Petilasan Mbah Taun di Tengah Sawah Tegalombo: Ritus, Ingatan Kolektif, dan Jejak Budaya yang Terus Hidup (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS.COM, OPK-CB-PACITAN – Di antara bentang persawahan yang tenang di wilayah Tegalombo, Pacitan, terdapat sebuah ruang kecil yang tidak sekadar menjadi bagian dari lanskap pedesaan. Di sanalah Petilasan Mbah Taun berdiri—sederhana, berupa gundukan tanah dan batu yang dikelilingi hamparan padi. Namun bagi masyarakat setempat, tempat ini bukan sekadar petilasan, melainkan ruang sakral yang menyimpan lapisan sejarah, mitos, dan ritus yang terus hidup hingga kini.
Tradisi lisan masyarakat menyebutkan bahwa jejak Petilasan Mbah Taun bermula pada masa kolonial Belanda, sekitar awal abad ke-20. Kala itu, wilayah Tahunan Baru masih berupa hutan lebat yang didominasi semak belukar, ilalang, dan glagah. Dalam narasi lokal, seorang tokoh bernama Mbah Ponco Sinung membuka lahan dengan cara membakar semak tersebut. Namun peristiwa yang kemudian dianggap sebagai tanda “keajaiban” terjadi ketika api padam, ditemukan gundukan tanah dan batu yang tidak tersentuh api sama sekali.
Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada Mbah Karto Dukut, tetua desa atau demang pada masa itu. Atas pertimbangan kearifan lokal, lokasi tersebut tidak dilanjutkan sebagai lahan garapan, melainkan diperlakukan sebagai tempat yang dikeramatkan. Bahkan dibuat batas sederhana dari bambu sebagai penanda kesakralan ruang tersebut.
Seiring waktu, ruang sakral itu berkembang dalam ingatan kolektif masyarakat. Nama-nama tokoh lain seperti Mbah Mantri dan Mbah Nitipati turut hadir dalam tradisi lisan sebagai bagian dari tiga figur sakral yang diyakini memiliki peran penting dalam sejarah lokal Tahunan. Meski makam mereka terpisah, ketiganya membentuk satu kesatuan narasi budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Di antara ketiganya, Petilasan Mbah Taun memiliki karakter yang unik. Letaknya berada di tengah area persawahan, tidak megah, tidak dibangun dengan struktur permanen, namun justru itulah yang memperkuat kesakralannya. Setiap malam Jumat Legi, masyarakat masih datang untuk berziarah, berdoa, hingga menggelar kenduri sederhana di lokasi tersebut. Aktivitas ini menjadi bagian dari ritus yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga sosial—mengikat solidaritas antarwarga dalam ruang budaya bersama.
Namun, praktik ritus ini juga menyisakan ruang dialektika. Di satu sisi, ia menjadi bagian dari tradisi dan identitas budaya lokal. Di sisi lain, terdapat dinamika pemahaman keagamaan yang berbeda terkait praktik ziarah dan ritual yang berlangsung. Meski demikian, keberadaan Petilasan Mbah Taun tetap bertahan sebagai ruang hidup budaya yang terus dirawat oleh masyarakatnya.
Menariknya, dalam tradisi lisan berkembang pula keyakinan bahwa nama “Tahunan” sendiri berasal dari sosok sesepuh bernama Mbah Tahun. Walaupun secara historis belum ditemukan bukti tertulis yang menguatkan narasi tersebut, hal ini justru memperlihatkan bagaimana sejarah lokal bekerja—tidak selalu melalui arsip, tetapi melalui ingatan, cerita, dan keyakinan yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam konteks pemajuan kebudayaan, Petilasan Mbah Taun dapat diposisikan sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) kategori ritus. Ia memenuhi unsur sebagai warisan budaya takbenda yang hidup (living tradition), karena masih dipraktikkan, diyakini, dan dijaga oleh komunitas pendukungnya.
Lebih jauh, keberadaan situs ini juga membuka ruang penting dalam upaya revitalisasi kebudayaan Pacitan, khususnya dalam tiga aspek utama:
- Pelestarian tradisi lisan sebagai sumber sejarah alternatif lokal
- Penguatan identitas budaya komunitas pedesaan
- Pengembangan potensi wisata budaya berbasis spiritual heritage
Dengan demikian, Petilasan Mbah Taun tidak hanya berdiri sebagai ruang ritual, tetapi juga sebagai teks budaya yang hidup—yang merekam cara masyarakat memaknai sejarah, ruang, dan spiritualitas mereka sendiri.
Dalam kerangka buku Revitalisasi dan Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan Pacitan, situs ini menjadi salah satu contoh penting bagaimana budaya lokal tidak berhenti sebagai masa lalu, tetapi terus bergerak, dinegosiasikan, dan dihidupkan kembali melalui praktik masyarakat hari ini.
Penulis: Suyadi, Agoes Hendriyanto
