Jerry Massie; di Persimpangan Pengaruh “Ketika Nama Besar Tak Lagi Menjamin Suara”
PRABANGKARANEWS.COM – Di panggung politik Indonesia, nama besar pernah menjadi magnet. Ia mampu menggerakkan massa, mendongkrak elektabilitas, bahkan menentukan arah peta kekuasaan. Namun waktu terus berjalan, dan magnet itu perlahan diuji kekuatannya.
Nama Joko Widodo—yang selama satu dekade mendominasi lanskap politik nasional—kini dinilai tak lagi memiliki daya dorong seperti sebelumnya. Setidaknya, itulah yang disampaikan oleh Jerry Massie dalam pandangannya terhadap dinamika politik mutakhir.
Menurutnya, era ketika figur sentral mampu secara otomatis mengangkat partai politik mulai bergeser. Dalam konteks Partai Solidaritas Indonesia (PSI), penggunaan nama Jokowi sebagai magnet politik dinilai belum mampu menghasilkan dampak signifikan terhadap elektabilitas.
PSI sendiri kini berada dalam fase penting. Dipimpin oleh Kaesang Pangarep, partai ini mencoba membangun basis dukungan baru, termasuk dengan mendekatkan diri pada figur Jokowi yang memiliki rekam jejak kuat di panggung nasional.
Namun, menurut Jerry, kepada jurnalis Jum’at (17/4/26) strategi tersebut menghadapi tantangan besar.
Ia menilai, meskipun diperkuat oleh masuknya sejumlah tokoh seperti Ahmad Ali dan Bestari Barus, PSI belum menunjukkan lonjakan signifikan dalam hal kepercayaan publik. Bahkan, ia menyebut bahwa tren elektabilitas partai tersebut justru mengalami penurunan pasca Pemilu Legislatif 2024.
Lebih jauh, Jerry melihat adanya perubahan perilaku pemilih. Jika sebelumnya pencitraan politik menjadi salah satu faktor dominan, kini masyarakat dinilai lebih rasional dan kritis dalam menilai kinerja dan realitas di lapangan.
“Publik sekarang tidak hanya melihat siapa, tetapi apa yang sudah dan akan dilakukan,” kira-kira demikian benang merah yang bisa ditarik dari pernyataannya.
Fenomena ini menandai pergeseran penting dalam politik Indonesia: dari figure-based politics menuju performance-based politics. Nama besar tidak lagi cukup—ia harus disertai dengan strategi, kerja nyata, dan kepercayaan yang terus dirawat.
Meski demikian, pandangan ini bukan tanpa perdebatan. Dalam politik, dinamika bisa berubah cepat. Figur publik tetap memiliki pengaruh, terutama dalam membangun persepsi dan kedekatan emosional dengan pemilih.
Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah pengaruh itu masih ada, tetapi bagaimana ia digunakan.
Bagi PSI, jalan ke depan masih terbuka. Evaluasi strategi, penguatan basis kader, serta kemampuan membaca kebutuhan publik akan menjadi kunci dalam menghadapi Pemilu 2029.
Sebab dalam politik, satu hal yang pasti: tidak ada pengaruh yang abadi. Yang bertahan adalah mereka yang mampu beradaptasi.
