Pengetahuan Tradisional Sandang dalam Wayang Beber Pacitan (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS.COM, OPK-PACITAN – Dalam kegiatan inventarisasi Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), aspek pengetahuan tradisional di bidang sandang—khususnya pakaian pengrawit dalam pertunjukan Wayang Beber—memiliki posisi yang sangat penting. Dalam konteks ini, pakaian tidak sekadar dipahami sebagai unsur estetika, tetapi sebagai bagian integral dari sistem pengetahuan budaya yang hidup dan diwariskan dalam masyarakat.
Wayang Beber Pacitan berada pada pertemuan tiga ranah OPK, yaitu tradisi lisan, seni pertunjukan, dan pengetahuan tradisional. Oleh karena itu, busana yang dikenakan oleh pelaku seni, termasuk dalang dan pengrawit, memiliki fungsi yang lebih luas sebagai media transmisi nilai-nilai budaya, simbol sosial, serta etika yang melekat dalam praktik pertunjukan.
Dalam pementasan, pakaian berfungsi sebagai penanda peran yang membedakan posisi dan fungsi masing-masing pelaku, sekaligus sebagai sarana pewarisan norma dan makna simbolik. Selain itu, dalam konteks revitalisasi, busana menjadi elemen visual yang berperan penting dalam menjaga keaslian sekaligus memperkuat keberlanjutan tradisi Wayang Beber di tengah perubahan zaman.
Upaya revitalisasi Wayang Beber Pacitan menuntut adanya perumusan standar busana yang tetap berpijak pada nilai autentik tradisi, namun memungkinkan untuk direproduksi secara berkelanjutan. Prinsip yang digunakan meliputi kesederhanaan bentuk, kejelasan simbolik, serta kesesuaian dengan konteks budaya lokal Pacitan.
Busana bagian atas yang digunakan dalam pementasan umumnya berupa baju kampret Jawa atau kain lurik polos tanpa kerah dan tanpa sentuhan desain modern. Teknik jahitan dibuat sederhana dan lurus, menghindari gaya tailoring kontemporer yang dapat mengubah karakter tradisional. Bahan yang digunakan berasal dari katun tradisional atau tenun lokal, sehingga turut mendukung keberlangsungan perajin lokal.
Penggunaan warna pada atasan dibedakan berdasarkan peran. Dalang utama mengenakan warna putih tulang yang melambangkan kejernihan batin dan otoritas dalam mengendalikan narasi, sedangkan pengrawit menggunakan warna gelap seperti hitam atau coklat tua yang mencerminkan ketekunan, kesenyapan, dan peran pendukung dalam pertunjukan.
Pada bagian bawah, busana berupa kain jarik yang dikenakan dengan teknik lilitan sederhana tanpa lipatan rumit maupun tambahan aksesori modern. Motif yang digunakan umumnya motif ceplok sederhana, kawung kecil, serta motif sogan pesisir yang merepresentasikan karakter budaya Jawa pesisir yang egaliter. Penggunaan motif larangan keraton, seperti parang, dihindari karena Wayang Beber Pacitan berkembang di luar struktur simbolik keraton.
Penutup kepala menggunakan iket dari kain polos sebagai pilihan utama, dengan warna hitam atau coklat tua tanpa ornamen tambahan. Dalam kondisi tertentu, penggunaan blangkon sederhana dapat diterapkan secara terbatas. Iket diikat secara manual untuk menjaga nilai keaslian praktik tradisional. Secara simbolik, penutup kepala ini mencerminkan pengendalian diri dan kesiapan batin sebelum memasuki ruang pertunjukan.
Dalam praktik ideal, pelaku Wayang Beber tampil tanpa alas kaki sebagai simbol kedekatan dengan ruang budaya. Namun, dalam konteks modern, penggunaan alas kaki sederhana berbahan alami masih dimungkinkan tanpa menghilangkan nilai kesederhanaan dan karakter tradisional.
Standarisasi busana juga berfungsi untuk memperjelas struktur peran dalam pementasan. Dalang tampil dengan warna dominan terang dan posisi sentral, pengrawit dengan warna gelap yang menunjukkan peran kolektif, sedangkan pendukung pertunjukan menggunakan warna-warna netral untuk menjaga harmoni visual secara keseluruhan.
Revitalisasi busana Wayang Beber Pacitan dilaksanakan melalui empat prinsip utama dalam OPK, yaitu pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan. Pelindungan dilakukan melalui dokumentasi dan penyusunan deskripsi standar sebagai arsip budaya. Pengembangan diarahkan pada produksi ulang oleh perajin lokal dengan tetap mempertahankan bentuk dasar. Pemanfaatan dilakukan dalam berbagai konteks, seperti pertunjukan, festival budaya, pendidikan, serta media audiovisual. Sementara itu, pembinaan difokuskan pada transfer pengetahuan kepada generasi muda melalui pelatihan dan lokakarya.
Sebagai luaran, kegiatan ini diarahkan pada penyusunan panduan busana, ensiklopedia OPK Pacitan, standar kostum pertunjukan, serta produksi konten visual edukatif. Dengan demikian, dalam kerangka OPK, pakaian dalam Wayang Beber Pacitan tidak hanya berfungsi sebagai atribut pertunjukan, tetapi juga sebagai media pengetahuan, identitas budaya, dan sarana keberlanjutan tradisi yang diwariskan secara bermakna kepada generasi mendatang.
Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.

