Booth Camp Kemdiktisaintek 2026: Asep Yudha Wirajaya Tekankan Kepatuhan Panduan dalam Penyusunan PKM

Booth Camp Kemdiktisaintek 2026: Asep Yudha Wirajaya Tekankan Kepatuhan Panduan dalam Penyusunan PKM
Booth Camp Kemdiktisaintek 2026: Asep Yudha Wirajaya Tekankan Kepatuhan Panduan dalam Penyusunan PKM
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM,  Surakarta – Kegiatan Booth Camp Kemdiktisaintek 2026 yang diselenggarakan di Universitas Sahid Surakarta menghadirkan Asep Yudha Wirajaya sebagai reviewer sekaligus narasumber utama. Kegiatan ini bertujuan memberikan pembekalan kepada mahasiswa yang akan mengajukan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), sebuah program pendanaan pemerintah yang dikenal memiliki proses seleksi sangat ketat.

Dalam paparannya, Asep Yudha Wirajaya menegaskan bahwa kesesuaian proposal dengan template atau panduan resmi PKM menjadi faktor paling utama dalam proses penilaian. Menurutnya, kepatuhan terhadap aturan administratif merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap pengusul.

“Kepatuhan terhadap panduan dalam PKM merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar lagi,” tegas Asep di hadapan para peserta.

Baca Juga  Video|| Haflah Akhirussanah MAN Pacitan 2022; Saksi Kutancapkan Janji Tuk Meraih Cita-cita dan Harapan

Ia kemudian menjelaskan proses seleksi proposal secara rinci, termasuk berbagai ketentuan teknis yang harus diperhatikan mahasiswa. Beberapa di antaranya adalah batasan judul proposal yang tidak boleh melebihi 20 kata, serta jumlah halaman proposal yang dibatasi maksimal 10 halaman. Selain itu, mahasiswa juga diingatkan untuk menghadirkan gagasan yang segar, inovatif, dan orisinal agar memiliki peluang lebih besar untuk lolos seleksi.

Menurut Asep, kualitas proposal juga sangat dipengaruhi oleh kedalaman pembahasan. Proposal yang terlalu singkat, misalnya kurang dari delapan halaman, sering kali dinilai kurang optimal oleh reviewer karena tidak mampu menjelaskan gagasan secara komprehensif.

“Reviewer memiliki waktu kerja yang terbatas. Tahap pertama biasanya meninjau judul untuk melihat apakah ide tersebut benar-benar baru atau sudah banyak ditemukan melalui pencarian di internet,” jelasnya.

Baca Juga  Membumikan Multikultural di Lembaga Sekolah

Sebagai strategi tambahan menghadapi seleksi yang kompetitif, Asep juga membagikan beberapa kiat teknis kepada para mahasiswa. Salah satunya adalah dengan menyertakan data kuantitatif pada bagian akhir proposal. Langkah ini dinilai dapat membantu reviewer memahami inti penelitian dengan lebih cepat, mengingat keterbatasan waktu dalam membaca uraian deskriptif yang panjang.

Di akhir pemaparannya, Asep turut memberikan pandangan mengenai penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam penyusunan proposal. Ia tidak menolak pemanfaatan teknologi tersebut, namun mengingatkan mahasiswa agar tetap kritis dalam menggunakannya.

“Kita jangan terlalu polos menggunakan AI, kalau bisa gunakan sebagai partner kritis,” ujarnya.

Melalui kegiatan pembekalan ini, diharapkan para mahasiswa di Universitas Sahid Surakarta dapat lebih siap dalam menyusun proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang berkualitas, sehingga memiliki peluang lebih besar untuk lolos tahap seleksi dan memperoleh pendanaan dari pemerintah.

Baca Juga  Presiden Prabowo Terima Bill Gates di Istana Merdeka, Bahas Isu Pembangunan Berkelanjutan

(Penulis: Musa Pratama & Wisnu Agung Wicaksono)