PGSD STKIP PGRI Pacitan Laksanakan Diskusi Kelas “Problematika Pembelajaran IPS di SD”
PRABANGKARANEWS || PACITAN Mahasiswa PGSD STKIP PGRI Pacitan semester 5 yang mengambil matakuliah “Problematika Pembelajaran IPS di SD” lakanakan diskusi kelas dengan mengangkat permasalahan yang muncul dalam pengajaran mata pelajaran IPS di tingkat dasar, khususnya untuk siswa kelas 1 dan 2. Kegiatan dilaksanakan di ruang 44, ruang kuliah STKIP PGRI Pacitan, Senin (9/10/23).
Situasi ini menjadi perhatian karena mata pelajaran ini, baik dalam Kurikulum 2013 (K13) maupun Kurikulum Merdeka, tampaknya belum mendapatkan perhatian yang cukup, terutama di kelas awal belajar.
Kelompok 1 terdiri dari Ramadhan, Shanti, Regita, Jay satu minggu melakukan observasi ke sekolah walaupun oleh pihak sekolah ditolak dengan alasan digunakan untuk penilaian. Walaupun demikian mahasiswa melakukan cara lain dengan malkukan wawancara dengan mahasiswa lain yang sekarang sekarang menjalankan PPL di sala satu SD dengan memberikan pertanyaan secara tertulis.
Ketua kelompok Mahasiswa PGSD semester 5 matakuliah IPS, Senin (9/10/23), menjelaskan bahwa kelas 1 dan 2, terlihat bahwa mata pelajaran IPS tampaknya tidak diajarkan sama sekali, dan hanya dimulai pada kelas 3. Namun, dalam format pengajaran yang diusulkan, mata pelajaran IPS dan IPA diajarkan bergantian, di mana jika IPS diajarkan pada semester ganjil, maka IPA akan diajarkan pada semester genap, dan sebaliknya.
Namun, permasalahan muncul ketika kita mempertimbangkan pentingnya mata pelajaran IPS dalam pembentukan pemahaman siswa tentang aspek-aspek sosial, budaya, dan masyarakat dalam kehidupan mereka. IPS adalah mata pelajaran yang dapat membantu siswa memahami dunia sekitarnya, bagaimana mereka berinteraksi dalam masyarakat, dan bagaimana aspek-aspek sosial, politik, dan ekonomi memengaruhi kehidupan mereka.
Ketidakdiajarannya IPS pada kelas 1 dan 2 dan pengajaran bergantian dengan IPA pada kelas 3 bisa menghasilkan konsekuensi negatif. Siswa mungkin kehilangan pemahaman yang kontinu tentang isu-isu sosial dan budaya di sekitar mereka, yang dapat berdampak pada pengembangan wawasan mereka tentang masyarakat. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan apakah pengajaran IPS dapat dimasukkan lebih awal ke dalam kurikulum dasar untuk memastikan bahwa aspek-aspek penting ini tidak diabaikan selama tahun-tahun awal pendidikan.
Diskusi dan penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengevaluasi dan mengatasi permasalahan ini guna memastikan bahwa pengajaran IPS tidak diabaikan dan tetap menjadi bagian integral dari pembentukan pemahaman siswa tentang dunia yang mereka tinggali. Hal ini penting agar siswa dapat lebih baik memahami peran mereka dalam masyarakat dan menjadi warga yang lebih sadar. (*)
