Potret Pacitan: Membaca Pacitan dari Alam, Manusia, Sejarah, hingga Kebudayaan
Resensi Buku Potret Pacitan: Alam, Demografi, dan Dinamika Budaya
Judul: Potret Pacitan: Alam, Demografi, dan Dinamika Budaya
Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, S.P., M.Pd.; Muhammad Rafid Musyaffa’, S.T.; Indah Nawangsari, S.H.; Amat Taufan, S.Sos.
Penyunting: Muhamad Rafid Romadhoni, S.T.
Penelusuran Situs: Zainal Fanani, S.Pd.; Amanda; Muhammad Ifan; Muhammad Nurul Huda
Penerbit: CV Nata Karya bekerja sama dengan Socio Cultura Indonesia
Tahun Terbit: 2026
ISBN: 978-623-8763-74-0
Tebal: 313 halaman
Pacitan yang Tidak Sekadar Sebuah Wilayah
Membaca Potret Pacitan: Alam, Demografi, dan Dinamika Budaya seperti membuka sebuah album besar tentang Pacitan. Di dalamnya tidak hanya ditemukan gambaran geografis, jumlah penduduk, sejarah, situs, tradisi, dan kesenian, tetapi juga upaya memahami bagaimana manusia Pacitan membangun hubungan dengan ruang hidupnya.
Buku setebal 313 halaman ini menempatkan Pacitan bukan sekadar sebagai wilayah administratif di pesisir selatan Jawa Timur. Pacitan dipotret sebagai ruang perjumpaan antara alam, manusia, sejarah, kepercayaan, dan kebudayaan. Buku ini diterbitkan CV Nata Karya Anggota IKAPI bekerja sama dengan Socio Cultura Indonesia pada 2026 dan memiliki ISBN 978-623-8763-74-0.
Gagasan tersebut terasa sejak bagian awal buku. Pacitan digambarkan memiliki bentang alam pegunungan, karst, lembah, sungai, dan pesisir yang tidak hanya menjadi latar geografis, tetapi turut membentuk karakter kehidupan masyarakat. Interaksi manusia dengan alam melahirkan pengetahuan tradisional, kehidupan agraris, tradisi pesisir, hingga berbagai bentuk kearifan lokal.
Dari Data Demografi Menuju Wajah Masyarakat
Bab pertama membawa pembaca mengenali Pacitan melalui wilayah, karakteristik alam, demografi, akulturasi budaya, geografis, pengaruh kepercayaan serta agama Hindu, Buddha, dan Islam, sejarah Pendopo Pacitan, sejarah pelabuhan, serta jejak adat istiadat yang berkaitan dengan Mataram Islam.
Bagian demografi memberikan dasar faktual untuk memahami masyarakat Pacitan. Buku memanfaatkan data BPS, antara lain mengenai jumlah penduduk, kepadatan, angkatan kerja, serta komposisi penduduk menurut agama. Data tersebut kemudian ditempatkan dalam pembacaan sosial budaya yang lebih luas.
Menariknya, data tidak berhenti sebagai angka. Buku mencoba menghubungkan kondisi demografis dengan terbentuknya kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Dengan demikian, pembaca diajak memahami bahwa kebudayaan selalu tumbuh dalam ruang kehidupan manusia yang konkret.
Pacitan sebagai Ruang Akulturasi
Salah satu bagian penting buku ini adalah pembahasan mengenai akulturasi dan keragaman budaya Pacitan.
Pacitan dibaca sebagai wilayah yang mengalami proses panjang perjumpaan berbagai kebudayaan. Jejak kepercayaan lokal, Hindu-Buddha, Islam, serta pengaruh budaya Mataraman menjadi bagian dari proses pembentukan identitas masyarakat.
Tradisi seperti slametan, bersih desa, ruwatan, kesenian, ritual, dan berbagai praktik sosial menjadi contoh bagaimana masyarakat tidak selalu menghilangkan kebudayaan lama ketika menerima pengaruh baru. Sebaliknya, terjadi proses adaptasi dan akulturasi yang melahirkan bentuk kebudayaan baru.
