Tiga Laku Menuju Tauhid: Integrasi Tafakur, Seni, dan Penyucian Diri
PRABANGKARANEWS, YOGYAKARTA — Masyarakat diajak untuk menelusuri kembali nilai-nilai luhur warisan leluhur melalui Pameran Serat Holistik Kehidupan Susilawati Susmono yang resmi dibuka hari Sabtu (2/8/25) di Gedung Saraswati, Museum Negeri Sonobudoyo, Yogyakarta. Pameran tunggal ini digelar oleh Yayasan Riyadhatul Ihsan bekerja sama dengan ISAQ Gallery dan Laboratorium Karakter Susilawati Susmono, serta didukung oleh Museum SHKSS.
Mengangkat tema “Hamemayu Hayuning Sarira”, pameran ini menampilkan puluhan karya lintas disiplin dari Hj. R.Ngt. Susilawati Susmono yang menggabungkan unsur spiritualitas, seni, dan ilmu pengetahuan. Karya yang ditampilkan mencakup lukisan, serat manuskrip, sastra kriya, musik, hingga karya ilmiah yang menggambarkan pencarian makna hidup secara holistik. Kegiatan ini telah dibuka oleh kurator kegiatan Dr. Hajar Pamadhi, M.A.Hons.
Hajar Pamadhi dalam sambutannya menjelaskan dalam pameran Srat Holistik Kehidupan Susilawati Susmono saya hanya diberikan waktu selama 3 bulan untuk mempersiapkan kegiatan ini. Kita ketahui bahwa terdapat 120karya intelektual, 5238 karya sastra, 17 karya tari, 122 karya lagu dan video klip, 1166 karya lukis, 276 karya batik, dan 27 karya kriya.

“Terdapat tiga laku memperoleh pengetahuan Tauhid, yaitu Approach, Method and Technique (AMT). AMT mendekatkan diri menuju Tazkiyyatun nafs terlebih dahulu. Suatu pendekatan ini mendasarkan laku penyucian jiwa atau pembersihan diri atau katarsis (Aristoteles) dari laku maupun sifat buruk dan penyakit hati. Metoda yang dilakukan adalah mengembangkan sifat-sifat terpuji dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nafs akan muncul secara murni. Teknik tafakur menuju Allah SWT dilakukan dengan healing, ekspresi, sublimasi dan katarsis,” jelas Hajar.
Beberapa metode yang digunakan adalah: kontemplasi, meditasi, dzikir, tafakur, tadabur. Melalui langkah berpikir (aqli) maupun pengembangan rasa dan hati (naqli) menghasilkan karya intelektual dan estetis berupa seni. Karya seni ini menjadi bentuk seni ritual dan atau seni spiritual. Seni ritual (Ritual Art) karena AMT tersebut melalui tafakur dan diungkapkan dengan spiritualitas jiwa yang bersih akan dapat membawa persoalan dunia yang tidak menentu. Menuju janma utama konteks hamemayu hayuning Sarira diperluas pembacaan diri (visual) diri secara total.
Karya seni yang dipamerkan kali ini merupakan proses internal melalui AMT sehingga terdapat pola intelektualitas dan sublimasi rasa dan pikiran. Karya-karya yang dipamerkan bersifat simulative, korelatif, kolaboratif serta interaktif. Karya seni sebagai ruang, arena dan medium sublimasi kepribadian, serta kesadaran emosi mengenai pada saat berkarya.
“Penampilan simultan terhadap tafakur melalui seni disematkan makna piwulang dan piweling pada realisasi. Karya yang korelatif, dimaksudkan diantaranya memberi informasi, bahkan menciptakan makna baru, sedangkan karya yang kolaboratif menjadi saling memberi makna antara: seni tari, seni lukis, musik maupun seni musik. Karya yang interaktif ditampilkan di beberapa karya seni memberi arti yang sama,” tutup Hajar.
