbuh berbagai jenis pohon seperti oak, maple, dan beech yang menjadi ciri khas hutan gugur
6. Bioma Tundra

Bioma tundra merupakan salah satu ekosistem darat yang berada di wilayah dengan suhu sangat rendah. Wilayah ini berupa dataran luas yang dingin dan sebagian besar tanahnya membeku hampir sepanjang tahun, sehingga pepohonan tidak dapat tumbuh dengan baik.
Ciri utama bioma tundra adalah musim dingin yang sangat panjang, suhu udara yang rendah, serta lapisan tanah beku permanen yang disebut permafrost. Kondisi tersebut membuat vegetasi yang tumbuh di daerah tundra sangat terbatas, umumnya hanya berupa lumut, lichen, rumput pendek, dan semak kecil.
Bioma tundra banyak ditemukan di wilayah kutub utara, seperti di Alaska, Kanada, Greenland, dan Siberia. Sebagian kecil juga terdapat di wilayah dekat kutub selatan. Lingkungan yang ekstrem ini membuat hanya sedikit jenis tumbuhan dan hewan yang mampu beradaptasi dan bertahan hidup di dalamnya.
7. Bioma Taiga

Bioma taiga, yang juga dikenal sebagai hutan boreal atau hutan salju, merupakan salah satu ekosistem darat terbesar yang banyak terdapat di wilayah belahan bumi utara. Bioma ini didominasi oleh hutan yang tersusun dari pohon-pohon berdaun jarum atau pohon konifer, seperti pinus, cemara, dan spruce.
Wilayah taiga memiliki ciri iklim yang cukup ekstrem, yaitu musim dingin yang panjang dan sangat dingin, sedangkan musim panasnya relatif singkat. Curah hujan di daerah ini tidak terlalu tinggi dan sebagian besar turun dalam bentuk salju.
Bioma taiga umumnya dapat ditemukan di wilayah Amerika Utara, Eropa Utara, dan Asia Utara, seperti Kanada, Alaska, Skandinavia, dan Siberia. Kondisi lingkungan tersebut membuat flora dan fauna yang hidup di taiga memiliki kemampuan adaptasi khusus untuk bertahan di suhu yang sangat rendah
Lapisan Atmosfer

Samudera Bagian Hidrosfer Bumi 71 % dari Perukaan Bumi

Komponen terbesar samudra adalah air laut, yaitu massa air asin yang kaya akan mineral dan garam terlarut seperti natrium klorida. Air laut ini terus bergerak melalui arus samudra global yang berfungsi mendistribusikan panas di seluruh Bumi serta berinteraksi dengan atmosfer dalam sistem iklim. Selain itu, di dasar samudra terdapat kerak samudra, yaitu bagian dari litosfer yang relatif tipis dan tersusun terutama dari batuan basal yang kaya magnesium dan silikon.
Di atas kerak samudra terdapat sedimen laut yang berupa endapan lumpur, pasir, serta sisa-sisa organisme laut yang telah mati. Sedimen ini banyak ditemukan di wilayah dataran abyssal atau dasar laut yang dalam. Samudra juga menjadi tempat hidup bagi berbagai organisme laut, mulai dari mikroorganisme dan plankton hingga ikan, terumbu karang, dan mamalia laut besar seperti paus.
Selain itu, samudra memiliki komponen kimia yang penting, seperti karbonat dan bikarbonat yang terlarut dalam air laut. Kandungan ini menjadikan samudra sebagai salah satu reservoir karbon terbesar di Bumi yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan iklim global.
Secara geografis, samudra di Bumi terbagi menjadi lima samudra utama, yaitu:
-
Samudra Pasifik (yang terbesar)
-
Samudra Atlantik
-
Samudra Hindia
-
Samudra Arktik
-
Samudra Selatan (Antartika)
PERTEMUAN 5-6 EKOSISTEM
EKOSISTEM PANTAI
Penelitian mengenai struktur komunitas makrobentos ini dilakukan di Pantai Bama, Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, pada tanggal 18–20 Juli 2011. Informasi mengenai keanekaragaman bentos di wilayah tersebut masih sedikit, sehingga diperlukan penelitian mengenai keanekargaman makro bentos untuk mendukung kegiatan konservasi di Taman Nasional Baluran.
Komunitas makrobentos adalah kumpulan hewan bentuk terbesar yang hidup di perairan, seperti bintang laut, remis, kerang, dan karang. Komunitas makrobentos dapat digunakan sebagai bioindikator untuk mengetahui kualitas perairan.
Wilayah pantai Bama memiliki ekosistem pantai berbatu (rocky shore) dan ekosistem lamun (seagrass). Pengambilan data dilakukan dengan metode kuadrat transek di sembilan titik pengamatan. Lamun yang diperoleh sebanyak 9 jenis dengan rata-rata persen tutupan lamun sebesar 53,66 persen, sehingga tergolong sedang. Hasil pengambilan data sampel makrozoobentos diperoleh 33 famili dari Filum Mollusca, 8 famili dari Filum Echinodermata, 4 famili dari Filum Annelida, 10 famili dari Filum Arthropoda, 4 famili dari Filum Porifera, dan 1 famili dari Filum Cnidaria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesembilan titik memiliki nilai indeks keanekaragaman yang tergolong sedang sampai tinggi (2,069–3,079), dominansi yang tergolong rendah (0,068–0,142), dan kemerataan yang tergolong tinggi (0,761–0,941), sehingga komunitas bentos di wilayah pantai Bama tergolong stabil.
Ekosistem Bakau

Ekosistem Bakau
Ekosistem bakau atau ekosistem mangrove adalah ekosistem pesisir yang didominasi oleh tumbuhan bakau yang hidup di daerah peralihan antara daratan dan laut. Ekosistem ini biasanya ditemukan di wilayah pantai yang berlumpur, muara sungai, dan daerah yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove mampu hidup di lingkungan yang memiliki kadar garam tinggi serta kondisi tanah yang lembek dan tergenang air.
Tumbuhan bakau memiliki adaptasi khusus, seperti akar napas (pneumatofor) dan akar tunjang yang berfungsi untuk mengambil oksigen dari udara serta menopang pohon di tanah berlumpur. Beberapa jenis mangrove yang umum dijumpai antara lain Rhizophora (bakau), Avicennia (api-api), dan Sonneratia (pedada).
Ekosistem bakau memiliki peran yang sangat penting bagi lingkungan, di antaranya sebagai pelindung pantai dari abrasi dan gelombang laut, tempat berkembang biak (nursery ground) bagi berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting, serta habitat bagi berbagai burung dan organisme laut lainnya. Selain itu, mangrove juga berfungsi menyerap karbon sehingga membantu menjaga keseimbangan iklim.
Di Indonesia, ekosistem mangrove banyak ditemukan di wilayah pesisir seperti Sumatra, Kalimantan, Papua, dan sebagian pesisir Jawa, yang menjadi bagian penting dari kekayaan ekosistem pesisir di negara kepulauan ini
EKOSISTEM SUNGAI

