Adu Kelapa, Jejak Sejarah dan Gema Budaya di Desa Cemeng Pacitan
PRABANGKARANEWS, PACITAN – Sorak sorai menggema di lapangan Desa Cemeng, Kecamatan Donorojo, Pacitan, Senin (19/25). Ratusan pasang mata menatap antusias ke tengah arena. Suasana berubah menjadi riuh saat seorang pria berbaju adat turun gelanggang. Ia bukan warga biasa, dialah Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, yang hari itu ikut ambil bagian dalam tradisi langka: adu kelapa.
Tradisi ini bukan sekadar permainan. Di balik dentuman kelapa yang saling berbenturan, tersimpan kisah tentang sejarah, identitas, dan kebanggaan warga Desa Cemeng. Momen ini adalah puncak dari Gelar Budaya Festival Bumi Banaran, bagian dari perayaan Bersih Desa yang digelar rutin setiap tahun.
“Rasanya luar biasa, apalagi melihat antusiasme warga menjaga warisan budaya,” ujar Bupati Indrata sambil tersenyum usai mencoba adu kelapa. Kelapa yang dipegangnya sempat retak, tapi semangatnya tetap utuh. Aksi spontan itu disambut tepuk tangan meriah warga.
Di tengah gempita festival, ada kisah lama yang tak lekang oleh waktu. Tradisi adu kelapa bukan sekadar hiburan rakyat, tapi simbol dari sejarah panjang Desa Cemeng.
Menurut penuturan tokoh masyarakat, nama Cemeng berawal dari peristiwa sekitar tahun 1825, saat meletusnya Perang Diponegoro. Saat itu, Bupati Pacitan bernama Joyoniman atau yang dikenal sebagai Tumenggung Kanjeng Jimat datang ke wilayah Banaran—nama lama dari Desa Cemeng—untuk menghadang pasukan Belanda. Ia tidak sendiri. Ki Retrogati dan masyarakat desa turut berjaga, dipimpin oleh Bekel Trenggono.
Untuk menghormati sang bupati, warga menyuguhkan kelapa. Namun tak ada alat untuk membelahnya. Kanjeng Jimat dan Ki Retrogati lalu mengadu kelapa dengan kekuatan tangan. Kejadian unik terjadi: asap hitam dan putih keluar dari kelapa yang pecah. Asap hitam melayang ke arah timur, menjadi pertanda perubahan nama desa dari Banaran menjadi Cemeng, yang dalam bahasa Jawa berarti “hitam”.
Kini, ratusan tahun berselang, tradisi itu tetap hidup. Anak-anak hingga orang tua tumplek blek di lapangan. Warga beradu semangat, bukan untuk menang, tapi untuk menjaga cerita yang telah diwariskan leluhur.
“Ini bukan soal siapa yang menang. Ini tentang menyatukan semangat warga, mengenang sejarah, dan memperkuat identitas kita,” tutur Kepala Desa Cemeng dengan mata berbinar.
Festival ini juga menampilkan kirab budaya, pertunjukan seni, serta kuliner khas desa yang menggoda lidah. Semua berpadu menjadi satu kesatuan: sebuah panggung yang mempertemukan masa lalu, masa kini, dan harapan masa depan.
Saat mentari mulai tenggelam di balik perbukitan, dentuman kelapa terakhir terdengar. Bukan sebagai akhir, melainkan sebagai penanda bahwa cerita Desa Cemeng akan terus dituturkan—dengan kelapa, dengan tawa, dan dengan kebanggaan.
