Makam Kyi Santri di Mojo, Punung “Dana Indonesiana 2025”

Makam Kyi Santri di Mojo, Punung “Dana Indonesiana 2025”
Ritus Makam Kyi Santri di Mojo, Punung "Dana Indonesiana 2025"
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, OPK-PACITAN – Makam Kyi Santri yang berada di Dusun Mojo, Desa Punung, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan merupakan salah satu situs budaya yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat setempat. Dalam tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat, tokoh ini dikenal dengan berbagai nama, antara lain Kyi Mojo, Kyi Bodo, Syeh Sunan Sulang, dan Syeh Sunan Siti Geseng. Keragaman penyebutan tersebut menunjukkan adanya dinamika dalam proses pewarisan cerita rakyat yang berkembang dari generasi ke generasi.

Berdasarkan cerita yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, Kyi Santri diperkirakan hidup sekitar abad ke-14 Masehi, yaitu pada masa ketika sebagian besar masyarakat di wilayah Punung masih menganut agama Hindu. Pada periode tersebut, kawasan ini berada dalam pengaruh sebuah kerajaan lokal yang dikenal dengan nama Kerajaan Wiranti.

Dalam konteks sejarah wilayah, kawasan Mojo dikenal sebagai salah satu pusat permukiman lama yang sering disebut sebagai “kota tua”. Wilayah ini berkembang sebagai pusat kehidupan masyarakat karena didukung oleh kondisi geografis yang subur, dengan lembah serta telaga yang berperan penting dalam mengairi lahan pertanian.

Kondisi alam yang subur menjadikan Mojo sebagai kawasan yang strategis bagi aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat pada masa lampau. Letaknya yang relatif terbuka memungkinkan wilayah ini menjadi tempat pertemuan berbagai pengaruh budaya dan peradaban. Dalam situasi inilah Kyi Santri menjalankan aktivitas dakwahnya dengan hadir langsung di tengah kehidupan masyarakat agraris.

Baca Juga  Yuk Kuliah ! KIP Kuliah STKIP PGRI Pacitan Ditutup 29 Agustus 2020

Menurut tradisi tutur masyarakat, Kyi Santri memilih menetap di kawasan yang dekat dengan aliran sungai. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa dakwah yang dilakukan tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang bergantung pada sumber air sebagai penopang aktivitas pertanian dan kebutuhan domestik. Kedekatan dengan sumber air juga mencerminkan hubungan antara aktivitas keagamaan, lingkungan alam, dan kehidupan sosial masyarakat.

Kyi Santri dikenal sebagai seorang ulama yang menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan yang damai dan persuasif. Nilai-nilai keagamaan yang diajarkan disampaikan secara sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat setempat. Melalui cara tersebut, ajaran Islam dapat diterima secara perlahan tanpa menimbulkan konflik dengan tradisi dan keyakinan yang telah lebih dahulu berkembang di masyarakat.

Di sekitar lokasi yang diyakini sebagai tempat tinggal Kyi Santri terdapat sebuah belik atau mata air yang hingga saat ini masih dikenal oleh masyarakat. Mata air tersebut dipercaya tidak pernah mengalami kekeringan, bahkan pada musim kemarau sekalipun. Hingga kini, sumber air tersebut masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, khususnya sebagai sumber air konsumsi. Keberadaan mata air ini tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga dipandang sebagai simbol hubungan spiritual antara tokoh penyebar agama, lingkungan alam, serta kehidupan sosial masyarakat yang terpelihara secara turun-temurun.

Baca Juga  Upacara Adat Jangkrik Genggong: Melestarikan Tradisi untuk Keselarasan dan Keharmonisan di Desa Sidomulyo, Pacitan, Jawa Timur

Dalam perspektif Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), situs Makam Kyi Santri memiliki nilai penting karena memuat tradisi lisan masyarakat. Tradisi lisan yang harus dilestarikan agar jati diri bangsa akan lestari.

Tradisi lisan masyarakat terkait dengan Kyi Santri  dapat dikaitkan dengan unsur sejarah, karena berkaitan dengan proses awal penyebaran Islam di wilayah Pacitan. Selain itu, kisah mengenai tokoh Kyi Santri yang diwariskan secara turun-temurun juga menjadikan situs ini berkaitan erat dengan unsur tradisi lisan.

Di sisi lain, keberadaan makam tersebut juga berkaitan dengan unsur religiusitas dan ritus budaya yang masih dipraktikkan oleh masyarakat hingga saat ini. Aktivitas ziarah yang dilakukan oleh masyarakat merupakan bentuk penghormatan kepada tokoh yang dianggap memiliki peran penting dalam sejarah spiritual masyarakat setempat. Dalam praktiknya, kegiatan ziarah biasanya dilakukan dengan tata cara tertentu yang diwariskan secara turun-temurun.

Bagi masyarakat, makam leluhur tidak hanya dipahami sebagai tempat peristirahatan terakhir seseorang, tetapi juga sebagai ruang spiritual yang memiliki makna simbolik. Sebagian masyarakat meyakini bahwa kunjungan ke makam dapat dilakukan melalui serangkaian prosesi tertentu. Prosesi tersebut umumnya meliputi pembacaan doa, membersihkan area makam, menaburkan bunga, hingga melakukan laku spiritual yang disesuaikan dengan tradisi dan keyakinan yang berkembang di lingkungan masyarakat setempat.

Dalam perspektif kebudayaan, praktik ritual di makam tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal masih terus hidup dan dipertahankan oleh masyarakat Pacitan. Aktivitas ini mencerminkan adanya hubungan yang erat antara nilai religius, tradisi budaya, serta identitas sosial masyarakat yang terbentuk melalui perjalanan sejarah yang panjang. Melalui praktik tersebut, masyarakat tidak hanya mengenang tokoh masa lalu, tetapi juga menjaga kesinambungan nilai-nilai spiritual yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Baca Juga  [VIDEO] Pesona Sumber Daya Alam "PANTAI SRAU" Pacitan

Pendokumentasian tradisi lisan yang berkaitan dengan situs Makam Kyi Santri juga memiliki landasan hukum yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dalam undang-undang tersebut disebutkan bahwa tradisi lisan dan ritus merupakan salah satu dari sepuluh kategori Objek Pemajuan Kebudayaan yang perlu dilindungi, dikembangkan, dimanfaatkan, dan dibina.

Oleh karena itu, kegiatan penelitian, penulisan, serta dokumentasi terhadap cerita rakyat, legenda lokal, maupun kisah tokoh spiritual yang berkembang di masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya pemajuan kebudayaan.

Melalui kegiatan inventarisasi dan kajian yang sistematis, berbagai nilai sejarah, spiritual, serta kearifan lokal yang terkandung dalam situs Makam Kyi Santri dapat terdokumentasikan dengan lebih baik. Upaya ini tidak hanya berfungsi untuk melindungi warisan budaya lokal, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal yang berperan dalam memperkuat identitas budaya masyarakat Pacitan sekaligus memperkaya khazanah kebudayaan nasional.

 

Penulis: Amat Taufan, Agoes Hendriyanto