Transformasi Kethek Ogleng: Dari Inspirasi Kera Hingga Warisan Budaya Pacitan (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS.COM, OPK-CB -PACITAN – Nama Kethek Ogleng merupakan sebutan yang diberikan langsung oleh penciptanya, yaitu Sutiman, terhadap seni yang berhasil dikreasinya. Sebelum nama tersebut digunakan, Sutiman sempat meminta beberapa koleganya untuk memberikan usulan nama bagi seni yang baru diciptakannya.
Namun dari berbagai usulan yang muncul, tidak ada satu pun yang dirasa sesuai dengan karakter seni tersebut. Setelah melalui proses analisis dan perenungan terhadap gerakan tarian serta iringan musik yang digunakan, akhirnya Sutiman memutuskan untuk menamai karyanya dengan sebutan Seni Kethek Ogleng (Sukisno, 2018).
Pemilihan nama tersebut didasarkan pada dua pertimbangan utama. Pertama, gerakan yang ditampilkan dalam seni pertunjukan tersebut meniru perilaku kera, yang dalam bahasa Jawa disebut kethek. Gerakan-gerakan dalam tarian ini merupakan bentuk personifikasi dari tingkah laku kera seperti berjalan, bercanda, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Kedua, nama Ogleng berasal dari bunyi iringan gamelan yang mendominasi pertunjukan, yakni bunyi “gleng… glong… gleng… glong”. Perpaduan antara unsur gerak yang meniru kera dan bunyi musik pengiring tersebut kemudian melahirkan nama Kethek Ogleng, yang hingga kini tetap dikenal dan melegenda di kalangan masyarakat Pacitan .
Proses Kreatif Sutiman dalam Menciptakan Kethek Ogleng
Awal mula lahirnya seni Kethek Ogleng tidak terlepas dari pengalaman pribadi Sutiman ketika melihat tingkah laku seekor kera di hutan sekitar tempat tinggalnya di Desa Tokawi. Tingkah laku kera tersebut menarik perhatian Sutiman karena dianggap unik, lucu, dan menghibur.
Pengalaman tersebut membekas dalam ingatannya dan menimbulkan gagasan bahwa gerakan kera tersebut dapat dijadikan inspirasi untuk menciptakan sebuah bentuk seni pertunjukan yang mampu menghibur masyarakat.
Keinginan Sutiman untuk mempelajari gerakan kera semakin kuat ketika kera yang pernah dilihatnya tidak muncul kembali. Oleh karena itu, ia pergi ke Kebun Binatang Sri Wedari di Solo untuk mengamati perilaku kera secara lebih dekat
. Di tempat tersebut, Sutiman menghabiskan waktu untuk memperhatikan berbagai gerakan kera, seperti ketika makan, bercanda, berjalan, bergelantungan, hingga berinteraksi dengan sesamanya. Pengamatan tersebut kemudian menjadi dasar bagi Sutiman dalam menyusun gerakan-gerakan tari yang menirukan perilaku kera secara artistik.
Setelah melalui proses pengamatan dan perenungan, Sutiman mulai berlatih dan mengembangkan gerakan-gerakan dasar yang terinspirasi dari perilaku kera tersebut.
Secara bertahap, gerakan-gerakan tersebut disempurnakan hingga membentuk suatu bentuk pertunjukan yang utuh. Dalam proses ini, Sutiman menyadari bahwa seni yang diciptakannya membutuhkan iringan musik agar dapat dipentaskan secara lebih menarik.
Perkembangan Awal dan Dukungan Komunitas
Dalam upaya mengembangkan seni yang diciptakannya, Sutiman kemudian berusaha menjalin kerja sama dengan paguyuban kerawitan yang ada di Desa Tokawi.
Paguyuban tersebut merupakan kelompok kesenian yang aktif memainkan gamelan dalam berbagai kegiatan masyarakat. Namun untuk dapat bergabung, Sutiman harus memenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan oleh paguyuban tersebut (Hendriyanto A, 2026k).
Melalui proses pendekatan dan penyesuaian diri, Sutiman akhirnya berhasil meyakinkan para anggota paguyuban kerawitan untuk menerima dirinya sekaligus bersedia mengiringi seni yang diciptakannya.