Ekosistem sungai merupakan ekosistem perairan tawar yang terbentuk dari aliran air yang bergerak dari daerah hulu menuju hilir hingga bermuara ke danau, laut, atau samudra. Sungai menjadi habitat bagi berbagai makhluk hidup yang mampu beradaptasi dengan arus air yang terus mengalir.
Dalam ekosistem sungai terdapat berbagai komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik meliputi makhluk hidup seperti ikan, udang, serangga air, tumbuhan air, plankton, serta mikroorganisme. Sedangkan komponen abiotik meliputi air, cahaya matahari, suhu, arus, batuan, dan kandungan mineral yang terdapat di dalam air.
Ekosistem sungai biasanya terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu hulu, tengah, dan hilir. Bagian hulu memiliki arus yang deras dengan air yang jernih dan suhu relatif lebih dingin. Bagian tengah memiliki arus yang mulai melambat dengan organisme yang lebih beragam. Sementara itu, bagian hilir memiliki arus yang lebih tenang dengan kandungan sedimen yang lebih banyak.
Ekosistem sungai memiliki peranan penting bagi kehidupan, antara lain sebagai sumber air bagi manusia, habitat berbagai organisme air tawar, sarana transportasi, serta sumber pangan seperti ikan dan udang. Oleh karena itu, menjaga kebersihan dan kelestarian sungai sangat penting agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
PERTEMUAN 7
Restorasi Ekosistem: Pengertian, Manfaat, dan Dampaknya
Restorasi ekosistem berarti membantu pemulihan ekosistem yang telah mengalami degradasi atau kerusakan, serta menjaga ekosistem yang masih utuh. Ekosistem yang lebih sehat dengan keanekaragaman hayati yang lebih kaya akan memberikan manfaat lebih besar, seperti tanah yang lebih subur, hasil panen kayu dan ikan yang lebih melimpah, serta penyimpanan gas rumah kaca dalam jumlah yang lebih besar.
Restorasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya melalui penanaman kembali secara aktif atau dengan mengurangi tekanan terhadap alam sehingga ekosistem dapat pulih dengan sendirinya. Namun, tidak selalu memungkinkan—atau diinginkan—untuk mengembalikan ekosistem ke kondisi aslinya. Misalnya, kita masih membutuhkan lahan pertanian dan infrastruktur di atas tanah yang dulunya merupakan hutan. Selain itu, ekosistem, seperti halnya masyarakat, juga perlu beradaptasi dengan perubahan iklim.
Antara sekarang hingga tahun 2030, restorasi terhadap 350 juta hektare ekosistem darat dan perairan yang terdegradasi diperkirakan dapat menghasilkan layanan ekosistem senilai 9 triliun dolar AS.
Restorasi ini juga berpotensi menghilangkan 13 hingga 26 gigaton gas rumah kaca dari atmosfer. Manfaat ekonomi dari intervensi semacam ini diperkirakan sembilan kali lebih besar dibandingkan dengan biaya investasi, sedangkan jika tidak dilakukan tindakan apa pun, biaya yang harus ditanggung setidaknya tiga kali lebih besar dibandingkan dengan restorasi ekosistem.
Apa Itu Restorasi Ekosistem?
Semua jenis ekosistem dapat dipulihkan, termasuk hutan, lahan pertanian, kota, lahan basah, dan lautan. Inisiatif restorasi dapat dilakukan oleh berbagai pihak, mulai dari pemerintah dan lembaga pembangunan hingga perusahaan, komunitas, dan individu. Hal ini disebabkan oleh beragamnya penyebab degradasi serta dampaknya yang dapat terjadi pada berbagai skala.
Sebagai contoh, degradasi dapat terjadi akibat kebijakan yang merugikan, seperti subsidi untuk pertanian intensif atau lemahnya hukum kepemilikan lahan yang mendorong deforestasi.
Danau dan pesisir dapat tercemar akibat pengelolaan limbah yang buruk atau kecelakaan industri. Tekanan komersial juga dapat menyebabkan kota dan permukiman memiliki terlalu banyak aspal dan terlalu sedikit ruang hijau.
Pemulihan ekosistem, baik dalam skala besar maupun kecil, dapat melindungi dan meningkatkan mata pencaharian masyarakat yang bergantung padanya. Restorasi juga membantu mengatur penyakit dan mengurangi risiko bencana alam. Faktanya, upaya pemulihan ekosistem dapat membantu pencapaian seluruh Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals).

Selama empat tahun, Tian Ye dan tujuh rekan veterannya telah menanam ratusan hektare tanaman penahan angin yang juga mampu menghasilkan uang di Gurun Taklimakan di Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China barat laut.
Sejak 2018, Tian dan para mitranya menanam lebih dari 10 varietas tanaman gurun di wilayah Qiemo, Xinjiang selatan, termasuk populus euphratica, rose willow dan saxoul, yang membentang di area seluas lebih dari 800 hektare.
Qiemo, wilayah gurun dengan ekologi yang rentan, mulai mengupayakan sejumlah proyek pengendalian gurun dan aforestasi pada 1998, dan sejak 2003, mengundang sektor-sektor nonpemerintah untuk memanfaatkan sumber daya gurun dan mengembangkan perekonomian lokal.
Pertemuan 9
https://www.pacitanterkini.com/2024/05/potensi-bambu-sebagai-tanaman.html
Manajemen Pembibitan: Kunci Restorasi Lingkungan Kritis ataupun Pascatambang

