Diskusi Literasi Obyek Pemajuan Kebudayaan: Mengkaji Situs Watu Gilang Wareng di Punung (Dana Indonesiana 2025)

Diskusi Literasi Obyek Pemajuan Kebudayaan: Mengkaji Situs Watu Gilang Wareng di Punung (Dana Indonesiana 2025)
Diskusi Literasi Obyek Pemajuan Kebudayaan: Mengkaji Situs Watu Gilang Wareng di Punung (Dana Indonesiana 2025)
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, OPK-PACITAN – Upaya inventarisasi dan pengkajian Objek Pemajuan Kebudayaan terus dilakukan oleh para pegiat literasi dan pemerhati budaya di Kabupaten Pacitan. Salah satu kegiatan tersebut berlangsung dalam forum “Diskusi Literasi Obyek Pemajuan Kebudayaan Wilayah Donorojo dan Punung” yang menghadirkan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Amat Taufan, bersama peneliti budaya Dr. Agoes Hendriyanto, Rabu (8/4/26).

Diskusi tersebut mengangkat kajian mengenai situs Watu Gilang Wareng yang berada di Desa Wareng, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan. Situs ini dikenal oleh masyarakat setempat sebagai tempat yang memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat.

Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, lokasi tersebut diyakini pernah menjadi tempat bertapa atau menyepi seorang panglima perang kepercayaan Pangeran Diponegoro, yakni R. Bagus Prakoso yang kemudian dikenal dengan sebutan Banteng Wareng. Dalam kisah tutur masyarakat, R. Bagus Prakoso bermeditasi di sebuah batu besar berwarna hitam yang dikenal sebagai Watu Gilang, yang terletak di tepi aliran sungai dan dinaungi oleh pohon lo serta pohon aren.

Baca Juga  Selalu Berulah, KKB Bikin Papua Bakal Tak Ada Generasi Penerus

Melalui proses spiritual yang dalam, ia disebut menerima sasmito langit atau pertanda ilahi yang kemudian mengilhami perubahan namanya dari R. Bagus Prakoso menjadi Banteng Wareng. Dalam filosofi tradisi Jawa kuno, batu hitam kerap dimaknai sebagai batu suci, tempat seseorang bermunajat kepada Tuhan untuk memohon kekuatan dan keselamatan.

Situs Watu Gilang Wareng di Punung

Dari makna simbolik tersebut, masyarakat setempat kemudian mengaitkan kata “Wareng” dengan warna hitam yang melambangkan kesunyian, kedalaman batin, serta kesucian spiritual. Nama itu kemudian diyakini menjadi asal-usul penamaan Desa Wareng.

Setelah menjalani tapa di lokasi tersebut, dalam kisah tradisi lisan diceritakan bahwa Banteng Wareng memperoleh kekuatan dan ketangguhan luar biasa, laksana seekor banteng yang mampu menghancurkan kekuatan lawan-lawannya di medan pertempuran. Oleh karena itu, situs Watu Gilang Wareng hingga kini masih dianggap sakral oleh masyarakat sekitar, terutama bagi mereka yang memiliki hajat atau memohon kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Baca Juga  Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Abdimas STKIP PGRI Pacitan Tahun 2022

Secara historis, kisah ini juga dikaitkan dengan masa Perang Jawa yang berlangsung selama lima tahun, dari 1825 hingga 1830. Dalam konteks tersebut, wilayah Pacitan dipercaya menjadi salah satu tempat bagi para laskar Diponegoro untuk melakukan latihan kanuragan, penguatan spiritual, serta membangun strategi perjuangan.

Dalam diskusi tersebut, Amat Taufan menegaskan bahwa kajian terhadap situs-situs budaya seperti Watu Gilang Wareng merupakan bagian penting dari upaya inventarisasi dan dokumentasi Objek Pemajuan Kebudayaan di Pacitan. Melalui kajian yang sistematis, nilai-nilai sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal yang hidup dalam tradisi masyarakat dapat tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Sementara itu, Dr. Agoes Hendriyanto menambahkan bahwa pendekatan literasi budaya yang menggabungkan tradisi lisan, kajian sejarah, dan penelitian lapangan menjadi langkah strategis untuk memperkuat identitas budaya lokal Pacitan.

Baca Juga  Bazaar OWK Pendidik, Menyambut Bulan Ramadan 1443 H

Kegiatan diskusi ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mendokumentasikan dan melestarikan warisan budaya Pacitan, sekaligus memperkaya khazanah pengetahuan tentang sejarah dan spiritualitas yang hidup dalam masyarakat.

Penulis: Agoes Hendriyanto, Amat Taufan