Prof Dr. Bani Sudardi, M.Hum; Pendeta Durna dan Wulangreh
Oleh
Prof Dr. Bani Sudardi, M.Hum (*)
Bagi orang Jawa, wayang merupakan suatu cara memberikan ajaran sekaligus cara memberikan hiburan. Wayang juga menjadi bagian dari suatu ritual yang merupakan cara manusia jawa untuk memohonkan keselamatan serta berkomunikasi dengan kekuatan- kekuatan gaib. Hal ini masih dapat kita saksikan dalam tradisi ruwatan, tradisi sadranan, rasulan, yang masih menggunakan pementasan wayang.
Wayang juga menjadi bagian dari identitas masyarakat Jawa. Babad Tanah Jawa menggambarkan silsilah raja-raja bersumber dari wayang untuk silsilah pangiwa,
dan bersumber dari para nabi untuk silsilah panengen. Raja-raja masih keturunan dari Pandawa, bahkan ada kepercayaan sebenarnya bahwa perang Mahabharata itu terjadi di pulau Jawa dengan diketemukannya narasi-narasi seperti candi-candi wayang yang di Dieng, makam Dharma Kusuma (Yudhistira), di Kompleks Masjid Demak, dan cerita tentang pembacaan kitab Jamus Kalimasada yang dimiliki oleh Yudistira yang dibaca oleh Sunan Kalijaga sebagaimana yang diceritakan dalam Serat Centini.
Seiring dengan masuknya agama Islam, ajaran Hindu Budha yang sudah ada di dalamnya tampaknya juga diterima secara kritis dan disesuaikan dengan ajaran -ajaran Islam. Bentuk penyesuaian tersebut mencapai puncak kristalisasi pada masa kasunanan Surakarta diantaranya muncul karya-karya yang merupakan perpaduan antara ajaran Hindu Budha yang sudah dikritisi dengan konsep-konsep ajaran agama Islam.
Salah satu hal yang menarik dalam kritisi terhadap tokoh dalam Mahabharata terdapat dalam Serat Wulangreh karya Pakubuwana IV tentang guru. Di dalam Serat Wulangreh, pada Pupuh Dandanggula terdapat sebuah tembang yang mengingatkan manusia untuk bijaksana dalam memilih guru. Tembang ini sudah sangat terkenal di dalam masyarakat Jawa dan menjadi salah satu pedoman di dalam berguru.
Secara lengkap, bunyi tembang tersebut adalah sebagai berikut.
nanging yèn sira nggêguru kaki
amiliha manungsa kang nyata
ingkang bêcik martabate
sarta kang wruh ing kukum
kang ngibadah lan kang wirangi
sukur olèh wong tapa
ingkang wus amungkul
tan mikir pawèwèhing lyan
iku pantês sira guronana kaki
sartane kawruhana
Tampaknya lagu tersebut merupakan suatu pesan untuk mengkritisi satu tokoh wayang yang sangat terkenal yaitu Pendeta Durna. Dalam pandangan Jawa, pendeta Durna adalah seorang pendeta dari atas angin yang datang ke Pulau Jawa untuk memberikan pelajaran kepada pandawa dan Kurawa. Pendeta Durna adalah guru utama pandawa dan Kurawa dalam hal tata gelar perang.
Dalam kepercayaan orang Jawa, tempat pendeta Durna memberikan pelajaran kepada para Kurawa dan Pandawa terjadi di daerah Dieng. Di sana ada sebuah mata air yang disebut sebagai mata air kali Serayu yang dibuat oleh Bima dan para Pandawa serta kali keluwing yang dibuat oleh para Kurawa. Pendeta Durna sebagai mahaguru di nusantara ini juga pernah menjadi pembahasan Purba Caraka dalam disertasinya di Leiden yang berjudul Agatsya di Nusantara.