Kegiatan pertambangan sering meninggalkan dampak besar terhadap lingkungan, terutama dalam bentuk degradasi lahan dan gangguan ekosistem. Namun, dengan penerapan manajemen pembibitan yang tepat, lahan bekas tambang dapat direhabilitasi menjadi kawasan hijau yang produktif.
Lingkungan kritis disebabkan adanya pembabatan hutan yang tidak gunakan tebang pilih, membuat lahan kritis akan menimbulkan bencana hidrologi seperti tanah longsor maupun banjir.
Manajemen pembibitan merupakan salah satu tahapan penting dalam upaya restorasi lingkungan, khususnya pada kawasan yang mengalami kerusakan seperti lahan kritis maupun wilayah pascatambang. Melalui pengelolaan pembibitan yang baik, ketersediaan bibit tanaman yang sehat, berkualitas, dan sesuai dengan kondisi lingkungan dapat terjamin untuk mendukung proses rehabilitasi lahan.
Dalam praktiknya, manajemen pembibitan mencakup beberapa tahap, mulai dari pemilihan jenis tanaman, penyediaan benih unggul, penyemaian, perawatan bibit, hingga distribusi bibit ke lokasi penanaman. Jenis tanaman yang dipilih biasanya merupakan spesies lokal atau tanaman yang mampu beradaptasi dengan kondisi tanah yang miskin unsur hara, seperti pada lahan bekas tambang atau daerah yang mengalami degradasi lingkungan.
Pengelolaan pembibitan yang baik juga memperhatikan faktor media tanam, penyiraman, pencahayaan, serta pengendalian hama dan penyakit agar bibit dapat tumbuh secara optimal. Bibit yang kuat dan sehat akan memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi ketika ditanam di lapangan, terutama di lingkungan yang memiliki kondisi ekstrem.
Dengan demikian, manajemen pembibitan menjadi kunci keberhasilan program restorasi lingkungan. Ketersediaan bibit yang berkualitas tidak hanya membantu mempercepat pemulihan ekosistem, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan serta memperbaiki fungsi ekologis kawasan yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia, termasuk kegiatan pertambangan
Hutan ataupun lahan yang ditambang baik diambil tanah, batu, maupun material tambang lainnya juga harus mendapatkan itikad baik dari semua pihak untuk mengembalikan ataupun memulihkan kondisi lahan bekas tambang yang sangat memicu timbulnya bencana alam lainnya.
Salah satu yang bisa dilakukan baik perorangan, swasta maupun pemerintah mempersiapkan untuk melakukan manajemen pembibitan dalam pemulihan lingkungan pascatambang serta strategi yang dapat diterapkan untuk mencapai hasil yang optimal.
Manajemen pembibitan adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan bibit yang berkualitas tinggi, sehat, dan siap tanam. Berikut adalah beberapa manajemen pembibitan yang bisa dilakukan:
1. Pemilihan Benih Unggul
-
Gunakan benih yang berasal dari varietas unggul, bersertifikat, dan sesuai dengan kondisi agroklimat setempat.
-
Periksa viabilitas dan vigor benih sebelum disemai (uji daya tumbuh).
2. Persiapan Media Tanam
-
Gunakan media tanam yang gembur, subur, dan bebas dari hama/penyakit.
-
Campuran umum: tanah, pasir, dan pupuk organik (misalnya kompos atau pupuk kandang) dengan perbandingan 1:1:1.
3. Penaburan Benih (Persemaian)
-
Benih disemai di bedeng semai, tray, atau polybag.
-
Atur jarak dan kedalaman tanam agar tidak terlalu rapat dan memudahkan pertumbuhan akar.
-
Berikan naungan (shade) untuk melindungi dari sinar matahari langsung.
4. Penyiraman dan Pemupukan
-
Siram secara rutin namun tidak berlebihan agar tidak menimbulkan busuk akar.
-
Berikan pupuk secara bertahap sesuai umur bibit, bisa menggunakan pupuk cair organik atau NPK dalam dosis rendah.
5. Pengendalian Hama dan Penyakit
-
Pantau kondisi bibit secara berkala.
-
Gunakan pestisida hayati atau nabati untuk pengendalian awal.
-
Cabut dan musnahkan bibit yang terserang penyakit menular.
6. Pemeliharaan dan Seleksi Bibit
-
Lakukan penjarangan jika bibit terlalu rapat.
-
Pilih bibit yang sehat, tegak, berdaun hijau, dan memiliki sistem perakaran yang baik.
-
Buang bibit yang lemah atau cacat.
7. Pengerasan Bibit (Hardening)
-
Sebelum dipindahkan ke lahan tanam, bibit perlu diadaptasikan terhadap kondisi lingkungan terbuka.
-
Kurangi penyiraman dan naungan secara bertahap selama 1–2 minggu.
8. Pengangkutan dan Penanaman
-
Angkut bibit dengan hati-hati agar tidak merusak akar.
-
Tanam pada waktu yang tepat, biasanya pagi atau sore hari.
Pentingnya Manajemen Pembibitan dalam Restorasi Lingkungan
-
Pemulihan Ekosistem
Manajemen pembibitan yang baik memungkinkan pemilihan spesies tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan pascatambang, sehingga dapat membantu mengembalikan keanekaragaman hayati dan menyeimbangkan kembali ekosistem. -
Pengendalian Erosi dan Stabilitas Tanah
Lahan bekas tambang rentan terhadap erosi. Penanaman tanaman pionir dengan sistem perakaran yang kuat dapat membantu memperkuat struktur tanah dan mencegah erosi lebih lanjut, menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan tanaman lain. -
Perbaikan Kualitas Tanah
Tanah di area tambang umumnya kehilangan unsur hara dan kesuburannya. Dengan menerapkan manajemen pembibitan yang tepat, seperti penggunaan tanaman penutup tanah dan spesies yang mampu meningkatkan kandungan bahan organik, kualitas tanah dapat dipulihkan secara bertahap.
Strategi Manajemen Pembibitan untuk Pemulihan Pascatambang
-
Pemilihan Spesies yang Sesuai
Menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi lahan adalah langkah awal dalam manajemen pembibitan. Spesies yang mampu beradaptasi dengan tanah miskin dan berperan dalam perbaikan tanah, seperti Akasia (Acacia spp.) dan Leguminosae, sangat direkomendasikan. -
Teknik Pembibitan yang Tepat
Penggunaan metode pembibitan yang efektif, seperti persemaian, pencangkokan, dan kultur jaringan, dapat meningkatkan keberhasilan restorasi dengan menghasilkan bibit berkualitas yang mampu bertahan dalam kondisi lingkungan yang menantang. -
Pengelolaan Air dan Nutrisi
Penyediaan air dan nutrisi yang cukup selama pembibitan sangat penting untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Sistem irigasi yang efisien dan penggunaan pupuk organik dapat membantu memenuhi kebutuhan tanaman secara optimal. -
Monitoring dan Evaluasi Berkala
Pemantauan rutin diperlukan untuk menilai efektivitas upaya pemulihan. Dengan evaluasi yang berkelanjutan, kendala yang muncul dapat segera diatasi agar proses rehabilitasi berjalan lebih baik. -
Keterlibatan Komunitas Lokal
Melibatkan masyarakat dalam proses pembibitan dan rehabilitasi lahan tidak hanya meningkatkan keberhasilan proyek dalam jangka panjang, tetapi juga memberdayakan masyarakat dengan keterampilan baru yang bermanfaat.
Kesimpulan
Manajemen pembibitan yang efektif berperan penting dalam upaya pemulihan lahan kritis maupun lahan bekas atau pascatambang.
Dengan pemilihan spesies yang tepat, penerapan teknik pembibitan yang efisien, serta melibatkan komunitas lokal, lahan bekas tambang dapat direstorasi menjadi ekosistem yang sehat dan produktif.
Langkah ini tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar.
PERTEMUAN 9
Peranan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dalam menjaga kelestarian ekosistem
Terdapat 7 langkah yang bisa digunakan dalam memanfaatkan Ilmu Pengetahuan dan teknologi dalam rangka menjaga ekosistem.
🌱 1. Pemantauan Hutan dan Lahan dengan Satelit
Contoh:
Pemerintah Indonesia melalui Badan Informasi Geospasial (BIG) dan LAPAN (kini menjadi BRIN) telah menggunakan satelit seperti Satelit LAPAN-A3 untuk memantau perubahan tutupan lahan dan kebakaran hutan secara real-time.

🔍 Manfaat:
Memudahkan deteksi dini kebakaran hutan, ilegal logging, dan deforestasi di kawasan seperti Kalimantan dan Papua.
🌊 2. Konservasi Laut dan Terumbu Karang
Contoh:
Melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pemerintah meluncurkan program Smart Fisheries Village dan teknologi e-MPA (electronic Marine Protected Area) untuk memantau dan mengelola kawasan konservasi laut.

🌊 Manfaat:
Menjaga keanekaragaman hayati laut serta mendorong perikanan berkelanjutan di perairan Indonesia.
Seiring dengan upaya Indonesia untuk memulihkan terumbu karangnya, perjalanan ini diwarnai oleh berbagai tantangan dan peluang. Meskipun lanskap pemulihan terumbu karang saat ini mungkin tampak terfragmentasi dan kurang memiliki ketelitian ilmiah, ada secercah harapan dalam berbagai inisiatif dan program yang digerakkan oleh masyarakat yang melibatkan kaum muda.
Untuk benar-benar mengukur keberhasilan pemulihan terumbu karang di Indonesia, sangat penting untuk membangun sistem pemantauan yang kuat, mendorong kolaborasi antara masyarakat dan ilmuwan, serta mengamankan pendanaan yang mendukung upaya pemulihan yang komprehensif.
Hanya dengan demikian, Indonesia dapat membuka jalan menuju ekosistem laut yang tangguh dan berkembang, serta memastikan terumbu karangnya terus berkembang dari generasi ke generasi.
♻️ 3. Pengelolaan Sampah Berbasis Teknologi
Contoh:
Pemerintah mendukung pengembangan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) seperti TPST Bantargebang yang dilengkapi teknologi pengolahan gas metana menjadi energi listrik.
🔋 Manfaat:
Mengurangi emisi gas rumah kaca dan menghasilkan energi bersih dari limbah kota.
🧬 4. Restorasi Ekosistem Gambut dan Mangrove
Contoh:
Pembentukan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) yang menggunakan citra satelit, drone, dan pemetaan digital untuk merestorasi jutaan hektar lahan gambut dan kawasan mangrove di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
🌿 Manfaat:
Mencegah kebakaran lahan, menjaga cadangan karbon alami, dan melindungi ekosistem pesisir.
Restorasi ekosistem gambut dan mangrove yang berhasil di Indonesia, terutama melalui upaya Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), mencakup berbagai aspek restorasi, rehabilitasi, dan revitalisasi ekosistem. BRGM telah merestorasi 1,6 juta hektar lahan gambut dan 84.396 hektar mangrove. Restorasi gambut melibatkan pembasahan ulang (rewetting), penanaman kembali (revegetasi), dan revitalisasi kehidupan masyarakat yang mendukung restorasi. Rehabilitasi mangrove bertujuan meningkatkan tutupan lahan, produktivitas tambak, dan lapangan kerja
🧠 5. Edukasi Lingkungan Berbasis Teknologi
Contoh:
Melalui platform seperti SIPANDU LH (Sistem Informasi Pemantauan dan Pengendalian Lingkungan Hidup) dan Gerakan Sekolah Adiwiyata, pemerintah mengintegrasikan pendidikan lingkungan dengan sistem digital dan teknologi pembelajaran interaktif.
📚 Manfaat:
Meningkatkan kesadaran generasi muda tentang pentingnya menjaga lingkungan melalui IPTEK.
🌍 6. Pengembangan Energi Baru Terbarukan
Contoh:
Pemerintah mengembangkan teknologi PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) di wilayah-wilayah terpencil dan PLTB (Tenaga Bayu) di Sulawesi Selatan, sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
🔆 Manfaat:
Mengurangi emisi karbon, memperluas akses listrik ramah lingkungan.
7. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTsa)
PLTSa yang dibangun ini adalah fasilitas untuk membakar sampah kering yang sudah sudah dipilah

