Pacitan dan Pergulatan Peradaban: Dari Tradisi Lokal ke Struktur Kekuasaan Jawa (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS.COM, OPK PACITAN – Sejarah Pacitan menyimpan narasi panjang yang merekam pertemuan berbagai peradaban—dari pengaruh Hindu-Buddha, masuknya Islam, hingga masa kolonial Belanda. Dalam tradisi lokal, Islam di Pacitan disebut dibawa oleh tokoh-tokoh penting seperti Ki Ageng Petung (Kyai Siti Geseng), bersama Syekh Maulana Maghribi dan Kyai Ampok Boyo, serta didukung oleh Kyai Menaksopal dari Trenggalek.
Peralihan Kekuasaan dan Islamisasi Wengker Kidul
Wilayah Wengker Kidul pada masa awal dikaitkan dengan kekuasaan Ki Buwono Keling yang diyakini menempati wilayah tersebut sejak akhir abad ke-12 atas titah Kerajaan Majapahit. Proses Islamisasi tidak berlangsung tanpa konflik. Dalam kisah tutur, Ki Ageng Petung berhadapan dengan Buwono Keling yang menolak ajaran Islam. Pertarungan simbolik tersebut dimenangkan oleh Ki Ageng Petung, yang kemudian menandai awal peradaban baru dengan menancapkan bambu sebagai tonggak spiritual di wilayah Wengker Kidul.
Awal Pemukiman dan Pembagian Wilayah
Pada awal abad ke-16, ketika Kesultanan Demak mencapai puncak kejayaan, Ki Ageng Petung mulai membuka wilayah hutan Ngrejasa setelah menjalani pertapaan di kawasan Loeweng Sewu. Dari sinilah berkembang pemukiman awal di Pacitan.
Dalam proses babat alas, terjadi dinamika menarik antara Ki Ageng Petung dan Kyai Ampok Boyo (Posong). Keduanya akhirnya membagi wilayah Pacitan:
- Kyai Posong menguasai wilayah utara hingga perbatasan Ponorogo
- Ki Ageng Petung menguasai wilayah selatan hingga pesisir, termasuk kawasan Punung dan sekitarnya
Wilayah seperti Mojo dan Malingmati kemudian berkembang sebagai pusat-pusat pemukiman awal yang memiliki keterkaitan erat dengan warisan Majapahit dan legenda lokal, termasuk kisah Gusti Kalak.
Bukti Budaya: Wayang Beber
Salah satu bukti kuat keterkaitan Pacitan dengan Majapahit adalah keberadaan Wayang Beber di Dusun Karangtalun, Desa Gedompol. Tradisi ini memuat kisah Panji seperti Joko Kembang Kuning dan Dewi Sekartaji, yang berasal dari periode abad ke-14–15. Artefak ini menjadi bukti kesinambungan budaya dari era Hindu-Buddha ke masa berikutnya.
Munculnya Nama Pacitan dan Era Mataram
Nama Pacitan diyakini muncul dalam konteks perang gerilya abad ke-18, khususnya dalam konflik Perang Palihan Nagari. Dalam kisah populer, Pangeran Mangkubumi mendapatkan kekuatan kembali setelah meminum ramuan buah pace, sehingga wilayah tersebut dikenal sebagai “pace sak pengetan” yang kemudian berkembang menjadi Pacitan.
Melalui Perjanjian Giyanti, wilayah Mataram terbagi menjadi dua kekuasaan: Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Dampaknya, wilayah Pacitan juga terbagi dalam pengaruh kedua kerajaan tersebut.
Kepemimpinan Lokal dan Dinamika Kolonial
Tokoh penting dalam sejarah pemerintahan Pacitan adalah Setroketipo yang diangkat sebagai bupati oleh Sultan Hamengkubuwana I dengan gelar R.T. Setrowidjojo I (1757–1812). Kepemimpinan ini berlanjut hingga masa kolonial Belanda, dengan dinamika pergantian bupati yang dipengaruhi kepentingan politik kolonial.
Tokoh lain yang menonjol adalah Kyai Joyoniman (Mas Tumenggung Jogokaryo I), yang memiliki garis keturunan dari Buwono Keling dan sempat terlibat dalam perjuangan Perang Diponegoro. Keterlibatannya membuat ia sempat diasingkan oleh penguasa kolonial.
Pada masa kolonial, struktur pemerintahan Pacitan berada di bawah sistem administrasi Hindia Belanda, dengan pejabat seperti Asisten Residen dan Kontrolir yang mengatur wilayah secara administratif. Dokumen laporan tahun 1905 menjadi salah satu sumber penting dalam memahami kondisi sosial dan pemerintahan Pacitan saat itu.
Pacitan dalam Lintasan Sejarah
Dari masa Majapahit, Islamisasi, Mataram Islam, hingga kolonialisme, Pacitan mengalami transformasi besar dalam struktur sosial, politik, dan budaya. Wilayah ini tidak hanya menjadi ruang geografis, tetapi juga ruang historis yang merekam pertemuan berbagai nilai dan kekuatan.
Narasi panjang ini menunjukkan bahwa Pacitan memiliki kekayaan sejarah yang kompleks dan berlapis. Oleh karena itu, upaya inventarisasi, penelitian, dan pelestarian sejarah lokal menjadi sangat penting agar identitas dan memori kolektif masyarakat tetap terjaga serta dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.
