Agoes Hendriyanto, Manusia Menjadi Budak dan Tuan Sekaligus
Oleh: Agoes Hendriyanto (*)
Hidup harus kita hadapi dengan ikhlas apapun peran kita. Namun keikhlasan kita terganggu jika melihat ketidakadilan dalam perlakuan. Manusia tidaklah sempurna dalam memerankan setiap peran yang dijalankan. Marilah kita melihat pada posisi seperti apa diri kita.
Apakah kita bisa menjadi tuan atas diri kta sendiri. Jika merujuk pada pendapat dari Burn Out Society (2015) sebagai berikut ini:
Manusia Menjadi Budak dan Tuan Sekaligus
Majikan telah menjadi budak yang bekerja, artinya, kita adalah budak dan tuan di saat yang sama. Kita merasa seolah-olah apa yang kita lakukan karena kemauan kita, kontrol berada di tangan kita sendiri. Namun, di saat yang sama hasrat atau passion kita itu justru memperbudak kita. Industri kapitalis di era neoliberal kerap memanfaatkan logika ini.
Korporasi mengkondisikan seolah-olah kita bekerja memenuhi passion kita. Jika kita bekerja keras dengan hasil maksimal, siapa yang paling diuntungkan? Sudah pasti korporasi. Jika akhirnya fisik dan mental kita terganggu akibat kelelahan, apakah atasan kita akan bertanggung-jawab? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Tapi yang pasti adalah kita menjadi pihak yang paling menderita.
Kultur Positivity
Industri kapitalis memanipulasi kerja produktif kita lewat katakata positif. Di media kita sering mendengar kata-kata seperti “Yes We Can” atau “Bersama Kita Bisa”. Slogan-slogan tersebut terdengar memberdayakan, namun sesungguhnya berpotensi menjadi racun. Kita diberi semangat lewat kata-kata positif bahwa kita bisa melakukan dan mampu mencapai sesuatu.
Namun masyarakat modern menuntut kita bekerja serba cepat, sehingga kita tidak pernah punya waktu untuk merenung: apakah kita bisa? Jangan-jangan yang kita lakukan sudah melewati batas kemampuan kita? Kita sebenarnya punya hak menolak dan berkata “tidak”. Tapi kata-kata positif bekerja seperti mantra, sehingga kita “tidak boleh” berkata “tidak” atau “tidak bisa”.
Kebebasan yang Ilusif
Kata kunci berikutnya adalah kondisi di mana kita seolah-olah sudah memiliki kebebasan, melakukan aktivitas dan tindakan yang berdasarkan passion dan keinginan kita semata. Namun itu senua hanyalah sebuah kebebasan yang semu dan ilusif. Kita tidak benar-benar bebas. Passion mengendalikan kita, yang akhirnya membuat kita kelelahan.
Referensi: Han, Byung-Chul. (2015). The Burn Out Society. California: Stanford University Press.
(*) Mahasiswa S3 Kajian budaya