PLTSa Merah Putih di Bantargebang, Bekasi, PLTSa Benowo di Surabaya, dan PLTSa Putri Cempo di Solo.
Jumlah sampah yang dibutuhkan PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) per hari bervariasi tergantung pada kapasitas dan jenis teknologi yang digunakan. Secara umum, PLTSa yang berkapasitas 10 MW atau lebih dapat membutuhkan sekitar 1000 ton sampah per hari. Namun, ada juga PLTSa yang lebih kecil yang hanya membutuhkan 30-40 ton sampah per har
Kesimpulan:
Pemerintah Indonesia telah aktif memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai sektor untuk mendukung pelestarian lingkungan dan ekosistem, dari darat hingga laut, dari pendidikan hingga energi. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa keberlanjutan dapat berjalan beriringan dengan kemajuan teknologi.
Tugas 2.
Pembuatan Konten Pembelajaran Lingkungan
Untuk memperdalam pemahaman terhadap materi 1–7, mahasiswa diminta membuat konten edukatif terkait dengan lingkungan yang menjelaskan salah satu atau beberapa materi yang telah dipelajari. Tugas ini dikerjakan secara berkelompok dengan jumlah maksimal 3 orang dalam satu kelompok.
Konten yang dibuat berupa video edukasi dengan durasi minimal 4 menit. Isi video harus memuat penjelasan materi secara jelas, runtut, dan mudah dipahami. Mahasiswa dapat menggunakan berbagai bentuk penyajian kreatif, seperti presentasi, infografis, animasi sederhana, demonstrasi, ataupun narasi visual yang berkaitan dengan topik yang dipilih dari materi 1–7.
Dalam video tersebut diharapkan terdapat pembukaan, penjelasan inti materi, serta kesimpulan. Setiap anggota kelompok diharapkan berkontribusi dalam pembuatan maupun penyampaian materi agar pembelajaran berlangsung kolaboratif.
Pengumpulan tugas dilakukan setelah pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS/Mid Semester) sesuai dengan waktu yang akan ditentukan. Video dapat dikumpulkan melalui platform yang telah ditetapkan (misalnya Google Drive atau media pembelajaran lainnya).
10. PERANAN IPTEK
Peranan Iptek dalam Kehidupan Manusia
PERTEMUAN 11
SAMPAH RUMAH TANGGA
Sampah rumah tangga yang dibawa aliran sungai yang bermuara di teluk Pantai akan mengakibatkan pencemaran pada pantai maupun ekosistem laut.
Sampah akan menumpuk dan akan berdampak pada kehidupan species dalam ekosistem Pantai
Silakan saudara berargumentasi terkait dengan sampah ?



