Brojo Geni: Olahraga Tradisional Berbasis Spiritual dari Pacitan yang Sarat Nilai Budaya (Dana Indonesiana 2025)

Brojo Geni: Olahraga Tradisional Berbasis Spiritual dari Pacitan yang Sarat Nilai Budaya (Dana Indonesiana 2025)
Diskusi Brojo Geni di Tremas Minggu (19/4/26)
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, OPK-PACITAN – Salah satu warisan budaya yang masih lestari di tengah masyarakat adalah olahraga tradisional Brojo Geni. Ditinjau dari karakteristiknya, Brojo Geni memenuhi kriteria sebagai olahraga tradisional sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yakni aktivitas fisik dan mental yang berlandaskan nilai-nilai tertentu, dilakukan secara kolektif, diwariskan lintas generasi, serta menjadi bagian dari tradisi masyarakat.

Dalam konteks ini, Brojo Geni memiliki kemiripan dengan tradisi lain seperti Pasola, Lompat Batu, dan Debus, terutama dalam aspek kekuatan fisik, nilai simbolik, serta keterikatannya dengan komunitas budaya yang kuat.

Sebagai bagian dari permainan rakyat, olahraga tradisional merupakan aset penting bangsa yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana interaksi sosial dan ekspresi budaya. Menurut Bambang Laksono (2012), suatu aktivitas dapat dikategorikan sebagai olahraga tradisional apabila mengandung unsur olahraga sekaligus memiliki nilai tradisional yang berkembang secara turun-temurun dalam masyarakat.

Baca Juga  Danrem 071/Wijayakusuma Letakkan Batu Pertama Pembangunan Tugu Perjuangan Di Pekalongan

Di tingkat lokal, Brojo Geni tumbuh dan dilestarikan di lingkungan Pondok Pesantren Tremas, yang terletak di Kecamatan Arjosari, Pacitan. Pesantren ini dikenal sebagai salah satu yang tertua di Nusantara, tidak hanya sebagai pusat pendidikan Islam, tetapi juga sebagai penjaga tradisi dan budaya masyarakat.

Secara visual, Brojo Geni menyerupai permainan sepak bola atau futsal, namun dengan ciri khas unik: bola yang digunakan adalah bola api yang terbuat dari sabut kelapa yang direndam minyak tanah dan dibakar. Para pemain bermain tanpa alas kaki dan mengenakan pakaian sederhana khas santri. Permainan ini dilakukan oleh dua tim dengan aturan yang menyerupai sepak bola, tetapi sarat dengan makna simbolik dan spiritual.

Sejarah mencatat bahwa Brojo Geni mulai dikembangkan sekitar tahun 1830 oleh Kiai Haji Abdul Manan sebagai media dakwah. Pendekatan ini sejalan dengan metode dakwah Wali Songo yang memanfaatkan seni dan tradisi sebagai sarana internalisasi nilai-nilai keislaman. Tradisi ini kemudian semakin dikenal luas melalui peran K.H. Mahrus Hasyim di kalangan santri Tremas.

Baca Juga  Jejak Ki Rono Ireng dan Lahirnya Desa Sidomulyo: Tradisi Lisan sebagai Warisan Budaya Pacitan (Indonesiana-IndonesiaRaya)

Keunikan Brojo Geni tidak hanya terletak pada aspek fisiknya, tetapi juga pada dimensi spiritual yang menyertainya. Para pemain diwajibkan menjalani laku spiritual seperti riyadhoh, puasa, ngebleng, dzikir, hingga ritual pembersihan diri. Praktik ini mencerminkan pentingnya kesiapan lahir dan batin, serta pengendalian diri sebelum berinteraksi dengan unsur api sebagai simbol ujian.

Amalan berupa puasa mutih selama 3 hari, yaitu hanya mengonsumsi nasi putih dan minum air putih tanpa gula. Tata caranya seperti puasa pada umumnya, yakni diawali dengan sahur dan diakhiri dengan berbuka, namun dengan pembatasan jenis makanan tersebut sebagai bentuk laku prihatin dan pengendalian diri. Selain itu juga ada amalan wirid tertentu yang akan diberikan oleh Kyai yang diberikan tanggungjawab untuk laksanakan kegiatan tersebut.

Amalan ini biasanya dimaksudkan sebagai bentuk riyadhoh (latihan spiritual) untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, memperkuat batin, serta memohon perlindungan dan keselamatan. Namun, dalam praktiknya, laku seperti ini tetap perlu disertai niat yang baik, pemahaman yang benar, serta—jika memungkinkan—bimbingan dari guru atau tokoh yang kompeten dalam bidang spiritual.

Baca Juga  Di Balik Pemanggilan 41 Pemain: Strategi John Herdman Siapkan Tim Muda untuk Asian Games

Secara tradisional, Brojo Geni dilaksanakan setiap 1 Muharram sebagai bagian dari peringatan Tahun Baru Islam. Setelah pertandingan, para pemain diwajibkan berjabat tangan sebagai simbol persaudaraan dan pengendalian emosi, tanpa menyisakan konflik.

Sebagai warisan budaya yang hidup, Brojo Geni mengandung nilai-nilai luhur seperti kepedulian sosial, kerendahan hati, pengendalian diri, serta penguatan spiritualitas kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, Brojo Geni memiliki posisi strategis sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan—tidak hanya sebagai olahraga tradisional, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter dan identitas budaya yang perlu terus dilestarikan, didokumentasikan, dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.