Para Pemeran Film G30S/PKI: Tokoh Sejarah yang Diperankan dan Kisah Mereka Setelah Film Berakhir
Oleh:ย Jerry Massie, PhD
Setiap akhir September, film ๐ฃ๐ฒ๐ป๐๐บ๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐ธ๐ต๐ถ๐ฎ๐ป๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ ๐ฏ๐ฌ ๐ฆ ๐ฃ๐๐ kembali menjadi pembicaraan. Film karya Arifin C. Noer ini pertama kali dirilis pada 1984 dengan durasi versi panjang sekitar 271 menit.
Film tersebut menampilkan sejumlah aktor Indonesia yang memerankan tokoh-tokoh nyata dari peristiwa 1965. Karena para pemerannya tampil cukup mirip dengan tokoh yang mereka perankan, beberapa di antara mereka kemudian sangat melekat dengan karakter tersebut.
Namun, ada cerita lain yang tidak kalah menarik: kehidupan dan perjalanan karier para aktor itu setelah film selesai dibuat.
๐จ๐ ๐๐ฅ ๐๐๐ฌ๐๐ โ ๐ฆ๐ข๐๐๐๐ฅ๐ก๐ข
Umar Kayam memerankan Presiden Soekarno. Menariknya, Kayam bukan sekadar aktor. Ia adalah sastrawan, budayawan, sosiolog, akademisi, sekaligus guru besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.
Saat mempersiapkan peran Soekarno, Kayam tidak mempunyai banyak waktu untuk mempelajari seluruh buku dan pidato sang presiden. Ia kemudian memperoleh gambaran mengenai Soekarno melalui kesaksian orang-orang yang pernah bekerja di lingkungan Istana Bogor.
Setelah film tersebut, Umar Kayam tetap lebih dikenal sebagai intelektual dan sastrawan daripada sebagai aktor. Ia menulis karya-karya penting seperti ๐ฃ๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐ฃ๐ฟ๐ถ๐๐ฎ๐๐ถ dan ๐ฆ๐ฟ๐ถ ๐ฆ๐๐บ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐๐๐ธ. Pemerintah kemudian memberikan penghargaan di bidang kebudayaan kepadanya pada 2002.
Umar Kayam meninggal di Jakarta pada 16 Maret 2002 dalam usia 69 tahun.
๐๐ ๐ข๐ฅ๐ข๐ฆ๐ข ๐๐๐ง๐๐ ๐ฆ๐ โ ๐ ๐๐ฌ๐๐๐ก ๐ฆ๐ข๐๐๐๐ฅ๐ง๐ข
Nama Amoroso Katamsi mungkin menjadi pemeran yang paling kuat melekat dengan film ini. Ia memerankan Mayjen Soeharto, yang pada 1965 menjabat sebagai Panglima Kostrad.
Untuk mempersiapkan perannya, Amoroso mempelajari berbagai bahan mengenai Soeharto dan bahkan bertemu langsung dengannya di Tapos, Bogor. Pengalaman tersebut kemudian membantu membentuk gestur dan cara bicaranya ketika memerankan Soeharto.
Aktingnya mendapat pengakuan di Festival Film Indonesia 1984. Amoroso meraih Piala Citra sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik.
Yang menarik, peran Soeharto ternyata tidak berhenti pada film G30S/PKI. Amoroso kembali memerankan Soeharto dalam ๐๐ท๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ฟ๐๐ฎ ๐ญ๐ต๐ฒ๐ฒ dan kemudian sebagai Presiden Soeharto dalam ๐๐ถ ๐๐ฎ๐น๐ถ๐ธ ๐ต๐ด.
Di luar film, Amoroso juga merupakan perwira TNI Angkatan Laut dan pernah aktif dalam Gerakan Pramuka. Ia meninggal pada 17 April 2018.
๐ฆ๐ฌ๐จ’๐๐๐ ๐๐ฆ๐ โ ๐.๐ก. ๐๐๐๐๐ง
Syu’bah Asa memainkan D.N. Aidit. Namun, jauh sebelum dan sesudah film ini, kehidupannya lebih banyak dihabiskan sebagai wartawan, sastrawan, dan penulis.
Syu’bah pernah menjadi bagian penting dari majalah Tempo sejak awal 1970-an. Pada 1987 ia meninggalkan Tempo dan ikut mendirikan majalah Editor. Setelah itu ia pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi harian Pelita.
Pada akhir karier jurnalistiknya, Syu’bah aktif di Panji Masyarakat dan menulis tafsir Al-Qur’an dengan pendekatan yang berkaitan dengan persoalan sosial yang sedang terjadi.
Jadi, meskipun wajahnya kemudian sangat dikenal sebagai pemeran Aidit, dunia Syu’bah sebenarnya jauh lebih luas daripada dunia perfilman.
Syu’bah Asa meninggal di Pekalongan pada 24 Juli 2011 dalam usia 70 tahun.
๐๐ฅ๐๐ ๐๐๐ฅ๐๐๐ก๐ง๐ข โ ๐๐ข๐๐ข๐ก๐๐ ๐จ๐ก๐ง๐จ๐ก๐
Bram Adrianto memerankan Kolonel Untung Sjamsuri, salah satu tokoh militer utama dalam narasi film.
Bram sebenarnya telah berakting dalam sejumlah film sebelum G30S/PKI. Setelah film tersebut, ia masih muncul dalam beberapa produksi layar lebar, antara lain ๐ฃ๐ฒ๐๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ถ๐ป๐๐ฎ ๐ก๐๐ถ ๐๐น๐ผ๐ฟ๐ผ๐ป๐ด dan ๐ ๐ถ๐๐๐ฒ๐ฟ๐ถ ๐ฅ๐๐บ๐ฎ๐ต ๐ง๐๐ฎ.
