Perpisahan di Kampung Inggris Pare Kediri
Oleh: Ragil Kuning
Sabtu, 22 November 2025 akan menjadi tanggal yang selalu dikenang oleh Ragil dan teman-temannya. Hari itu bukan sekadar hari untuk pulang, melainkan momen melepas sebuah perjalanan yang mengubah cara pandang, kebiasaan, dan ikatan pertemanan yang terjalin selama lebih dari dua bulan di Kampung Inggris Pare, Kediri. Suasana haru menyelimuti perpisahan itu. Air mata jatuh bukan karena sedih semata, tetapi karena rasa syukur atas pertemuan, kedekatan, dan pelajaran hidup yang lahir dari “circle” baru yang terbentuk dari berbagai penjuru Indonesia.
Ragil menyelipkan dua kalimat sederhana namun sangat bermakna: “Jangan lupakan ya teman-teman, di mana pun kalian berada.” Ucapan singkat itu adalah refleksi betapa besar arti keluarga baru yang ia temukan di Pare—keluarga yang dibangun dari perbedaan daerah, sekolah, budaya, dan latar belakang, namun disatukan oleh satu tujuan: belajar dan berani berbicara dalam bahasa Inggris. Kampung Inggris memang memiliki kekuatan unik. Di tempat ini, Indonesia terasa menyatu. Remaja dari SMA, SMK, perguruan tinggi negeri maupun swasta datang dan hidup berdampingan dalam satu ritme belajar yang padat namun penuh kehangatan.
Setiap hari dimulai pukul lima pagi dan baru berakhir menjelang malam. Metode belajar yang menuntut semua peserta untuk menggunakan bahasa Inggris dalam setiap aktivitas mendorong mereka untuk saling berinteraksi.
Kadang ada yang merasa malu atau takut salah, tetapi aturan yang ketat—termasuk hukuman berpidato di depan teman-teman jika melanggar—secara tidak langsung menjadikan mereka lebih berani dan percaya diri. Dari kebiasaan ini tumbuhlah rasa kebersamaan, saling menyemangati, dan saling mendukung.
Proses belajar bukan lagi semata-mata tentang bahasa Inggris, tetapi tentang keberanian menghadapi diri sendiri dan dunia luar.
Perpisahan adalah bagian dari perjalanan. Setiap pertemuan memiliki waktunya masing-masing, begitu pula perpisahan yang tak bisa dihindari. Namun, Pare tidak hanya memberi mereka materi belajar, melainkan juga ingatan, semangat, dan identitas baru.
Kini, Ragil dan teman-temannya membawa pulang lebih dari sekadar sertifikat. Mereka membawa pengalaman hidup yang akan menjadi bekal untuk menapaki masa depan.
Mulai Senin nanti, Ragil akan memulai babak baru sebagai staf salah satu perusahaan tekstil di Boyolali. Lingkungan dan wajah-wajah yang ia temui akan berbeda, namun ia tidak datang dengan tangan kosong. Ia datang membawa modal: kemampuan berbahasa Inggris, pengalaman hidup bermakna, serta keberanian untuk membangun circle baru, seperti yang ia temukan di Pare.
Kampung Inggris telah mengajarkan satu hal penting: belajar tidak hanya tentang pengetahuan, tetapi tentang bagaimana kita terhubung, tumbuh, dan berubah bersama orang lain. Dan meski waktu telah memisahkan mereka secara fisik, kenangan serta nilai-nilai yang dibangun selama dua bulan lebih itu tidak akan pernah pudar.
Pare bukan hanya tempat belajar. Ia adalah sebuah perjalanan. Sebuah rumah sementara yang menjadi titik awal lahirnya mimpi-mimpi baru. Selamat melangkah, Ragil. Selamat menjemput masa depan. Dan semoga circle yang baru selalu menemukanmu, seperti Pare yang pernah menyatukan langkah-langkah kalian.
