Wayang Beber Tawang Alun Jagong 8 “Strategi Raden Klana Sewandana dalam Perebutan Dewi Sekartaji”

Wayang Beber Tawang Alun Jagong 8 “Strategi Raden Klana Sewandana dalam Perebutan Dewi Sekartaji”
SHARE

WAYANG BEBER (PRABANGKARANEWS) – Wayang Beber Tawang Alun, karya Sungging Prubengkara, adalah peninggalan seni luar biasa yang mengisahkan lakon Panji dan mencatat peristiwa penting pada masanya. Dengan candra sengkala “Gawe Srabi Jinamahing Wong”, gulungan pertama jagong keempat memuat makna mendalam yang terkait erat dengan jagong ketiga dalam rangkaian kisah tersebut.

Candra sengkala ini menggambarkan tahun Jawa 1614 atau 1692 Masehi, yang diilustrasikan melalui figur seorang pria menyentuh wanita penjual serabi di pasar. Tahun ini menandai masa genting dalam sejarah Kerajaan Mataram Kartasura, di mana pengaruh VOC Belanda memicu konflik internal yang dikenal sebagai Peristiwa Pecinan.

Lakon Joko Kembang Kuning dalam Wayang Beber Tawang Alun juga menggambarkan Panji Inukertapati dari Kediri, mencerminkan kemegahan budaya Majapahit yang tetap bertahan melalui nilai-nilai luhur dan seni. Karya ini tidak hanya merefleksikan keahlian Sungging Prubengkara tetapi juga kebijaksanaannya dalam memadukan spiritualitas, seni, dan sejarah.

Baca Juga  Tri Rismaharini, Tekankan Semua Pegawai Kemensos Disiplin dan Jaga Integritas Pengelolaan Data

Tetenger tersebut menjadi saksi perjalanan panjang seni tradisional Indonesia sekaligus cerminan dinamika sosial-politik pada masa itu.

Pada gulungan 2 pejagong atau cerita  8, diceritakan bahwa Tawangalun mendapat tugas penting untuk menyampaikan kabar kepada Raja Kediri tentang keberadaan Dewi Sekartaji yang telah ditemukan. Tawangalun pun segera memulai perjalanan menuju Kediri untuk menyampaikan informasi tersebut. Wayang Beber Tawangalun diambilkan dari tokoh yang memperjuangkan Joko Kembang Kuning/Panji Inukertapati dalam memperebutkan Dewi Sekartaji. Melawan Prabu Klana Sewandana yang dalam hal ini mempunyai panglima perang Kebo Lorodan.

Dalam perjalanannya, Tawangalun singgah di Alun-alun Kediri, sebuah lokasi strategis yang menjadi tempat persinggahan pasukan Kediri di Tratembang dan pasukan Raden Klana Sewandana di Kedungrangga. Kedatangan Tawangalun di alun-alun segera menarik perhatian masyarakat setempat.

Baca Juga  Pangdam XII/Tpr Ikuti Webinar Optimalisasi Pendisiplinan Protokol Kesehatan Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19

 

Setibanya di sana, Tawangalun diterima oleh Patih Arya Deksa Negara, seorang pejabat penting di kerajaan Kediri. Patih Arya Deksa Negara mendengarkan laporan Tawangalun dengan penuh perhatian, memastikan informasi tersebut disampaikan kepada pihak yang berkepentingan.

Berita tentang Dewi Sekartaji ini juga sampai ke telinga Kebo Lorodan, seorang tokoh dekat Raden Klana Sewandana. Setelah mengetahui kabar tersebut, Kebo Lorodan segera mengabarkannya kepada Raden Klana Sewandana. Ia juga memberikan saran agar Raden Klana Sewandana segera menyusun strategi untuk memenangkan sayembara yang sedang berlangsung.

Kabar ini menjadi momen penting bagi Raden Klana Sewandana, memotivasi dirinya untuk mempersiapkan langkah terbaik dalam kompetisi demi memenangkan hati Dewi Sekartaji. Jagong 8 konflik terus memuncak dalam  cerita atau jagong Wayang Beber Tawang Alun.

Baca Juga  Update Covid-19 di Indonesia, Kasus Baru 387, Sembuh 91, per 10 Mei  2020

Penulis:  Agoes Hendriyanto