Peran Untung membuat namanya kemudian sering dikaitkan dengan film tersebut, meskipun jejak filmografinya tidak hanya berada di sana.
๐ฅ๐จ๐๐ฌ ๐ฆ๐จ๐๐ ๐ โ ๐.๐. ๐ก๐๐ฆ๐จ๐ง๐๐ข๐ก
Rudy Sukma memerankan Jenderal A.H. Nasution.
Dalam film, Nasution digambarkan sebagai salah satu sasaran penculikan pada malam 30 September 1965. Dalam peristiwa sejarahnya, Nasution berhasil meloloskan diri, sementara putrinya, Ade Irma Suryani, terkena tembakan dan kemudian meninggal.
Rudy Sukma tidak memiliki jejak karier publik sebesar Umar Kayam atau Amoroso Katamsi sehingga informasi mengenai kehidupan pribadinya setelah film relatif terbatas dalam sumber terbuka. Karena itu, detail kehidupannya sebaiknya tidak ditambah dengan informasi yang belum dapat diverifikasi.
๐๐๐๐ ๐ง๐จ๐ ๐๐จ๐๐ก โ ๐๐๐ ๐๐ฅ๐ ๐ ๐ฆ๐จ๐ฅ๐ฌ๐๐ก๐
Keke Tumbuan memerankan Ade Irma Suryani Nasution, putri A.H. Nasution.
Perannya memang tidak panjang, tetapi adegan yang berkaitan dengan Ade Irma menjadi salah satu bagian yang paling dikenang dari film tersebut.
Berbeda dengan pemeran dewasa lainnya, Keke Tumbuan ketika itu masih sangat muda. Informasi mengenai perjalanan kariernya setelah film ini juga tidak sebanyak pemeran utama lainnya, sehingga klaim-klaim mengenai kehidupan pribadinya perlu disikapi hati-hati.
๐๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐๐๐๐ก โ ๐ฆ๐๐ฅ๐ช๐ข ๐๐๐๐๐ ๐ช๐๐๐ข๐ช๐ข
Didi Sadikin memerankan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.
Menariknya, peran ini bukan pertama kalinya Didi memerankan Sarwo Edhie. Ia juga tercatat memainkan tokoh yang sama dalam film ๐๐ท๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ฟ๐๐ฎ ๐ญ๐ต๐ฒ๐ฒ yang lebih dahulu dibuat.
Dengan demikian, Didi termasuk aktor yang beberapa kali dipercaya menghidupkan sosok Sarwo Edhie dalam film sejarah Indonesia.
๐ช๐๐ช๐๐ก ๐ช๐๐ก๐๐ฆ๐๐ฅ โ ๐ฃ๐๐๐ฅ๐ฅ๐ ๐ง๐๐ก๐๐๐๐ก
Wawan Wanisar memerankan Lettu Pierre Tendean.
Peran ini menjadi awal yang sangat penting dalam perjalanan kariernya. Setelah itu, Wawan terus aktif dalam perfilman Indonesia. Ia antara lain tampil dalam ๐ก๐ฎ๐ด๐ฎ๐ฏ๐ผ๐ป๐ฎ๐ฟ, ๐๐ถ๐ป๐๐ฎ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ก๐ผ๐ฑ๐ฎ, serta berbagai sinetron dan FTV.
Salah satu fakta menarik, sebelum benar-benar terjun ke dunia film, Wawan pernah menjalani pekerjaan lain, termasuk bekerja di perusahaan pelayaran, sebagai petugas kebersihan dan di wartel. Setelah menjadi aktor, ia dikenal sebagai pemain yang serius melakukan observasi terhadap karakter yang dimainkan.
Wawan tetap aktif berakting sampai tahun 2021. Ia meninggal pada 29 Maret 2021 dalam usia 71 tahun.
๐๐๐๐ ๐๐๐ก ๐๐ก๐๐๐ง๐๐ก ๐ฆ๐๐๐๐ฅ๐
Para pemeran tersebut akhirnya memiliki nasib yang berbeda-beda setelah film selesai dibuat. Ada yang kembali ke dunia film, ada yang lebih banyak bekerja sebagai sastrawan dan intelektual, ada pula yang menjalani kehidupan yang jauh dari sorotan publik.
Film ๐ฃ๐ฒ๐ป๐๐บ๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐ธ๐ต๐ถ๐ฎ๐ป๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ ๐ฏ๐ฌ ๐ฆ ๐ฃ๐๐ sendiri perlu ditempatkan dalam konteks zamannya. Film ini dibuat pada masa Orde Baru dan menggunakan narasi sejarah resmi pemerintah ketika itu. Karena itu, penggambaran film tidak otomatis identik dengan seluruh perdebatan dan penelitian sejarah mengenai 1965.
Film tersebut dirilis pada 30 September 1984 dan kemudian menjadi salah satu karya perfilman Indonesia yang paling berpengaruh dalam membentuk ingatan populer mengenai G30S. Film ini juga memperoleh sejumlah Piala Citra pada Festival Film Indonesia 1984.
Di balik tokoh-tokoh sejarah yang mereka perankan, para aktornya tetap memiliki perjalanan hidup masing-masingโdan sebagian justru mempunyai karier panjang di luar film tersebut.
๐ฆ๐จ๐ ๐๐๐ฅ ๐ฅ๐๐ก๐๐๐๐ฆ:
Film Indonesia/Indonesian Film Center; detikcom; Kompas; ANTARA; Badan Bahasa Kemendikdasmen; Tirto; arsip dan catatan perfilman Indonesia.