12. PERATURAN REKLAMASI DAN PASCA TAMBANG
Reklamasi bekas tambang adalah suatu kegiatan untuk mengembalikan kondisi lahan bekas tambang menjadi produktif dan berfungsi kembali seperti semula atau minimal mendekati kondisi semula sebelum tambang dikerjakan. Kebijakan reklamasi bekas tambang bertujuan untuk mengembalikan fungsi lahan yang telah terganggu akibat kegiatan tambang, seperti lahan pertanian, hutan, dan perikanan.
Beberapa kebijakan reklamasi bekas tambang yang dapat dilakukan antara lain:
- Penetapan rencana reklamasi. Pemerintah harus membuat rencana reklamasi bekas tambang yang harus dilakukan oleh perusahaan tambang sebelum memulai kegiatan tambang. Rencana reklamasi harus mencakup metode, biaya, dan jangka waktu untuk mengembalikan kondisi lahan bekas tambang menjadi produktif kembali.
- Penetapan peraturan reklamasi. Pemerintah juga harus membuat peraturan yang mengatur mengenai tata cara reklamasi bekas tambang. Peraturan ini dapat mencakup persyaratan reklamasi, tata cara pelaksanaan reklamasi, dan sanksi bagi perusahaan tambang yang tidak mematuhi peraturan tersebut.
- Pengelolaan limbah tambang. Perusahaan tambang harus memperhatikan pengelolaan limbah tambang dengan baik. Limbah tambang yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan merusak ekosistem. Limbah tambang yang tidak bisa didaur ulang harus dikelola dengan cara yang ramah lingkungan, seperti pengolahan limbah dengan teknologi yang tepat.
- Pemberian insentif. Pemerintah dapat memberikan insentif bagi perusahaan tambang yang melakukan reklamasi bekas tambang dengan baik. Insentif ini dapat berupa pengurangan pajak atau pemberian izin tambang baru.
- Partisipasi masyarakat. Pemerintah harus melibatkan masyarakat dalam kegiatan reklamasi bekas tambang. Masyarakat dapat membantu memonitor kegiatan reklamasi, memberikan masukan, serta memperoleh manfaat dari hasil reklamasi, seperti pengembangan pariwisata atau pertanian.
Dengan penerapan kebijakan reklamasi bekas tambang yang baik, diharapkan dapat mengurangi dampak negatif dari kegiatan tambang pada lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar tambang.
Pupuk Organik dan Manfaatnya
Pengayakan 4
Energi Terbarukan
Pengayakan 5
Dampak Ekploitasi Hutan
Pengayakan 6
Tanggul Sungai
Tanggul sungai merupakan sebuah struktur fisik berupa dinding atau bangunan yang dibangun di tepi sungai untuk mencegah banjir dan mengendalikan aliran air sungai. Tanggul sungai memiliki peranan penting dalam menjaga keamanan dan kesejahteraan manusia, terutama di daerah-daerah yang rawan banjir.
Berikut ini adalah beberapa pentingnya tanggul sungai:
- Mencegah terjadinya banjir. Tanggul sungai mampu menahan air sungai ketika debit air meningkat tajam atau terjadi hujan lebat. Dengan demikian, tanggul sungai dapat menghindarkan wilayah sekitar sungai dari banjir yang merusak.
- Melindungi sumber daya alam. Air sungai merupakan sumber daya alam yang penting, baik untuk kebutuhan manusia maupun hewan dan tumbuhan. Tanggul sungai membantu melindungi sumber daya alam ini dari kerusakan akibat banjir.
- Meningkatkan produktivitas lahan. Banjir yang sering terjadi dapat merusak lahan pertanian dan menurunkan produktivitasnya. Dengan adanya tanggul sungai, lahan pertanian dapat dijaga dari terpaan banjir dan mampu meningkatkan produktivitas lahan.
- Mengurangi kerusakan bangunan dan infrastruktur. Banjir yang sering terjadi dapat merusak bangunan dan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan saluran air. Dengan adanya tanggul sungai, kerusakan tersebut dapat diminimalisir.
- Meningkatkan kualitas hidup manusia. Dengan adanya tanggul sungai, masyarakat dapat merasa lebih aman dan nyaman karena tak khawatir mengalami banjir. Hal ini tentunya akan meningkatkan kualitas hidup manusia.
Meskipun tanggul sungai memiliki peranan penting dalam menjaga keamanan dan kesejahteraan manusia, namun tanggul sungai tidak selalu efektif dalam
menghadapi bencana banjir. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan preventif lainnya, seperti pengaturan tata air dan penataan tata ruang secara terencana untuk mencegah terjadinya bencana banjir di masa yang akan datang.
Pengayakan 7
Alam Semesta Menurut Islam
DIKTAT-ILMU LINGKUNGAN
CONTOH TUGAS PROYEK
- STRATEGI GURU DALAM MENUMBUHKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN PADA SISWA FASE B SDN 1 SUGIHWARAS
- Banjir, Sampah, dan Solusi Lokal: Pengelolaan Sampah Padat pada Saluran Air Kelurahan Pucangsewu Pacitan
Tugas Proyek Kelompok
BUAT ARTIKEL ILMIAH
Buatkan artikel Ilmiah dengan berkelompok maksimal 4 orang anggota. Tema lingkungan bisa terkait dengan Pembelajaran Lingkungan di SD. Metode kajian dengan observasi , study kasus dan dokumentasi.
Teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam dengan tokoh warga sekitar, dokumentasi, rekaman.
-
“Menanam Karakter Hijau Sejak Dini: Peran Guru SD dalam Pendidikan Lingkungan Hidup”
- “Belajar dari Alam: Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sekolah sebagai Media Pembelajaran Tematik di SD”
- “Anak dan Alam: Strategi Guru SD dalam Menumbuhkan Kepedulian Terhadap Ekosistem Sekitar”
- Sampahku Tanggung Jawabku: Pembelajaran Kontekstual tentang Pengelolaan Sampah di Sekolah Dasar”
- “Air Bersih dan Kehidupan: Edukasi Konservasi Air untuk Siswa Sekolah Dasar melalui Proyek Mini”
- “Sekolah Ramah Lingkungan: Studi Kasus Inisiatif Hijau di Sekolah Dasar Negeri di Pedesaan
- “Dampak Perubahan Iklim di Sekitar Sekolah: Perspektif Siswa SD dan Implikasinya bagi Pembelajaran IPS
- “Mengenal Flora dan Fauna Lokal: Integrasi Muatan Lokal dalam Pembelajaran Tematik Lingkungan”
- Revitalisasi Taman Sekolah sebagai Laboratorium Alam Mini di SD
- “Pendidikan Lingkungan Berbasis Proyek: Membentuk Generasi SD yang Peduli Bumi”
-
ntegrasi Pendidikan Lingkungan dalam Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar
-
Peran Guru SD dalam Menanamkan Kesadaran Ekologis Sejak Usia Dini
-
Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning) dalam Mengenalkan Konservasi Lingkungan kepada Siswa SD
-
Pengaruh Edukasi Daur Ulang Terhadap Perilaku Ramah Lingkungan Siswa Sekolah Dasar
-
Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sekolah sebagai Media Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
-
Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar Berbasis Lingkungan Hidup di Kelas Rendah SD
-
Efektivitas Program Adiwiyata dalam Meningkatkan Kepedulian Lingkungan Siswa SD
-
Pembelajaran Kontekstual Berbasis Ekosistem Lokal: Studi Kasus di Sekolah Dasar Pedesaan
-
Pendidikan Karakter Berbasis Lingkungan untuk Membentuk Siswa Cinta Alam di SD
-
Analisis Kegiatan Ekstrakurikuler Bertema Lingkungan dalam Meningkatkan Literasi Ekologis Siswa Sekolah Dasar
Dalam memperhatikan faktor-faktor tersebut, saudara dapat melakukan peran aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan di sekitar tempat tinggal saudara.
Berikut Tema tentang lingkungan:
A. Subjek 1: Kualitas Udara
- Penjelasan tentang pentingnya kualitas udara yang baik
- Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas udara
- Solusi untuk menjaga kualitas udara yang baik di sekitar lingkungan
B. Subjek 2: Sumber Air
- Penjelasan tentang pentingnya sumber air yang bersih dan sehat
- Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas sumber air
- Solusi untuk menjaga kualitas sumber air yang bersih dan sehat di sekitar lingkungan
C. Subjek 3: Limbah Padat
- Penjelasan tentang pentingnya pengelolaan limbah padat yang baik
- Faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan limbah padat
- Solusi untuk meningkatkan pengelolaan limbah padat yang baik di sekitar lingkungan
D. Subjek 4: Transportasi
- Penjelasan tentang pentingnya transportasi yang ramah lingkungan
- Faktor-faktor yang mempengaruhi transportasi ramah lingkungan
- Solusi untuk meningkatkan transportasi yang ramah lingkungan di sekitar lingkungan
E. Subjek 5: Konservasi Lingkungan
- Penjelasan tentang pentingnya konservasi lingkungan untuk menjaga kelestarian alam
- Faktor-faktor yang mempengaruhi konservasi lingkungan
- Solusi untuk meningkatkan konservasi lingkungan di sekitar lingkungan
F. Subjek 6: Penghematan Energi
- Penjelasan tentang pentingnya penghematan energi untuk mengurangi dampak perubahan iklim
- Faktor-faktor yang mempengaruhi penghematan energi
- Solusi untuk meningkatkan penghematan energi di sekitar lingkungan
Penulisannya sebagai berikut:
- Judul minimal menggambarkan subyek matter penulisan dan objek yang menjadi fokus kajian.
- PENDAHULUAN: Usahakan buat rumusan masalah dengan menggunakan kata Apa ?, Bagaimana?. Berisi latar belakang, TEORI, PENELITIAN TERDAHULU, dan rumusan masalah (1000 kata minimal)
- METODE KAJIAN (500-700)
- Hasil dan Pembahsan. ( 1500 kata)
- Isi berisi jawaban atas rumusan masalah hasil analisis berdasarkan teori-data wawancara dari narasumber sebagai dasar untuk menjawab rumusan masalah ( minimal 3 paragraf)
- Simpulan
- Ditulis dengan menggunakan Times Romans 12, dengan spasi 1,5.
- Foto asli dari objek yang akan diangkat menjadi sebuah tulisan.
- Jumlah kata minimal 2500 kata.
- Narasumber harus kompeten sehingga data yang saudara gunakan untuk analisis validitasnya terjamin. Sehingga tulisan saudara bukan opini saudara namun difasarkan pada hasil wawancara yang mendalam (dept interviewe)
Kirim secara kolektif kepada ketua kelas
Dikirim atau dikumpulkan dalam bentuk soft file dengan di google drive sebelum UAS.
SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER PENDEK KAMIS 21 AGUSTUS 2025
PGSD KELAS A, B
Petunjuk Pengerjaan Soal
- Kerjakan soal di lembar kertas folio bergaris dengan tulisan tangan yang rapi.
- Tuliskan nama lengkap, NIM, dan prodi di pojok kanan atas kertas.
- Jawablah setiap pertanyaan secara jelas, logis, dan sesuai dengan konsep Ilmu Lingkungan.
- Dilarang mencontek atau bekerja sama. Jawaban yang sama persis akan dianggap tidak sah.
- Gunakan pena biru atau hitam (tidak diperkenankan menggunakan pensil).
- Setiap jawaban minimal 5–7 kalimat dengan contoh nyata atau penerapan dalam konteks pendidikan dasar.
- Kumpulkan hasil pekerjaan pada hari Kamis, 21 Agustus 2025, maksimal pukul 11.30 WIB.
Pertanyaan:
- Semakin banyak pohon ditebang, maka udara menjadi semakin bersih. Setujukah Anda? Jelaskan alasannya!
- Air hujan selalu aman diminum karena berasal langsung dari langit. Benar atau salah? Mengapa?
- Sampah plastik yang dibakar lebih cepat habis sehingga lebih ramah lingkungan. Setuju atau tidak? Jelaskan!
- Semua energi terbarukan pasti bebas dampak negatif bagi lingkungan. Apakah pernyataan ini benar? Berikan alasan!
- Jika suhu bumi naik 2 derajat saja, tidak akan berpengaruh besar bagi kehidupan manusia. Benar atau salah? Jelaskan!
- Tulis kembali judul artikel yang kamu buat dengan huruf kapital semua. Apa akibatnya jika ada satu huruf saja yang tidak sesuai?
Buat Esay 4 halaman (1500 – 2000)
- Coba saudara analisis terkait dengan ekosistem yang masih lestari disekitar lingkungan saudara. Buat esay dengan gambar asli, dengan memperhatikan aspek hakikat ekosistem (ontologi), metode yang saudara gunakan untuk dapatkan data (epistemologi) dan axiologi fungsi masing-masing populasi dalam sebuah ekosistem. Pilih salah satu sekosistem: sungai, sawah, hutan, pantai, sumber air.
- Template (Judul – Nama Penulis, email, prodi – Pendahuluan (Teori-kajian terdahulu-tujuan-metode mendapatkan data (studi pustaka-wawancara) – langsung pada penusun ekosistem (populasi) – simpulan (ekosistem sungai masih lestari atau rusak).
- Dikumpulkan dikoordinir oleh ketua kelas file dimasukan dalam google drive. Jangan lupa tulis kelas dan nama serta nim setiap file. Nama_Nim_Kelas
TIPS MENULIS ESAY
Cara menulis esai yang baik dimulai dengan tahap menyusun ide dan menulis esai. Tahap pertama adalah mengumpulkan catatan dan menentukan informasi yang akan digunakan. Kaji catatan Anda dan pilih contoh-contoh yang dapat mendukung atau memperkuat jawaban Anda. Tentukan poin-poin yang akan Anda bahas dan susunlah mereka dalam urutan yang tepat. Tulis semua ini dalam bentuk rancangan kasar esai Anda. Buatlah kerangka tulisan untuk memastikan struktur esai sudah sesuai.
Seluruh esai sebaiknya memiliki struktur yang terdiri dari tiga bagian utama: pendahuluan, isi, dan kesimpulan.
Pertama, dalam pendahuluan, Anda perlu menjawab pertanyaan dan memberikan rangkuman argumen Anda. Sampaikan kepada pembaca apa argumen Anda dan alasan mengapa Anda yakin itu merupakan jawaban yang tepat. Pendahuluan harus singkat, tetapi tetap mencakup semua ide utama yang akan Anda bahas.
Kedua, dalam bagian isi, Anda mengembangkan argumen-argumen Anda lebih lanjut. Gunakan pengetahuan dan informasi yang relevan untuk mendukung argumen Anda. Sertakan contoh-contoh dan kutipan yang relevan untuk memperkuat argumen Anda. Penting untuk menyusun struktur isi dengan baik. Jika pertanyaan terdiri dari beberapa bagian, susunlah isi Anda berdasarkan setiap bagian pertanyaan tersebut.
Terakhir, dalam kesimpulan, Anda merujuk kembali ke pendahuluan dan menunjukkan bahwa Anda telah menjawab pertanyaan yang diajukan. Sambungkan kembali argumen-argumen Anda dan hubungkan jawaban Anda dengan pertanyaan. Hindari menambahkan informasi baru dalam kesimpulan. Jika Anda memiliki informasi baru, pertimbangkan untuk memasukkannya ke dalam bagian isi.
Dalam menulis esai, pastikan penggunaan bahasa yang jelas dan padat, serta mengatur paragraf dengan baik untuk mengatur alur pemikiran Anda. Perhatikan pula tata bahasa dan ejaan yang benar. Revisi dan perbaiki esai Anda sebelum mengirimkannya untuk memastikan esai tersebut terstruktur dengan baik, memiliki alur pemikiran yang jelas, dan mendukung argumen Anda dengan baik.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini, Anda dapat menulis esai yang baik dan efektif dalam menyampaikan ide-ide Anda secara teratur dan koheren.
Pengayakan 8
LATIHAN
Tugas Individu Buat Konten Terkait Sumber Daya Alam, dan Lingkungan
Durasi 3 – 5 Menit. Sebelum membuat reportase sebaiknya ada skrip atau narasi sehingga dalam konten nanti terlihat tidak menguasai dari tema. Tugas secara berkelompok dengan jumlah anggota 3 orang. Untuk anggota kelompok silakan saudara pilih dengan beberapa pertimbangan, rumah dekat, menguasai tema yang sedang diangkat. Konten ataupun video yang saudara buat yang akan dipublikasikan kepada khalayak harus memenuhi unsur: menjunjung tinggi nilai kebenaran, saudara harus selalu melakukan verifikasi terkait tema saudara kepada pemerintah, swasta, maupun tokoh masyarakat. Memberikan infomasi kepada masyarakat terutama nilai pendidikan. menarik, relevan, kredibel dan terpercaya agar konten saudara disukai oleh publik.
Kirim ke email: rafid.musyffa@gmail.com sebelum Ujian Tengah Semester.
Berikut adalah langkah-langkah untuk membuat konten tentang lingkungan yang menarik:
- Tentukan topik yang menarik dan relevan. Pilih topik yang menarik perhatian pembaca dan terkait dengan isu lingkungan yang sedang relevan. Pastikan topik yang dipilih memiliki dampak positif pada lingkungan.
- Lakukan riset. Lakukan riset tentang topik yang akan dibahas dan cari sumber-sumber informasi yang terpercaya seperti jurnal ilmiah, laporan pemerintah, dan organisasi lingkungan.
- Gunakan gaya bahasa yang mudah dipahami. Pastikan bahasa yang digunakan mudah dipahami oleh pembaca dengan menghindari penggunaan kata-kata teknis yang sulit dipahami.
- Gunakan contoh yang konkret. Sertakan contoh-contoh nyata tentang cara-cara yang dapat dilakukan untuk menjaga lingkungan seperti penggunaan energi terbarukan, pengelolaan sampah yang baik, dan konservasi alam.
- Sertakan gambar atau video yang menarik. Sertakan gambar atau video yang menarik dan relevan dengan topik yang dibahas. Hal ini dapat memperkuat pesan yang ingin disampaikan serta menarik perhatian pembaca.
- Jangan lupa untuk memberikan solusi. Selain memberikan informasi tentang isu lingkungan, sertakan pula solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah lingkungan yang ada. Hal ini dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi pembaca untuk berperan aktif dalam menjaga lingkungan.
- Gunakan media sosial. Gunakan media sosial untuk mempromosikan konten yang telah dibuat agar lebih banyak orang dapat membaca dan terinspirasi untuk menjaga lingkungan.
Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut, kita dapat membuat konten tentang lingkungan yang menarik dan dapat memberikan dampak positif pada lingkungan serta masyarakat
Contoh Konten sederhana
Contoh Talud Penahan Tanah


