Situs Dodo Peksi Griyo KH Dimyati: Jejak Wali, Rajah Alif, dan Filosofi Jawa–Islam yang Lestari
PRABANGKARANEWS – “Bismillah… Salam Literasi Sejarah… Pacitan Kota Misteri.” Di antara weningnya Desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, berdiri sebuah saksi sunyi yang memeluk sejarah lebih dari dua abad: Situs Dodo Peksi Griyo KH Dimyati. Tak banyak yang tahu, bahwa bangunan tua berbentuk joglo sederhana di lingkungan Pondok Pesantren Tremas ini menyimpan pesan adiluhung—perpaduan kuat antara ilmu dari Tanah Suci dan kearifan Jawa yang tak pernah luntur.
1. Jejak Sang Alim: Dari Makkah Kembali ke Pacitan
Pada abad ke-18 M, seorang alim besar, seorang Wali Allah, KH Dimyati, kembali ke tanah kelahirannya setelah bertahun-tahun menimba ilmu di Makkah. Beliau belajar langsung dari kerabatnya, ulama besar Syekh Mahfud, hingga akhirnya mendapat tugas kembali ke Pacitan: “mendirikan pondok, menegakkan syiar Islam, dan menerangi bumi Jawa.”
Di Tremas—yang saat itu masih sepi dan berhawa mistis—beliau mendirikan sebuah pesantren dan rumah kediaman berbentuk limasan–joglo, bentuk arsitektur Jawa asli. Pilihan bentuk rumah ini bukan kebetulan, tetapi pernyataan:
“Belajar di Arab, tetapi kembali sebagai orang Jawa yang memegang teguh adab dan tradisinya.”
2. Rajah Alif: Tanda, Doa, dan Titah Filosofi
Di dalam rumah (griyo) beliau, tersimpan simbol-simbol rupanya sederhana, namun bertuah dalam makna.
• Tujuh Belas Tulisan Rajah “Alif”
KH Dimyati mengguratkan 17 rajah berbentuk huruf Alif ke dalam gambar segi empat.
Maknanya kuat: 17 rakaat sholat wajib—tiang utama hubungan hamba dengan Allah SWT.
Alif adalah simbol ketauhidan, garis pertama menuju Yang Maha Esa.
• Lambang “Lam–Alif” dan Figur “Capit Urang”
Di bagian lain, tampak lambang Lam–Alif yang menyatu dalam bentuk menyerupai capit urang, lalu dituangkan ke dalam bentuk jajaran genjang segi empat seperti ketupat.
Maknanya:
-
Lam–Alif sebagai simbol keagungan kalimah Ilahi.
-
Bentuk capit urang melambangkan penjaga atau “pengapit” jalan kebenaran.
-
Segi empat seperti Ka’bah—arah tujuan para salik mencapai kesempurnaan ibadah.
Hanya mereka yang sholat dengan khusyu’, kata para sesepuh,
yang mampu sampai ke “segi empat Ka’bah” maknawi itu—puncak penghambaan seorang hamba.
3. Harmoni Arab dan Jawa dalam Satu Rumah
Yang menarik, meskipun KH Dimyati lama di Makkah, namun rumah, masjid kecilnya, dan rajah-rajah yang ditinggalkan tetap memakai langgam simbol Jawa.
Ini bukti bahwa Islam yang beliau ajarkan: “menghargai budaya, tidak memutus akar, dan menjadikan tradisi lokal sebagai jembatan dakwah.”
Beliau tidak “meng-Arab-kan” Jawa, melainkan menyinari Jawa dengan cahaya Islam.
4. Tetap Berdiri di Tengah Modernitas
Situs Dodo Peksi Griyo kini menjadi saksi bahwa kearifan lama masih bisa bertahan.
Di tengah pergeseran zaman, bangunan itu tetap kokoh—diam, tetapi berbicara melalui simbol dan filosofi yang diwariskan.
Ia mengingatkan kita:
Bahwa ilmu sejati bukan hanya didengar, tapi diwariskan lewat jejak, sikap, dan simbol kehidupan.
Mugio Gusti Allah SWT paring berkahipun teng sedoyo niki.
Semoga keberkahan KH Dimyati, pesantren Tremas, dan seluruh warisan budaya–agama ini terus mengalir, menjadi suluh bagi generasi yang mencari arah.
Penulis: Amat Taufan