Salah satunya adalah cerita tentang kumbayana atau durna muda yang naik kuda sembrani dan karena gerakan terbang kuda sembrani tersebut menjadikan nafsu syahwat pendeta Durna bangkit dan mengeluarkan air mani. Air mani tersebut jatuh di lautan kemudian tertelan oleh kuda sembrani tersebut lalu hamil dan lahirlah seorang bayi yang bernama Aswatama yang artinya bayi yang lahir dengan tangis seperti ringkikan kuda.
Di Jawa cerita tersebut telah mengalami modifikasi, yaitu ketika Durna naik kuda sembrani dia duduknya makin ke belakang dan karena tidak menjaga syahwatnya maka dia kemudian bersanggama dengan kuda tersebut sehingga kata durna yang berasal dari kata sanskrit Drona, berubah menjadi kata durna yang dalam bahasa Jawa artinya;mundur-mundur kena.
Aswatama juga diartikan sebagai anak kuda sehingga dalam pewayangan digambarkan Dia memiliki bulu tengkuk seperti kuda dan kaki tlacak atau kaki bentuk kaki kuda. Hal ini untuk menggambarkan bahwa sebagai guru, pendeta Durna memiliki martabat yang tidak baik.
Hal lain yang berkaitan dengan pendeta Durma adalah mengenai pengetahuan tentang hukum. Dalam tradisi wayang Jawa, pendeta Durna adalah pendeta yang tidak tahu sopan santun dan hukum. Ketika ia datang berkunjung ke Raja Drupada, sahabat seperguruan yang sudah menjadi raja, Durna langsung saja menyebut nama raja dengan tanpa sopan santun. Seharusnya, bila di Balai Penghadapan, Durna memanggil raja Drupa dengan hormat. Setelah di luar penghadapan bolehlah berbicara secara akrab. Hal ini menjadikan raja Drupada menghusirnya. Dalam sanggit pewayangan Jawa, digambarkan bahwa Patih Raja Drupada bernama Gandamana marah besar dan menghajar Durna sampai patah tangan, bibir sumbing, dan pincang. Durna juga digambarkan bersuara cempreng dengan ungkapan khasnya “blegudhuk monyor-monyor prit gantil buntute”.
Cerita lain yang menggambarkan bahwa pendeta Durna adalah seorang pendeta yang tidak tahu hukum, ketika ada seorang pengagumnya yang bernama Palgunadi (Bambang Ekalaya) menghadapnya dan ingin berguru maka Durna menolaknya karena Palgunadi adalah orang dari golongan Sudra. Karena keinginannya berguru yang sangat tinggi, maka Palgunadi sering melihat Durna memberi pelajaran dan ia mempraktekkannya di depan patung Durna yang diciptakannya.
Akhirnya, Palgunadi memiliki kemampuan yang luar biasa di dalam hal ilmu memanah. Namun Durna yang tidak tahu malu justru memotong jari Palgunadi dengan maksud supaya dia tidak pandai memanah lagi. Ini adalah sebuah tindakan licik dan tidak tahu hukum.
Hal terakhir yang tidak baik yang dimiliki pendeta Durna adalah dalam berkarya atau Memberikan ilmu dia sebenarnya mengharapkan balas jasa. Dalam Wulangreh disebutkan bahwa dalam mencari guru adalah memilih guru yang ikhlas atau dan mikir pawailian. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh Durma. Yang pertama Durna telah menggunakan kekuatan murid-muridnya menaklukkan raja Drupada karena dendam.
Durna juga telah memihak kepada Kurawa yang jelas merupakan pihak yang salah akibat kurawalah yang telah memberikan Durna kedudukan dan kekuasaan. Itulah hal yang dikritisi oleh Wulangreh dari perbuatan Durna yang akhirnya menemukan kesadaran bahwa di dalam mendapatkan kebenaran harus berdasar pada empat hal yaitu: Alquran, Hadist, Ijmak, dan Qiyas karena Pakubuwana IV sebagai pimpinan kerajaan Islam menggunakan dasar-dasar itu, sementara wayang digunakan sebagai sarana instrospeksi.
(*) Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret, Anggota Dewan Pakar SENAWANGI, Jakarta.