Latihan
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan ditulis tangan di kertas folio. Kumpulkan pertemuan Kamis (11/5/2023).
- Sebutkan dan jelaskan pengertian ilmu lingkungan menurut beberapa ahli, serta bagaimana pemahaman mereka tersebut dapat membantu dalam menghadapi tantangan lingkungan saat ini?
- Bagaimana dampak pencemaran terhadap ekosistem yang ada di sekitar saudara ? Apakah dampak tersebut berpengaruh pada makhluk hidup yang ada di dalam ekosistem tersebut? Jelaskan !
- Apa saja langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh individu atau masyarakat dalam mencegah atau menanggulangi pencemaran di sekitar sungai atau pantai? Bagaimana cara melakukan pencegahan dan penanggulangan tersebut secara efektif?
- Apa perbedaan utama antara ekosistem dan lingkungan? Bagaimana keduanya memengaruhi dan terkait dalam menjaga keseimbangan lingkungan?
Pengayakan
LIMBAH B3
Bahan Berbahaya dan Beracun atau sering disingkat dengan B3 adalah zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi dan/atau jumlahnya baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, membahayakan lingkungan hidup, kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain. Definisi ini tercantum dalam Undang – Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan peraturan – peraturan lain di bawahnya.
Jenis – jenis Bahan Berbahaya dan Beracun diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. Peraturan ini selain mengatur tata laksana pengelolaan B3, juga mengklasifikasikan B3 dalam tiga kategori yaitu B3 yang dapat dipergunakan, B3 yang dilarang dipergunakan dan B3 yang terbatas dipergunakan.
Beberapa jenis B3 yang mudah dikenali dan boleh dipergunakan antara lain adalah bahan – bahan kimia seperti amonia, Asam Asetat, Asam sulfat, Asam Klorida, Asetilena, Formalin, Metanol, Natrium Hidroksida, termasuk juga gas Nitrogen. Lebih lengkapnya daftar B3 yang boleh dipergunakan dapat dilihat pada Lampiran 1 Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001.
Sedangkan B3 yang dilarang dipergunakan antara lain adalah:
Aldrin, Chlordane, DDT, Dieldrin, Endrin, Heptachlor, Mirex, Toxaphene, Hexachlorobenzene dan PCBs.
Sedangkan daftar B3 yang dipergunakan secara terbatas, antara lain :
Merkuri, Senyawa Merkuri, Lindane, Parathion, dan beberapa jenis CFC.
Berdasarkan sifatnya, B3 dapat diklasifikasikan menjadi B3 yang mudah meledak, pengoksidasi, sangat mudah sekali menyala, beracun, berbahaya, korosif, bersifat iritasi, berbahaya bagi lingkungan dan karsinogenik.
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3)
Limbah B3 merupakan sisa usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3. Limbah B3 dihasilkan dari kegiatan/usaha baik dari sektor industri, pariwisata, pelayanan kesehatan maupun dari domestik rumah tangga. Pengelolaan Limbah B3 diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah B3 yang mana dalam peraturan ini juga tercantum daftar lengkap limbah B3 baik dari sumber tidak spesifik, limbah B3 dari sumber spesifik, serta limbah B3 dari B3 kadaluwarsa, B3 yang tumpah, B3 yang tidak memenuhi spesifikasi produk dan bekas kemasan B3.
Suatu zat/senyawa yang terindikasi memiliki karakteristik limbah B3, namun tidak tercantum dalam Lampiran 1 PP 101/2014 perlu dilakukan uji karateristik untuk identifikasi. Uji karakteristiknya dapat berupa Uji Karakteristik Mudah meledak, mudah menyala, reaktif, infeksius dan korosif dan beracun sebagaimana lengkap dijelaskan pada Lampiran 2 PP 101/2014. Pengujian karakteristik beracun misalnya dilakukan dengan TCLP atau Uji Toksikologi LD50.
Mengingat sifatnya yang berbahaya dan beracun, pengelolaan limbah B3 perlu dilakukan dengan seksama, sehingga setiap orang atau pelaku usaha yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan terhadap limbah B3 yang dihasilkannya. Pengelolaan limbah B3 terdiri dari penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan dan penimbunan. Untuk memastikan pengelolaan limbah B3 dilakukan dengan tepat dan mempermudah pengawasan, maka setiap kegiatan pengelolaan limbah B3 wajib memiliki izin yang dikeluarkan oleh Bupati/Walikota, Gubernur, atau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK mengklaim limbah batu bara alias fly ash bottom ash (FABA) dari aktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) tidak memenuhi syarat masuk dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menghapus limbah batu bara (FABA) dari kategori limbah bahan berbahaya dan beracun. Keputusan tersebut tertuang dalam PP 22/2021. Aturan ini merupakan turunan dari Undang-undang 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.
Keputusan Jokowi mengeluarkan limbah batu bara dari limbah berbahaya menuai kecaman dari aktivis lingkungan. Selain limbah batu bara, Jokowi juga menghapus limbah sawit yang berasal dari hasil penyulingan atau biasa dikenal dengan spent bleaching earth (SBE) dalam limbah berbahaya.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mendesak Jokowi mencabut PP 22/2021 yang telah melonggarkan aturan limbah bahan berbahaya dan beracun. Walhi menilai Jokowi sembrono dan dapat menimbulkan risiko tinggi terhadap kesehatan.
PENCEMARAN LIMBAH TAMBAK UDANG
Keberadaan tambak udang di Karimunjawa, Kabupaten Jepara, meresahkan warga setempat. Limbah yang diduga dari tambak udang mencemari lingkungan. Beberapa kawasan yang tercemar di antaranya Pantai Cemara. Warga setempat, Bambang Zakaria mengungkapkan limbah tambak udang mengancam keindahan alam Karimunjawa.

