Agoes Hendriyanto, Profesi Pandai Besi Bertahan di Masa Hiperrealitas

Agoes Hendriyanto, Profesi Pandai Besi Bertahan di Masa Hiperrealitas
SHARE
Oleh: Agoes Hendriyanto.
Pandai besi sebuah profesi yang sampai kini masih dibutuhkan khususnya masyarakat pacitan yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani.  Pacitan sebagai  Kabupaten di wilayah ujung barat Jawa Timur tempat kelahiran Presiden ke 6 Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudoyono dikenal dengan “Kota 1001 Goa” ataupun” Paradise of Java” menyimpan pesona wisata yang luar biasa.

Namun dibalik sebutan tersebut peran dari pandai besi sangat besar sekali dalam membantu para petani, tukang kayu dalam meyediakan peralatannya.  Pandai besi memproduksi peralatan pisau, sabit, linggis, kampak, ataupun peralatantajam yang terbuat dari logam lainnya yang dipergunakan untuk bercocok tanam, pertukangan, mengolah lahan, dan kegiatan lainnya.

Di Pacitan salah satunya yang masih pakai UBUB yakni Malipi (55), RT 01, RW 1, Dusun Gayam, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan masih memilih profesi pandai besi di era Disrupsi dan teknologi 5.0.  Saat pandemi covid-19 tidak terpengaruh sama sekali.  Petani, pedagang, tukang kayu yang menjadi langganannya tidak terpengaruh sama sekali.  Permintaan peralatan rumah tangga, pertukangan, pertanian kewalahan untuk memenuhi permintaan dari langganan.

Baca Juga  Perkuat Green Mosque, BPMI Luncurkan Program Wakaf Energi Istiqlal

Malipi pengrajin pandai besi masih  mempertahankan penggunaan “ubub” kalau jaman modern disebut dengan blower alat untuk meniupkan udara biar bara api membara,  bisa digunakan untuk membakar besi untuk memudahkan ditempa menjadi peralatan seperti pisau, arit, kapak, linggis.

Kondisi Pandai Besi sekarang sudah banyak yang pakai blower.  Namun masih ada yang bertahan  masih menggunakan “UBUB” disebabkan blower tidak mampu untuk dipergunakan membakar besi yang ukurannya tebal dan besar.  Untuk hasil dan kualitas yang pakai UBUB kualitas pisau, arit, pacul, linggisnya lebih tajam dan keras serta tahan lama.


“Usaha yang telah dirintis tahun 1995, pada awalnya mendapatkan warisan dari kakeknya Almarhum Boman.  Malipi tertarik menjadikan pandai besi sebagai pilihan profesi diawali saat dirinya sering  membantu kakeknya tersebut yang telah merintis usahanya di belakang Pasar Gayam,  sejak lama dan baru diteruskan sejak tahun 1995, ” jawab Malipi.

Baca Juga  NPC dan CDC El-Sharq Teken MoU di Bidang Riset Soal Palestina

Alhamdulillah usahanya yang telah dirintis pada awal mula belum ada gerinda sekarang sudah dimodifikasi dengan peralatan listrik seperti bor listrik, gerinda listrik.  Namun yang masih belum dimiliki adalah Las Listrik.  Sampai hari ini usaha  Malipi masih diusahakan sendiri dengan belum adanya bantuan dari Pemerintah Daerah.

Potensi usaha pandai besi masih i cukup menjanjikan dan bisa bersaing dengan kisaran harga dari yang termahal; 150.000,-  lencek peralatan untuk menggali tanah, arit dari kisaran 40.000,- sampai harga termahal 60.000,-; pisau rata-rata 25.000,-.

“Kulitasnya terjamin dengan bahan dari per, per spiral, dan laker.  Sehingga untuk membakarnya memerlukan “UBUB’ yang sudah banyak ditinggalkan oleh pengrajin besi lainnya.  Mungkin di Pacitan bisa dihitung dengan jari.  Semuanya sudah diganti dengan blower.

Baca Juga  KPK Resmi Umumkan 75 Pegawai Gagal Tes Alih Status ASN

Di era hiperealitas dengan perkembangan teknologi informatika dan teknologi modern lainnya dengan teknik penyepuhan logam yang canggih.  Namun pandai besi sebuah profesi yang tak tergantikan.

Semoga usahanya tetap eksis walaupun diserbu dengan peralatan modern.  Peralatan yang dibuat oleh pandai besi masih selalu dihati masyarakat Desa.  (Agoeshendriyanto / red )