Arif Mustofa, Agoes Hendriyanto, Bakti Sutopo; Tranformasi Cerita Endang rara Tompe dalam Pertunjukan Kethek Ogleng Pacitan
TRANSFORMASI CERITA ENDANG RARA TOMPE DALAM PERTUNJUKAN KETHEK OGLENG PACITAN
TRANSFORMATION OF ENDANG RARA TOMPE STORY IN PACITAN KETHEK OGLENG PERFORMANCE ART
Arif Mustofa, Agoes Hendriyanto, Bakti Sutopo
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Pacitan
Jalan Cut Nya’ Dien No. 4a Pacitan Jawa Timur Kode Pos 63515, Indonesia
mustofarif99@yahoo.com; rafidmusyffa@gmail.com; bakti080980@yahoo.co.id
(Naskah diterima tanggal 26 April 2019, direvisi terakhir tanggal 16 April 2020, dan disetujui
tanggal 28 April 2021)
DOI: https://doi.org/10.26499/wdprw.v49i1.294
Abstract
This research aims to: 1) describe the plot of Endang Roro Tompe story and Kethek Ogleng performance art; 2) describe the transformation process of Endang Roro Tompe story into Kethek Ogleng performance art. The data were collected by these four steps: 1) observing Kethek Ogleng performance art, 2) recording the video and audio of Endang Rara Tompe’s story ; 3) describing the video recording based on the performance and transcribing the audio recording of Endang Roro Tompe. The result shows that Kethek Ogleng performance art is influenced by the plot of Panji Endang Rara Tompe. However, in the whole story, the performance only takes several scenes: The monkey comes, the monkey meets Endang Rara Tompe, the monkey falls in love with Endang Rara Tompe, and the monkey
leaves back to the kingdom. There are two changing patterns from Endang Rara Tompe’s hypogram into Kethek Ogleng performance art. The first change deals with the cut of scenes. Kethek Ogleng performance art only explains the end of Endang Rara Tompe’s story. The story of Jenggala Kingdom is omitted in Kethek Ogleng performance art. The second is changing the main character. The author changes the main character from Dewi Sekartaji into Panji Asmarabangun or the monkey.
Keywords: transformation; story; performance art; Kethek Ogleng
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menghasilkan deskripsi pola alur Cerita Endang Rara Tompe dan pertunjukan Kethek Ogleng; 2)menghasilkan deskripsi proses transformasi dari Cerita Endang Rara Tompe ke pertunjukan Kethek Ogleng. Data dikumpulkan dengan cara: 1) pengamatan pertunjukan Kethek Ogleng; 2) perekaman video pertunjukan Kethek Ogleng dan perekaman audio cerita Endang Rara Tompe; 3) pendeskripsian struktur pertunjukan pertunjukan; pentranskripsian hasil rekaman cerita Endang Rara Tompe. Analisi data dilakukan dengan cara 1) menyusun struktur pertunjukan (visual) Kethek Ogleng; 2) menyusun struktur cerita (lisan) Endang Rara Tompe; 3) membandingkan struktur pertunjukan (visual) Kethek Ogleng dengan struktur cerita (lisan) Endang Rara Tompe; 4) menganalisis pola perbedaan dan persamaan antara bentuk lisan dan bentuk visual. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur pertunjukan Kethek Ogleng dipengaruhi oleh pola alur cerita Panji Endang Rara Tompe. Namun, secara keseluruhan kisah, hanya diambil beberapa pertistiwa saja yaitu: kemunculan kera, pertemuan kera dengan Endang Rara Tompe, adegan jatuh cinta, dan adegan kembali ke kerajaan. Terdapat dua pola pemindahan dari hipogram Cerita Endang Rara Tompe ke pertunjukan Kethek Ogleng. Pertama yaitu pemotongan Adegan. Pertunjukan Kethek Ogleng hanya berisi bagian akhir dari Transformasi Cerita Endang Rara Tompe dalam PertunjukanKethek OglengPacitan cerita Endang Rara Tompe. Adegan kerajaan Jenggala tidak dimunculkan dalam pertujukan Kethek
Ogleng. Keduaya itu alih tokoh utama. Pengarang mengubah tokoh utama dari Dewi Sekartaji menjadi Panji Asmarabangun atau tokoh kera.
Kata-kata Kunci: transformasi; cerita; pertunjukan; Kethek Ogleng
https://drive.google.com/file/d/1z9hj2_EhbewUJqYdl5QaeKG8WlTAqclE/view?usp=sharing
