Belajar dari Hoi An Vietnam: Pariwisata Kita Butuh Keaslian dan Keberlanjutan
Oleh: Dr. Agoes Hendriyanto
Meskipun Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan alam dan budaya terbesar di dunia, perkembangan pariwisata di banyak daerah masih cenderung mengikuti tren sesaat tanpa strategi jangka panjang. Tidak jarang, destinasi baru cepat viral di media sosial, namun kemudian ditinggalkan begitu saja tanpa perawatan, manajemen yang berkelanjutan, atau inovasi kreatif untuk mempertahankan daya tarik. Hal ini membuat wisata di Indonesia sering kehilangan nilai autentiknya.
Berbeda dengan Hoi An di Vietnam yang dinobatkan sebagai pusat kota bersejarah terindah di Asia karena keberhasilan menjaga keaslian arsitektur, budaya, serta ramah wisatawan, banyak daerah wisata di Indonesia masih kurang perhatian terhadap aspek konservasi dan pelestarian. Di sejumlah tempat, fasilitas publik terbatas, akses jalan sulit, hingga sampah yang menumpuk karena lonjakan wisatawan musiman.
Trend juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah daerah yang tidak konsisten untuk mengembangkan potensi wisata baik alam maupun budaya. Konsep wisata yang dirumuskan dengan hati bukan dirumuskan untuk kepentingan politik ataupun keinginan dari penguasa namun didasarkan hasil riset yang menghasilkan sebuah konsep wisata yang membuat wisatawan lokal maupun mancanegara akan terkesan dan ingin kembali berkunjung.
Selain itu, tarif masuk yang mahal di beberapa objek wisata sering tidak sebanding dengan kualitas pelayanan maupun sarana pendukung. Wisatawan tidak hanya mencari pemandangan indah, tetapi juga pengalaman sosial budaya yang hangat dan autentik. Sayangnya, di beberapa daerah, interaksi sosial justru tergerus oleh komersialisasi berlebihan yang mengurangi nuansa tradisional dan kedekatan masyarakat lokal.
Hal yang harus menjadi dasar bagi pengembangan kebudayaan untuk tujuan wisata objek harus minimal telah berusia 50 tahun berdasarkan acuan dari undang-undang pemajuan kebudayaan nomor 5 tahun 2017 yang berupa; adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, olahraga tradisional, teknologi tradisional, seni, tradisi lisan, manuskrip, dan bahasa.
Kelemahan lain adalah minimnya inovasi dalam mengemas potensi wisata. Kreativitas lokal belum banyak diangkat menjadi nilai tambah yang membedakan destinasi satu dengan lainnya. Padahal, Indonesia memiliki kerajinan, kuliner, hingga kesenian yang bisa menjadi daya tarik unik bila dikemas dengan baik.
Pariwisata di daerah juga kerap belum ramah bagi semua kalangan. Akses transportasi, infrastruktur digital, dan informasi berbahasa internasional masih terbatas, sehingga menyulitkan wisatawan mancanegara. Hal ini membuat Indonesia tertinggal dibandingkan negara tetangga yang sudah lebih siap menyambut pasar global.
Jika tidak segera berbenah, banyak potensi wisata daerah di Indonesia hanya akan menjadi tren singkat yang redup seiring waktu. Sudah saatnya pariwisata daerah mengedepankan keberlanjutan, pelestarian budaya, inovasi kreatif, serta peningkatan fasilitas publik agar benar-benar bisa menjadi destinasi unggulan yang mampu bersaing di tingkat dunia, bukan sekadar ikut-ikutan tren.
(*) Dosen, akademisi, peneliti
