Agoes Hendriyanto, Manusia Menjadi Budak dan Tuan Sekaligus

Agoes Hendriyanto, Manusia Menjadi Budak dan Tuan Sekaligus
SHARE

Oleh: Agoes Hendriyanto (*)

Hidup harus kita hadapi dengan ikhlas apapun peran kita.  Namun keikhlasan kita terganggu jika melihat ketidakadilan dalam perlakuan.  Manusia tidaklah sempurna dalam memerankan setiap peran yang dijalankan.  Marilah kita melihat pada posisi seperti apa diri kita.

Apakah kita bisa menjadi tuan atas diri kta sendiri.  Jika merujuk pada pendapat dari Burn Out Society (2015) sebagai berikut ini:

Manusia Menjadi Budak dan Tuan Sekaligus
Majikan telah menjadi budak yang bekerja, artinya, kita adalah budak dan tuan di saat yang sama. Kita merasa seolah-olah apa  yang kita lakukan karena kemauan kita, kontrol berada di tangan  kita sendiri. Namun, di saat yang sama hasrat atau passion kita itu  justru memperbudak kita. Industri kapitalis di era neoliberal kerap  memanfaatkan logika ini.

Baca Juga  Menjelang Bulan Desember, Satgas Yonif Raider 100/PS Pos Wembi Gagalkan Pemuda Bawa Miras Saat Gelar Sweeping

Korporasi mengkondisikan seolah-olah kita bekerja memenuhi passion kita. Jika kita bekerja keras  dengan hasil maksimal, siapa yang paling diuntungkan? Sudah  pasti korporasi. Jika akhirnya fisik dan mental kita terganggu  akibat kelelahan, apakah atasan kita akan bertanggung-jawab?   Mungkin ya, mungkin juga tidak. Tapi yang pasti adalah kita  menjadi pihak yang paling menderita.

Kultur Positivity

Industri kapitalis memanipulasi kerja produktif kita lewat katakata positif. Di media kita sering mendengar kata-kata seperti “Yes We Can” atau “Bersama Kita Bisa”. Slogan-slogan tersebut  terdengar memberdayakan, namun sesungguhnya berpotensi  menjadi racun. Kita diberi semangat lewat kata-kata positif  bahwa kita bisa melakukan dan mampu mencapai sesuatu.

Namun masyarakat modern menuntut kita bekerja serba cepat,  sehingga kita tidak pernah punya waktu untuk merenung: apakah  kita bisa? Jangan-jangan yang kita lakukan sudah melewati batas  kemampuan kita? Kita sebenarnya punya hak menolak dan  berkata “tidak”. Tapi kata-kata positif bekerja seperti mantra,  sehingga kita “tidak boleh” berkata “tidak” atau “tidak bisa”.

Baca Juga  Peluncuran LDN, Menkominfo: Pemerintah Targetkan 50 Juta Masyarakat Terliterasi Digital

Kebebasan yang Ilusif
Kata kunci berikutnya adalah kondisi di mana kita seolah-olah  sudah memiliki kebebasan, melakukan aktivitas dan tindakan yang berdasarkan passion dan keinginan kita semata. Namun  itu senua hanyalah sebuah  kebebasan yang semu dan ilusif. Kita tidak benar-benar bebas. Passion mengendalikan kita, yang akhirnya  membuat kita kelelahan.

Referensi: Han, Byung-Chul. (2015). The Burn Out Society. California:  Stanford University Press.

(*) Mahasiswa S3 Kajian budaya