Pada titik inilah buku memiliki nilai penting: kebudayaan Pacitan tidak dilihat sebagai sesuatu yang statis, tetapi sebagai hasil perjalanan panjang manusia dalam berinteraksi dengan alam, sejarah, agama, dan masyarakat lain.
Sejarah Agraria dan Sejarah Pacitanian
Bab kedua membawa pembaca memasuki Sejarah Agraria Pacitan, sedangkan bab ketiga membahas Sejarah Pacitan. Struktur tersebut memperlihatkan bahwa penulis tidak hanya tertarik pada sejarah pemerintahan, tetapi juga pada hubungan masyarakat dengan tanah dan ruang kehidupannya.
Bab sejarah kemudian bergerak dari Pacitanian masa prasejarah, Situs Watupatok, Ki Buwono Keling, perkembangan dakwah, hubungan dengan Majapahit, hingga masa kolonial dan terbentuknya wilayah administratif Pacitan.
Perspektif semacam ini membuat sejarah Pacitan dapat dibaca sebagai perjalanan panjang. Pacitan tidak hadir tiba-tiba sebagai sebuah kabupaten, melainkan terbentuk melalui lapisan-lapisan sejarah yang meninggalkan jejak pada situs, tokoh, tradisi, tata ruang, dan kehidupan masyarakat.
Dua Belas Kecamatan sebagai Arsip Kebudayaan
Kekuatan paling menonjol dari buku ini terdapat pada Bab 4: Sebaran Sosial Budaya Pacitanian.
Sebanyak 12 kecamatan di Pacitan ditelusuri melalui berbagai situs, tradisi, ritus, kesenian, pengetahuan tradisional, tokoh, bangunan bersejarah, hingga kuliner. Dari Kecamatan Pacitan, Kebonagung, Arjosari, Tulakan, Ngadirojo, Pringkuku, Punung, Donorojo, Tegalombo, Nawangan, Bandar, hingga Sudimoro, masing-masing memiliki jejak kebudayaan yang berbeda.
Pembaca menemukan Wayang Beber, Ceprotan, Tetaken, Badut Sinampurno, Kethek Ogleng, Rontek, Jangkrik Genggong, Oglor, Brojo Geni, situs-situs makam dan gua, prasasti, ritus masyarakat, teknologi tradisional, hingga makanan tradisional.
Dengan pendekatan tersebut, buku ini seolah mengatakan bahwa arsip kebudayaan Pacitan tidak hanya berada di museum atau perpustakaan. Arsip itu juga hidup di desa, makam, sawah, gua, rumah, panggung kesenian, dapur, ritual, dan ingatan masyarakat.
Kebudayaan yang Masih Hidup
Buku ini juga memiliki kelebihan karena tidak memperlakukan warisan budaya hanya sebagai benda peninggalan masa lalu.
Dalam kata pengantar ditegaskan bahwa tradisi seperti Wayang Beber, Rontek, Ceprotan, Tetaken, Badut Sinampurno, Kethek Ogleng, Baritan, Kenduren, dan berbagai ritus lokal merupakan bagian dari sistem nilai masyarakat. Warisan tersebut dipahami bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi sebagai sumber identitas dan modal sosial dalam menghadapi perubahan zaman.
Pandangan ini menjadikan Potret Pacitan relevan dengan agenda pemajuan kebudayaan. Dokumentasi bukan sekadar mencatat apa yang pernah ada, tetapi juga menjaga pengetahuan agar dapat dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pakaian, Rumah, dan Makanan: Sejarah dari Hal-Hal yang Dekat
Bab kelima menawarkan perspektif yang menarik melalui pembahasan pakaian masyarakat Pacitan awal abad ke-20.
Pembahasan tidak hanya mengenai busana tradisional pesisir dan agraris, tetapi juga pakaian petani atau buruh, pakaian pelaku seni Wayang Beber, busana priyayi, pribumi terpelajar pada era kolonial, pakaian perempuan, rumah priyayi, rumah limasan buruh tani, hingga makanan tradisional iwel-iwel atau ciwel.
