Candaan dan Perundungan
PRABANGKARANEWS || Psikolog klinis Annisa Mega Radyani, M. Psi., menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara perundungan dan bercanda terletak pada niat atau intensi pelaku terhadap korban. Perundungan memiliki niat untuk menyakiti atau membuat tidak nyaman korban, sementara bercanda hanya didasari oleh motif ingin bersenda gurau tanpa niat menyakiti atau membuat tidak nyaman orang lain.
Menurut Annisa, perundungan dilakukan secara spesifik kepada orang atau kelompok tertentu dan terjadi berulang-ulang, tidak hanya sekali atau dua kali, namun berulang kali dan dalam waktu berdekatan, dikutip dari Antaranews.com Sabtu (9/3/24).
Orang tua memiliki peran penting dalam mencegah perilaku perundungan pada anak-anak dengan mengajarkan perbedaan antara bercanda dan perundungan sejak dini. Mereka juga perlu mengajarkan konsekuensi dari setiap perbuatan anak dan bersikap tegas dalam menyampaikan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Annisa menekankan pentingnya konsistensi orang tua dalam menyampaikan bahwa perilaku perundungan tidak boleh dilakukan oleh anak-anak mereka.
Hal inilah yang sering dialami oleh korban perundungan. Bisannya diawali dengan candaan terhadap seorang teman yang lama-lama menjadi korban perundungan. Hal ini disebabkan bahan candaan berisi hal-hal yang sifatnya negatif yang ditujukan pada suatu teman, yang dilakukan secara berulang-u;ang setiap kali ada moment untuk ketemu dengan teman yang menjadi korban.
Oleh sebab itu bedanya candaan dan perundungan terletak pada niat dari pelaku. Apakah pada dasarnya sudah punya niat untuk merendahkan orang lain ataukah hanya sebagai bahan candaan belaka.
Selain itu, orang tua juga didorong untuk mengajarkan konsekuensi dari setiap perbuatan yang dilakukan oleh anaknya. Annisa mengatakan orang tua juga perlu tegas dalam menyampaikan kepada anak hal mana yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan.