Pantai di Karimunjawa Tercemar Limbah Tambak Udang, DLH Jepara: Setop Perluasan Area Tambak, https://muria.tribunnews.com/2022/11/03/pantai-di-karimunjawa-tercemar-limbah-tambak-udang-dlh-jepara-setop-perluasan-area-tambak.
Kewajiban Tambak Udang
- Ketenagakerjaan melibatkan warga
- Tambak Udang harus memiliki IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)
- Corporate Sosial Responsibility (CSR)
Tambak-tambak itu hanya berjarak kurang dari 300 meter dari bibir Pantai Trisik. Dari kolam-kolam tambak itu, terpasang ratusan pipa paralon. Dari ratusan pipa paralon itulah, berton-ton limbah dari tambak udang vaname mengalir dan terbuang ke sungai, muara, laguna dan berujung ke laut selatan DIY Limbah itu beracun hasil akumulasi dari pakan udang, kotoran udang, obat-obatan jadi satu. Sumber: Bom Waktu Tambak Udang Harianjogja.com
Artinya, bila dalam tiga tahun terakhir produksi udang vaname di DIY mencapai 12,4 juta kilogram maka dibutuhkan sekitar 14,88 juta kilogram atau 14.880 ton pakan udang. Bila menggunakan perbandingan 1,2:1, artinya sebanyak 2,4 juta kilogram atau sekitar 2.481 ton pakan udang tak terserap alias menjadi limbah dalam tiga tahun terakhir, atau rata-rata 827 ton limbah pakan udang setiap tahunnya terbuang ke pesisir DIY. “Limbah pakan yang tidak terserap itu belum termasuk limbah kotoran udang dan obat-obatan.
Dalam budi daya perikanan perbandingan ini dikenal dengan istilah Food Convertion Ratio (FCR) atau rasio konversi pakan dalam perikanan. FCR adalah jumlah total berat pakan buatan dibandingkan dengan jumlah berat total komoditas hasil panen. FCR yang umum untuk udang antara 1,2 – 1,5.
Di DIY rata-rata FCR yang digunakan petambak udang adalah 1,2. Artinya setiap 1,2 kilogram pakan menghasilkan satu kilogram udang vaname atau perbandingan 1,2:1. Alhasil ada sekitar 0,2 kilogram pakan atau sekitar 16,6% pakan udang yang tidak terserap alias terbuang.