Bagian ini memperlihatkan bahwa sejarah sosial dapat dibaca melalui sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: apa yang dikenakan, bagaimana rumah dibangun, dan apa yang dimakan.
Dengan demikian, sejarah tidak hanya menjadi cerita tentang raja, pejabat, perang, dan pemerintahan. Sejarah juga berada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat biasa.
Kekuatan Buku
Ada beberapa kekuatan utama yang dapat dicatat.
Pertama, cakupan pembahasannya luas. Buku menghubungkan alam, demografi, sejarah, agraria, situs, tradisi, kesenian, pakaian, rumah, dan kuliner dalam satu narasi mengenai Pacitan.
Kedua, buku memiliki orientasi dokumentasi kebudayaan yang kuat. Penyusunan buku merupakan bagian dari upaya inventarisasi dan dokumentasi Objek Pemajuan Kebudayaan di Kabupaten Pacitan.
Ketiga, pembahasan berbasis wilayah membuat pembaca dapat melihat kekayaan budaya Pacitan secara lebih konkret. Dua belas kecamatan diposisikan sebagai ruang-ruang yang menyimpan jejak sosial budaya masing-masing.
Keempat, buku ini dapat menjembatani kepentingan akademik dan literasi masyarakat. Penulis menyatakan bahwa buku diharapkan menjadi referensi bagi masyarakat, akademisi, pemerintah, pelajar, dan siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap sejarah serta kebudayaan lokal.
Catatan Kritis
Sebagai sebuah karya dokumentasi kebudayaan yang cakupannya sangat luas, buku ini tentu masih membuka ruang pengembangan. Banyaknya objek yang ditampilkan membuat sebagian pembahasan belum dapat dikembangkan secara mendalam sebagaimana kajian monografis yang secara khusus membahas satu situs atau satu tradisi.
Buku ini juga akan semakin kuat apabila pada edisi berikutnya dilengkapi dengan pemetaan digital, dokumentasi visual yang lebih banyak, indeks nama dan tempat, serta pengayaan sumber primer dari arsip, manuskrip, dan wawancara sejarah lisan.
Namun, keterbatasan tersebut justru dapat menjadi peluang untuk melahirkan penelitian lanjutan. Potret Pacitan dapat dipandang sebagai peta awal yang menunjukkan begitu luasnya medan penelitian sejarah dan kebudayaan Pacitan.
Buku sebagai Upaya Melawan Lupa
Pada akhirnya, Potret Pacitan: Alam, Demografi, dan Dinamika Budaya bukan sekadar buku tentang Pacitan.
Ia merupakan sebuah ikhtiar untuk mendokumentasikan ingatan kolektif.
Ketika tradisi mulai berhadapan dengan perubahan zaman, ketika generasi muda semakin jauh dari cerita leluhurnya, dan ketika berbagai situs serta pengetahuan lokal berhadapan dengan ancaman lupa, dokumentasi menjadi bagian penting dari pelestarian.
Buku ini mengajak pembaca melihat Pacitan dari berbagai lapisan: dari bentang alam hingga manusia, dari data demografi hingga tradisi, dari prasejarah hingga sejarah modern, dari situs hingga makanan, dari panggung kesenian hingga kehidupan sehari-hari.
Karena itu, Potret Pacitan dapat dibaca sebagai jendela untuk mengenali Pacitan dan sekaligus cermin untuk melihat bagaimana masyarakatnya terbentuk oleh perjalanan sejarah yang panjang.
Buku ini pada akhirnya mengingatkan bahwa sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh jalan, gedung, dan batas administratif. Sebuah daerah juga dibangun oleh ingatan, pengetahuan, tradisi, dan cerita yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Dan melalui buku ini, sebagian dari ingatan itu telah dituliskan.
Pacitan sedang memotret dirinya sendiri—agar generasi mendatang tidak hanya mengetahui di mana Pacitan berada, tetapi juga memahami dari mana Pacitan berasal.
