Menelusuri Sejarah Pacitan Melalui Tradisi Lisan dan Warisan Budaya (Dana Indonesiana 2025 )

Menelusuri Sejarah Pacitan Melalui Tradisi Lisan dan Warisan Budaya (Dana Indonesiana 2025 )
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, OPK PACITAN – Salah satu bentuk kegiatan inventarisasi dan kajian objek pemajuan kebudayaan dalam rangka pelestarian budaya Pacitan dilakukan melalui pengkajian sejarah lokal, khususnya tradisi lisan yang berkembang di masyarakat. Salah satu yang penting adalah tradisi lisan mengenai Ki Buwono Keling, tokoh yang diyakini memiliki peran signifikan dalam perkembangan awal wilayah Pacitan.

Secara geografis, Pacitan merupakan wilayah di Pulau Jawa yang termasuk dalam Karesidenan Madiun. Sejak sekitar abad ke-15, wilayah ini telah berkembang dengan pengaruh agama Hindu-Buddha yang berkiblat pada Kerajaan Majapahit. Dalam tradisi lisan, Ki Ageng Buwono Keling dikenal sebagai utusan Raja Brawijaya dari Majapahit yang ditugaskan ke wilayah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah pada masa akhir kejayaan Majapahit.

Baca Juga  Dari Penantang Menjadi Pemimpin: Bagaimana Vietnam Mengungguli Thailand dalam Penetrasi EV

Berdasarkan silsilah yang berkembang, Ki Ageng Buwono Keling disebut sebagai keturunan Kerajaan Pajajaran yang kemudian dipersuntingkan dengan Putri Togati, putri Raja Brawijaya IV. Melalui pernikahan tersebut, ia menjadi bagian dari lingkungan kekuasaan Majapahit dan memperoleh wilayah di pesisir selatan Jawa dengan kewajiban tunduk pada otoritas kerajaan.

Pusat pemerintahannya diperkirakan berada di wilayah Jati, Kecamatan Kebonagung, sekitar tujuh kilometer dari pusat Kota Pacitan saat ini, yang pada masa itu dikenal sebagai Wengker Kidul. Ia juga memiliki keturunan, salah satunya Raden Purbengkoro yang kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Bana Keling.

Keberadaan Ki Ageng Buwono Keling sebagai penguasa Wengker Kidul diperkuat oleh temuan prasasti beraksara Jawa Kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-15. Prasasti tersebut menjadi indikasi awal terbentuknya struktur kekuasaan di wilayah Pacitan.

Baca Juga  Waspadai Varian Omicron, Kapolri Minta Vaksinasi Dipercepat dan Prokes Dipatuhi

Menurut Ronggosaputro (1980), masyarakat Pacitan pada masa itu memeluk agama Hindu-Buddha dan berada dalam pengaruh Majapahit. Ki Ageng Buwono Keling juga dikisahkan sebagai tokoh yang membuka wilayah hutan selatan (babat alas kidul) dan mendirikan permukiman di daerah Jati, Kebonagung, yang menandai awal perkembangan masyarakat di kawasan tersebut.

Pada masa akhir Majapahit, Pacitan juga diperkirakan menjadi salah satu tujuan pelarian bagi masyarakat dari pusat kerajaan. Hal ini berkaitan dengan dinamika politik pada akhir abad ke-15, ketika Kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran.

Dalam konteks ini, tokoh-tokoh seperti Batara Katong, putra Prabu Brawijaya, memiliki peran dalam restrukturisasi kekuasaan di wilayah barat, termasuk menjadi Adipati Ponorogo di bawah pengaruh Kesultanan Demak yang dipimpin Raden Patah. Wilayah kekuasaan tersebut membentang dari kawasan utara hingga pesisir selatan, termasuk wilayah Pacitan, sehingga memperlihatkan keterkaitan historis antara Pacitan, Majapahit, dan munculnya kekuasaan Islam di Jawa.

Baca Juga  Presiden Jokowi Panggil Jajaran Polri ke Istana, Intruksikan Beberapa Hal

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.