TAMBAK UDANG HARUS MENGANTONGI AMDAL
Pengembangan budidaya udang merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan perikanan budidaya di Indonesia. Selain potensi sumberdaya lahan yang sangat besar, pengembangan usaha budidaya udang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan devisa negara, serta menciptakan lapangan kerja dan kesempatan usaha yang cukup luas, khususnya di bidang sarana penunjang seperti usaha pembenihan (hatchery), pabrik pakan, peralatan tambak dan usaha penanganan hasil.
Budidaya udang di Indonesia, khususnya udang windu (Penaeus monodon) mulai berkembang pesat sejak tahun 1987, dengan menerapkan teknologi : (a) sederhana (ekstensif), (b) madya (semi-intensif), dan (c) maju (intensif). Pada awalnya usaha budidaya udang dilakukan hanya oleh pembudidaya tambak dengan skala kecil. Namun dengan semakin menariknya usaha budidaya udang, sektor swasta mulai menanamkan modalnya di bidang usaha ini dengan skala besar.
PEMILIHAN LOKASI TAMBAK
Pemilihan lokasi usaha budidaya udang dimaksudkan untuk menjamin keselarasan lingkungan antara lokasi pengembangan usaha budidaya dengan pembangunan wilayah di daerah dan keadaan sosial di lingkungan sekitarnya. Pemilihan lokasi dilakukan dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kelayakan suatu lahan untuk konstruksi tambak dan operasionalnya, mengidentifikasi kemungkinan dampak negatif dari pengembangan lokasi dan akibat sosial yang ditimbulkannya, memperkirakan kemudahan teknis dengan finansial yang layak dan meminimalkan timbulnya resiko-resiko yang lain.
- Pembangunan tambak tidak merusak/menghilangkan fungsi hutan mangrove atau habitat basah lainnya.
- Sesuai dengan tata ruang yang diperuntukkan bagi usaha budidaya udang/ikan dan telah mempunyai kekuatan hukum dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda).
- Mempunyai kemiringan lahan yang cukup landai.
- Terhindar dari kemungkinan terjadinya pencemaran akibat limbah yang mencemari lingkungan.
Air buangan tambak mengandung bahan-bahan cemaran yang bersumber dari sisa-sisa pakan, hasil ekskresi metabolit, detritus, mikroorganisme, dan residu berbagai bahan pengendali lingkungan dan penyakit. Bahan-bahan tersebut pada umumnya dapat sebagai pencemar air di lingkungan alami tambak. Oleh karena itu, setiap kegiatan budidaya udang harus melakukan perbaikan kualitas air buangan tambak agar dapat memenuhi Baku Mutu Efluen Tambak yang ditetapkan. Untuk memperbaiki mutu air buangan tambak, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
- Melakukan upaya-upaya pengendapan bahan tersuspensi melalui tandon.
- Menggunakan biofilter untuk pemulihan kualitas air.
- Mengangkat bahan-bahan terendapkan dari tandon.
- Penanaman mangrove pada areal pembuangan.
- Menerapkan sistem resirkulasi/pergantian air minimum (less water exchange) pada tambak intensif atau semi intensif, khususnya di kawasan padat tambak dan tercemar.
Pentingnya AMDAL dalam Budidaya Udang
Budidaya udang adalah salah satu usaha yang proses dan kegiatannya dapat mempengaruhi lingkungan sekitar. Proses budidaya udang menghasilkan limbah dari sisa pakan dan kotoran udang yang dapat mencemari lingkungan, menimbulkan bau busuk, dan menjadi racun bagi biota lain apabila tidak diolah dengan baik. Maka dari itu, AMDAL diperlukan untuk melindungi usaha budidaya udang dan meminimalkan dampak yang merugikan bagi masyarakat dan lingkungan.
imbah cair dan padat dari tambak udang langsung ke lingkungan sekitar tanpa melalui proses pengolahan sebelumnya, yang dapat mengakibatkan:
- Pergeseran dominasi sistem alami photoautograph (plankton sebagai produsen primer laut) oleh sistem organotroph bakteria karena kelimpahan bahan organic dalam air laut dengan indikasi naiknya konsentrasi bahan organic dan turunnya ORP;
- Perluasan zona pendangkalan di muara sungai dan perairan pesisir;
- Pembentukan lapisan anoksia (rendah oksigen) dan euxinia (tinggi sulfida) di laut;
- Pembentukan lapisan biofilm vibrio parahaemolyticus (vp) di sedimen, pada rotasi daur hidup siklus alaminya (saat terjadi upwelling di laut), koloni vp terdispersi dalam air laut dan melakukan penempelan Kembali di substrat lain seperti pada plankton, pasir filter air, udang, ikan, kerrang, atau rumput laut
- Koloni bakteri Vibrio parahaemolyticus berupa biofilm memiliki resistensi yang tinggi terhadap antibiotic, probiotik dan disinfektan
- 70% tokisn PirA & PirB VPAMPNO terdeteksi di sludge/lumpur dan 30% di air dan substrat lainnya seperti krustasea liar.
PERIJINAN TAMBAK
Tambak udang Vaname adalah usaha perikanan budidaya yang semakin populer di Indonesia karena dapat memberikan keuntungan yang cukup besar. Namun, untuk melakukan usaha tambak udang Vaname, dibutuhkan perijinan yang harus dipenuhi oleh para pelaku usaha.
Prosedur dan syarat perijinan tambak udang Vaname di Indonesia meliputi:
- Izin Lokasi Para pelaku usaha tambak udang Vaname harus memiliki izin lokasi dari pemerintah daerah setempat. Izin ini diperoleh dengan mengajukan permohonan dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
- Izin Usaha Setelah mendapatkan izin lokasi, pelaku usaha harus memperoleh izin usaha dari Dinas Kelautan dan Perikanan setempat. Izin usaha ini diperoleh dengan mengajukan permohonan dan memenuhi persyaratan seperti memiliki rencana usaha dan studi kelayakan.
- Izin Air Untuk mendapatkan izin air, pelaku usaha harus mengajukan permohonan kepada Dinas Lingkungan Hidup dan memenuhi persyaratan seperti memperoleh izin pengambilan air dan mengikuti standar kualitas air.
- Izin Lingkungan Pelaku usaha juga harus memiliki izin lingkungan yang dikeluarkan oleh Dinas Lingkungan Hidup setempat. Izin ini diperoleh dengan mengajukan permohonan dan memenuhi persyaratan seperti mematuhi aturan pengelolaan limbah.
- Izin Penggunaan Lahan Jika tambak udang Vaname ditanam di lahan yang tidak dimiliki, pelaku usaha harus memperoleh izin penggunaan lahan dari pemilik lahan.
- Izin Penggunaan Alat Tangkap Pelaku usaha juga harus memperoleh izin penggunaan alat tangkap yang dikeluarkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan setempat.
- Izin Pemanfaatan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Apabila tambak udang Vaname ditanam di daerah pesisir atau pulau-pulau kecil, pelaku usaha harus memperoleh izin pemanfaatan pesisir dan pulau-pulau kecil dari Dinas Kelautan dan Perikanan setempat.
Itulah beberapa persyaratan dan prosedur perijinan tambak udang Vaname di Indonesia. Pelaku usaha harus memenuhi semua persyaratan tersebut untuk dapat memulai usaha budidaya tambak udang Vaname secara legal.


