Peran Negara dalam Memajukan Sepakbola

Peran Negara dalam Memajukan Sepakbola
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM || JAKARTA – Bisa jadi aturan permainan sepak bola tidak akan sama dengan apa yang kita lihat hari ini jika FIFA tidak mengalah terhadap empat asosiasi pendiri IFAB (International Football Association Board).

IFAB yang dibentuk empat federasi tertua sepakbola dunia dari Britania Raya; FA (Inggris), SFA (Skotlandia), FAW (Wales), dan IFA (Irlandia Utara) pada 2 Juni 1886, sejatinya adalah pemilik hak paten Laws of the Game.

FIFA setuju mengadopsi secara resmi Laws of the Games IFAB, sebagai bagian dari syarat bergabungnya Inggris, Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara ke FIFA. Makanya komposisi keanggotaan IFAB (8 orang) adalah empat wakil dari FA, SFA, FAW dan IFA, ditambah empat wakil FIFA.

Presiden FA waktu itu, Lord Arthur Kinnaird dan presiden FIFA Robert Guerin, adalah dua tokoh yg berjasa mengintegrasikan dua kutup sepak bola ini. Sejak kepemimpinan Joao Havelange pada 8 Mei 1974.   FIFA sudah berusaha menarik garis yang transparan dengan negara. Tujuan awalnya sebetulnya baik. Untuk menjaga independensi dan kemurnian sepak bola dari kooptasi politik kekuasaan.

Seperti tahun-tahun jelang dan sesudah perang dunia pertama maupun perang dunia kedua. Juga kejadian-kejadian lain setelahnya. Kebijakan Havelange ini dilanjutkan oleh penggantinya Sepp Blatter sejak 8 Juni 1998 yang sebelumnya merupakan Sekjen FIFA.

Blatter bukan hanya menarik garis transparan dengan negara, bahkan terkesan berusaha membuat garis demarkasi. Kebijakan Blatter ini oleh banyak kalangan dinilai terlalu berlebihan, sehingga memantik munculnya kritik sana-sini. Kenyataannya juga Blatter tidak berdaya apa-apa ketika 14 petinggi FIFA (termasuk wakil presiden FIFA/presiden Concacaf saat itu Jeffrey Webb) diciduk aparat negara (polisi Swiss dan agen FBI) pada dini hari 27 Mei 2015 di hotel bintang lima Baur au Lac, Zurich, Swiss.

Baca Juga  Shin Tae-yong Tetap Ingin Melatih Timnas U-19, U-23 dan Senior, Direstui PSSI

Dua hari jelang kongres FIFA 29 Mei 2015. Penangkapan petinggi FIFA besar-besar pertama sejak 1904 (karena kasus korupsi dan suap) yang kemudian menyeret Blatter sendiri. Apakah mungkin sepakbola dipisahkan dengan negara? Itu pertanyaan yang selalu muncul di tengah masyarakat.

Bahwa organisasi sepakbola punya aturan main (statuta, kode, dsb) sendiri, betul. Bahwa permainan sepak bola punya hukum sendiri, benar. Bahwa FIFA sebagai organisasi tertinggi sepak bola dunia memiliki otoritas 100% atas hukum organisasi dan hukum permainan, sangatlah betul. Tapi hanya sampai di situ. Karena pada hakekatnya sepak bola adalah milik semua bangsa2 di dunia.

Konsep kebijakan seperti itulah yang kini dijalankan Gianni Infantino sejak memimpin FIFA 26 Februari 2016 lalu. Sesuai semboyan FIFA: For the Game for the World (untuk permainan untuk dunia). Apakah bisa Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, tanpa persetujuan dan dukungan negaranya? Tentu tidak.

Baca Juga  PSSI Resmi Luncurkan Cara Pembelian Tiket Pertandingan Indonesia vs Argentina, Bisa Beli Mulai 5 Juni

Apa yang bisa dilakukan oleh siapapun, ketika 10 Maret lalu pemerintah Inggris menjatuhkan sanksi berat kepada pemilik klub Chelsea, Roman Abramovich? Sepakbola kini sudah menjadi tolok ukur kehormatan bangsa-bangsa di dunia. Termasuk Indonesia. Semua negara anggota FIFA memiliki konstitusi masing-masing.

Di Indonesia kita memiliki UUD 1945 yang meneguhkan kedaulatan negara. Khusus soal olahraga kita memiliki UU SKN Nomor 3/2005. Yang ingin coba diuraikan adalah bagaimana kira-kira hubungan yang ideal, konstruktif, produktif dan lebih bermanfaat bagi kemajuan sepakbola nasional maupun kehormatan masyarakat bangsa.

Banyak yang setuju dengan kebijakan yang dijalankan Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan. Karena memang harusnya seperti itu. Sejak awal Iwan Bule memastikan relasi positif, konstruktif, produktif yang bermartabat dengan negara. Dalam hal ini pemerintah melalui Menpora Zainudin Amali dikutip dari laman pssi.org Jum’at (18/3).

Iwan Bule terus memantapkan sinergitas yang solid dan mendapat dukungan penuh Menpora Zainudin Amali. Pemerintah saat ini memberikan dukungan luar biasa terhadap upaya peningkatan kemajuan sepak bola di Tanah Air. Termasuk segala persiapan dan kesiapan menyongsong Piala Dunia U-20 tahun depan.

Ini adalah kondisi yang sangat positif dan menggembirakan bagi persepakbolaan Indonesia. Inpres Nomor 3/2019 merupakan bukti nyata bahwa negara menjadi alas utama kekuatan sepak bola Indonesia. PSSI sebagai bagian integral kekuatan bangsa sangat membutuhkan dukungan elemen negara.

Baca Juga  Menkes; Bulan Januari Vaksin Sudah Bisa Didistribusikan ke 34 Provinsi

Karena itu pada 22 Juli 2021, Mochamad Iriawan membuat MoU dengan Mabes Polri untuk berbagai bentuk kerja sama, termasuk penegakkan hukum dan pengamanan. Seperti inilah bentuk hubungan yang ideal, konstruktif, produktif dan lebih bermanfaat bagi kemajuan sepak bola nasional maupun kehormatan bangsa.

Pengalaman masa lalu tentu menjadi pelajaran berharga. Ketika ada upaya pembentukan narasi yang tidak utuh soal asumsi “kepemilikan” sepak bola Indonesia. Milik FIFA atau negara? Karena jawaban yang lebih tepat dan bijak adalah: sepakbola Indonesia milik bangsa Indonesia. Pemegang otoritas tertinggi pengorganisasian dan pengelolaannya adalah 100% PSSI.

Lihat sejarah berdirinya PSSI 92 tahu lalu, sebagai alat perjuangan dan pemersatu bangsa. Kebersamaan yang terintegrasi seperti itulah yang akan membawa sepak bola Indonesia menuju kejayaan.

Dengan dukungan maksimal dari negara, PSSI (sebagaimana federasi di negara-negara lain) akan memiliki kekuatan terbaik untuk mendorong percepatan kemajuan sepak bola di seluruh pelosok Tanah Air. Kenyataannya sepak bola memang milik setiap bangsa di dunia.

Coba lihat, ketika ada pertandingan antarnegara selalu diawali dengan seremoni penghormatan Lagu Kebangsaan dan Bendera Negara. Jadi yang terbaik adalah mari semua komponen bangsa memberikan dukungan penuh kepada PSSI utk terus bekerja keras memajukan sepakbola Indonesia yang kita cintai bersama.

Sumber: pssi.org