Mengurai Jalan Batin: Susilawati Susmono dan Metodologi ISAQ dalam Membangun Kesadaran Holistik
PRABANGKARANEWS – Di tengah gempuran arus modernitas dan derasnya tantangan zaman, R.Ngt. Hj. Susilawati Susmono menawarkan sebuah jalan hening yang kokoh: jalan batin menuju pemurnian diri dan pencerahan spiritual. Pameran tunggal Pameran Tunggal Serat Holistik Kehidupan Susilawati Susmono dengan tajuk “Hamemayu Hayuning Sarira”.
Hamemayu Hayuning Sarira adalah salah satu bagian dari konsep Trihayu yang dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara yang berakar dari filosofi Hamemayu Hayuning Bawana oleh Sultan Agung.
Agoes Hendriyanto konsep yang dihadirkan oleh Susilawati Susmono, dengan tersusunnya “Serat Holistik Kehidupan”. Terlihat Susilawati menghadirkan pendekatan unik yang merangkum pengalaman spiritual pribadi menjadi pengetahuan a posteriori—pengetahuan yang lahir dari perenungan, bukan sekadar konsep abstrak.
Ajaran ini bertolak dari prinsip luhur “Hamemayu Hayuning Sarira”, sebuah filosofi Jawa yang menekankan pentingnya memperindah dan menyempurnakan diri, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental dan spiritual. Dalam konteks itu, Susilawati merumuskan pendekatannya melalui metode ISAQ (Intellectual, Spiritual, and Action Quotient) yang ia adopsi dari Riyadah (hijrah batin) dan pengembangan model kecerdasan manusia yang integratif.
ISAQ menggabungkan tiga dimensi kecerdasan: IQ (Intellectual Quotient), SQ (Spiritual Quotient), dan AQ (Action Quotient). IQ, menurut Susilawati, mencerminkan daya nalar dan kemampuan intelektual seseorang dalam memahami hidup. Namun ia menekankan bahwa IQ semata tak cukup; ia harus berdampingan dengan SQ, yang menunjukkan kedalaman batin dan keterhubungan spiritual seseorang dengan Tuhan dan semesta.
Keseimbangan antara IQ dan SQ inilah yang akan melahirkan AQ—yakni bentuk nyata dari pemahaman dan pengalaman spiritual yang diwujudkan dalam tindakan. AQ adalah arena di mana pengetahuan tidak berhenti menjadi ide, tetapi menjelma menjadi sikap hidup dan perilaku yang membumi. Dalam pandangan Susilawati, AQ bukan sekadar hasil, tetapi juga proses dinamis yang terus berkembang seiring kesadaran diri seseorang terhadap tugas dan kodrat hidupnya.
Yang membedakan ajaran ini dari pendekatan psikologis atau religius biasa adalah bagaimana Susilawati meramu semua ini menjadi satu kesatuan utuh. ISAQ tidak berhenti pada teori atau dogma. Ia merupakan sistem reflektif yang mendorong manusia untuk merespons kehidupan, bukan hanya menerimanya secara pasif. Maka tak heran bila ajaran ini diterima sebagai pesan aktif yang memberi makna, bukan sekadar membisikkan dogma.
Melalui ISAQ, Susilawati seakan mengajak siapa pun yang mencarinya untuk tidak hanya mendalami teks suci atau ritual semata, tetapi juga menghayati kehidupan sebagai kitab yang terbuka. Sebuah pandangan yang menuntut keterlibatan penuh diri—pikiran, jiwa, dan tindakan—untuk menyatu dalam irama kehidupan yang penuh makna.