Keberhasilan tersebut menjadi tonggak penting dalam perkembangan Seni Kethek Ogleng, karena sejak saat itu pertunjukan tersebut memiliki iringan musik yang tetap dan dapat dipentaskan secara lebih terstruktur (Hendriyanto A., Mustofa A., 2018). Bahkan, Sutiman kemudian diterima sebagai anggota paguyuban kerawitan tersebut.
Dinamika Sosial Politik dalam Perkembangan Kethek Ogleng
Perjalanan seni Kethek Ogleng juga tidak terlepas dari dinamika sosial dan politik yang terjadi di Indonesia. Pada masa pergolakan politik tahun 1965, kegiatan pertunjukan Kethek Ogleng sempat mengalami kevakuman karena situasi sosial yang tidak stabil. Kondisi tersebut memengaruhi aktivitas para seniman sehingga pertunjukan kesenian tidak dapat dilakukan secara rutin.
Baru pada awal tahun 1970-an, seni Kethek Ogleng kembali aktif dan mulai berkembang. Pada masa awal pemerintahan Orde Baru, kesenian ini sering ditampilkan dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk dalam kegiatan kampanye politik partai Golkar yang pada saat itu menjadi partai pendukung pemerintah. Para penguasa lokal melihat bahwa Kethek Ogleng memiliki daya tarik yang kuat bagi masyarakat sehingga mampu menarik perhatian massa (Sutopo B., Hendriyanto A., 2019).
Sejak saat itu, seni Kethek Ogleng semakin dikenal di berbagai wilayah Kabupaten Pacitan. Pertunjukan ini tidak hanya ditampilkan dalam kegiatan politik, tetapi juga dalam berbagai acara resmi pemerintah, kunjungan pejabat, maupun kegiatan masyarakat lainnya.
Revitalisasi dan Pelestarian Kethek Ogleng di Era Kontemporer
Memasuki era tahun 2000-an, seni Kethek Ogleng terus berkembang dan mengalami proses revitalisasi. Kesenian yang awalnya merupakan karya individual Sutiman perlahan berkembang menjadi milik bersama masyarakat. Generasi muda di Desa Tokawi mulai mengambil peran penting dalam menjaga dan melestarikan kesenian ini agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Kethek Ogleng kini sering ditampilkan dalam berbagai kegiatan budaya, mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, hingga tingkat regional dan nasional. Bahkan kesenian ini juga dimanfaatkan sebagai salah satu daya tarik wisata budaya di Kabupaten Pacitan. Salah satu contohnya adalah pertunjukan Kethek Ogleng yang digelar pada tahun 2017 di kawasan wisata Pacitan Indah dan Pinus Kita oleh Pusat Pembinaan Seni Kethek Ogleng Condro Wanoro.
Selain itu, pada tahun 2018 seni Kethek Ogleng juga dipentaskan dalam kegiatan tingkat provinsi melalui kerja sama antara Pusat Pembinaan Seni Kethek Ogleng Condro Wanoro dan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Pertunjukan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pengenalan seni tradisional Pacitan kepada masyarakat yang lebih luas.
Karakteristik Gerak dan Keaslian Seni Kethek Ogleng
Meskipun mengalami berbagai perkembangan dan adaptasi, keaslian seni Kethek Ogleng tetap dapat dikenali melalui enam gerakan pokok yang menjadi ciri khasnya. Gerakan-gerakan tersebut tidak boleh dihilangkan meskipun pertunjukan Kethek Ogleng dipadukan dengan unsur kesenian lain.
Enam gerakan pokok tersebut meliputi:
- Koprol dan berguling, yang melambangkan perpindahan dari satu alam ke alam lainnya.
- Gerakan termenung dan gelisah, dengan pandangan yang diarahkan ke berbagai penjuru.
- Berjalan mengitari arena, sambil berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
- Gerakan usil terhadap penonton, yang menimbulkan unsur humor dalam pertunjukan.
- Membawa makanan dengan mulut dan kedua tangan, menggambarkan perilaku alami kera.
- Gerakan bercanda dan bercengkerama, yang menjadi daya tarik utama pertunjukan.
Gerakan-gerakan tersebut menjadi identitas penting yang membedakan Kethek Ogleng dari bentuk seni pertunjukan lainnya. Oleh karena itu, upaya pelestarian dan revitalisasi seni Kethek Ogleng perlu dilakukan secara berkelanjutan agar nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.
