Waspada Sang Putri: Cinta, Penyamaran, dan Takdir
PRABANGKARANEWS – Dalam suasana yang sakral dan penuh ketegangan, Dewi Sekartaji berdiri anggun di tengah ruang keraton Kediri, dikelilingi bayang-bayang kekuasaan dan tipu daya. Keanggunannya terpancar dalam balutan busana kerajaan, namun matanya tajam menatap sosok tamu tak diundang yang menyelinap masuk: Gondoreko, sang abdi setia—yang tak lain adalah Raja Kelana Sewandono yang menyamar demi mendekati sang putri pujaan hati.
Wajah Dewi Sekartaji tampak teduh namun waspada, mencerminkan kecerdasan dan intuisi seorang putri kerajaan. Di belakangnya, tergambar motif klasik Wayang Beber: sulur-sulur alam, pagar-pagar istana, dan sosok-sosok pengiring kerajaan yang terhenti langkahnya, ikut merasakan ancaman tersembunyi.
Cahaya remang menyinari Gondoreko yang berdiri dengan sikap hormat namun menyembunyikan niat. Bayangannya di lantai menampilkan siluet Raja Kelana, menandakan penyamaran yang nyaris terbongkar. Sekartaji, dengan ketenangan dan ketajaman batinnya, menyadari gelagat ini, menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar perempuan istana, namun penjaga kehormatan, harga diri, dan kebenaran.
