Limasan Tua di Pacitan: Potret Rumah Priyayi Abad ke-19 (Dana Indonesiana 2025)

Limasan Tua di Pacitan: Potret Rumah Priyayi Abad ke-19 (Dana Indonesiana 2025)
Limasan Tua di Pacitan: Potret Rumah Priyayi Abad ke-19 (Dana Indonesiana 2025)
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, OPK PACITAN – Rumah limasan di Pacitan merupakan wujud pengetahuan dan teknologi tradisional yang memiliki nilai budaya tinggi, sehingga penting untuk dilakukan inventarisasi dan kajian secara sistematis sebagai upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan lokal Pacitan.

Rumah limasan yang masih banyak dijumpai di wilayah Pacitan,  merepresentasikan tipologi hunian priyayi di Pacitan pada abad ke-19 yang masih memperlihatkan pengaruh kuat arsitektur tradisional Jawa, khususnya bentuk limasan berkembang yang lebih sederhana dibandingkan rumah joglo bangsawan tinggi.

Secara visual, bangunan utama memiliki atap limasan dengan kemiringan sedang, menggunakan genteng tanah liat berwarna cokelat kemerahan yang menjadi ciri khas rumah Jawa masa kolonial. Struktur atap tampak cukup kokoh meskipun telah mengalami pelapukan, menunjukkan penggunaan kayu sebagai rangka utama—kemungkinan dari jenis kayu jati atau kayu keras lokal.

Baca Juga  Indra Sjafri, Timnas U-22 Sea Games Semakin Kompak

Dinding rumah didominasi tembok tebal berplester kapur, dengan bagian bawah mulai mengalami pengelupasan, menandakan usia bangunan yang cukup tua serta teknik konstruksi tradisional yang belum menggunakan semen modern.

Tata ruang rumah ini memperlihatkan pembagian khas rumah priyayi, yaitu adanya bangunan induk (dalem) yang difungsikan sebagai ruang inti keluarga, serta bangunan tambahan di samping atau belakang yang kemungkinan berfungsi sebagai gandok (ruang tambahan) atau dapur.

Teras depan yang sedikit ditinggikan dari tanah menunjukkan fungsi semi-publik, tempat menerima tamu atau aktivitas sosial ringan. Keberadaan pilar sederhana di teras samping memperlihatkan elemen transisi antara ruang luar dan dalam.

Ciri lain yang menonjol adalah penggunaan bukaan jendela kayu berdaun ganda dengan ventilasi sederhana, yang berfungsi sebagai sirkulasi udara alami—menyesuaikan dengan iklim tropis Pacitan. Hal ini mencerminkan pengetahuan lokal dalam menciptakan hunian yang adaptif terhadap lingkungan tanpa teknologi modern.

Baca Juga  Kejutan Terjadi di Babak Penyisihan Grup A Piala Uber; Pebulutangkis Putri Indonesia, Bilqis Prasista Kalahkan Peringkat 1 Dunia Akane Yamaguchi

Dari sisi sosial-budaya, rumah seperti ini umumnya dihuni oleh kalangan priyayi menengah—yakni aparat birokrasi lokal atau tokoh masyarakat pada masa kolonial Belanda. Arsitekturnya mencerminkan status sosial yang terhormat, namun tidak semegah joglo bangsawan keraton. Kesederhanaan bentuk berpadu dengan fungsi yang jelas menunjukkan nilai efisiensi, keteraturan, serta etika hidup masyarakat Jawa saat itu.

Secara keseluruhan, rumah ini bukan sekadar bangunan fisik, tetapi juga merupakan representasi warisan budaya yang memuat nilai arsitektur, sosial, dan historis. Keberadaannya penting untuk diinventarisasi dan dikaji sebagai bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan, khususnya dalam kategori arsitektur tradisional dan permukiman bersejarah di Pacitan.

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, S.P.,M.Pd.

Baca Juga  Pelatihan Penulisan Jurnal Internasional Bersama S3 Kajian Budaya Universitas Sebelas Maret