Pacitan Kota Misteri; Situs Batu Makam Syeh KH. Imam Khasan Mimbar
PRABANGKARANEWS || Pacitan, sebuah kota yang kaya akan sejarah, menyimpan sebuah situs bersejarah yang memiliki makna mendalam bagi peradaban Islam di wilayah tersebut. Di kompleks Masjid Kauman Arjowinangun, terletak sebuah situs batu makam yang menjadi tempat peristirahatan terakhir seorang ulama besar bernama Syeh KH. Imam Khasan Mimbar. Situs ini diyakini berasal dari abad ke-18 M.
Syeh KH. Imam Khasan Mimbar adalah seorang alim ulama dan wali Allah yang meneruskan perjuangan leluhurnya dalam membangun peradaban Islam di wilayah Pacitan. Diyakini bahwa beliau memiliki hubungan kekeluargaan dengan Kanjeng Jimat (Adipati Eyang Joyo Niman) dan memiliki darah campuran Persia. Salah satu prestasi terbesarnya adalah membangun Masjid Kauman dari yang awalnya sederhana menjadi megah dan luas, mampu menampung santri-santrinya yang dewasa untuk belajar agama Islam dan menguatkan dakwah Islam di wilayah tersebut.
Syeh KH. Imam Khasan Mimbar terkenal akan kharomah-nya pada zamannya. Beliau memiliki banyak santri, baik dari kalangan jin Islam maupun masyarakat sekitar dan luar wilayah Pacitan pada masa itu. Melihat batu nisan makamnya, dapat diketahui bahwa batu tersebut berasal dari luar Pacitan dan biasanya digunakan pada makam-makam kuno dengan hiasan kelopak bunga atau kembang, yang umumnya dipakai untuk kalangan bangsawan atau raja pada zamannya.
Lokasi situs ini sangat sakral dan dihormati oleh mereka yang memahami energi positif yang terpancar di sekitar makam tersebut. Kompleks Makam ini terletak di sekitar Kali Grindulu, yang membuktikan bahwa pada zaman dahulu, sungai menjadi transportasi utama dan pusat pertemuan masyarakat dari berbagai tempat. Kali Grindulu menjadi pusat perniagaan, perdagangan, dan ekonomi di Kadipaten Pacitan.
Situs batu makam ini menjadi saksi sejarah atas perjuangan para wali Allah dan alim ulama dalam mengembangkan peradaban Agama Islam di wilayah Pacitan. Semoga berkah Allah senantiasa menyertai keluarga, rakyat, dan para penerusnya, dalam menjalankan ajaran Nabi Muhammad Rosulullah. Baik di bumi maupun di langit, semuanya bersatu dalam keberkahan-Nya.
Mugio Gusti Allah paring berkahipun teng Engsun; Keluarga, rakyat, dan penerus dalam Kanjeng Nabi Muhammad Rosulullah; bumi dan langit menjadi satu dalam limpahan rahmat-Nya. (Amat Taufan)
