Diskusi Draft “Ensiklopedia Situs Pacitan Kota Misteri” Jilid 4, Wujud Inventarisasi Objek Pemajuan Kebudayaan Pacitan
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Upaya pelestarian sejarah dan penguatan identitas budaya lokal terus dilakukan di Kabupaten Pacitan. Selasa (12/5/2026), bertempat di Kantin Literasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pacitan, Amat Taufan, bersama Agoes Hendriyanto menggelar diskusi draft buku “Ensiklopedia Situs Pacitan Kota Misteri” Jilid 4 yang ditargetkan terbit pada tahun 2026.
Diskusi tersebut tidak hanya membahas proses penulisan buku, tetapi juga dikaitkan dengan upaya inventarisasi dan kajian Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) di Pacitan. Buku ini dipandang sebagai bagian penting dari dokumentasi kebudayaan daerah yang memuat berbagai situs sejarah, tradisi lokal, folklor, tinggalan budaya, hingga narasi kolektif masyarakat Pacitan yang memiliki nilai historis dan edukatif.
Amat Taufan menjelaskan bahwa inventarisasi objek pemajuan kebudayaan menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya daerah. Menurutnya, banyak situs dan tradisi di Pacitan yang belum terdokumentasi secara maksimal sehingga membutuhkan kajian mendalam agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
“Buku ini menjadi bagian dari literasi kolektif bangsa Indonesia sekaligus upaya inventarisasi aset sejarah dan budaya Pacitan. Kami ingin warisan budaya lokal tidak hilang oleh perkembangan zaman,” ujarnya.
Sementara itu, Agoes Hendriyanto menambahkan bahwa penyusunan “Ensiklopedia Situs Pacitan Kota Misteri” Jilid 4 juga diarahkan untuk mendukung penguatan data kebudayaan daerah yang dapat menjadi referensi dalam program pemajuan kebudayaan. Menurutnya, kajian terhadap situs sejarah, tradisi lisan, ritus budaya, pengetahuan lokal, dan arsip sejarah merupakan bagian penting dalam memperkaya basis data kebudayaan nasional.
Di tengah kondisi efisiensi anggaran daerah, kedua penulis berupaya mencari berbagai terobosan melalui kolaborasi dengan pegiat sejarah, tokoh masyarakat, akademisi, hingga dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Dukungan tersebut diharapkan dapat mempercepat penerbitan buku sekaligus memperkuat gerakan pelestarian budaya berbasis literasi.
Lebih jauh, buku ini diharapkan menjadi media edukasi masyarakat dalam memahami pentingnya pemeliharaan arsip sejarah, situs budaya, dan memori kolektif daerah. Selain sebagai referensi akademik dan literasi publik, keberadaan buku tersebut juga dinilai mampu mendukung pembangunan kebudayaan yang berorientasi pada kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat.
Melalui kajian dan inventarisasi kebudayaan yang berkelanjutan, Pacitan diharapkan semakin dikenal sebagai daerah yang kaya warisan sejarah dan budaya, sekaligus mampu menjaga identitas lokal di tengah arus modernisasi global.
