Kajian Inventarisasi Situs Sentono Gentong sebagai Objek Wisata Berbasis Tradisi Lisan di Kabupaten Pacitan
PRABANGKARANEWS.COM, OPK PACITAN – Kabupaten Pacitan memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, mulai dari peninggalan prasejarah, situs sejarah, hingga tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satu situs yang memiliki nilai historis sekaligus nuansa tradisi lisan yang kuat adalah Situs Sentono Gentong yang berada di Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan. Situs ini tidak hanya dipandang sebagai tempat bersejarah, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi berkembangnya cerita rakyat, legenda, dan keyakinan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.
Keberadaan Sentono Gentong diyakini berkaitan erat dengan proses awal penyebaran Islam di wilayah selatan Pulau Jawa. Dalam narasi masyarakat setempat, situs ini dikaitkan dengan perjalanan rombongan saudagar dan ulama dari Kalingga Selatan (India Selatan) yang dipimpin oleh Syeh Subakir. Kisah tersebut menjadi bagian penting dari memori kolektif masyarakat Pacitan yang hingga kini masih lestari melalui tuturan lisan para sesepuh dan pelaku sejarah lokal.
Nilai Historis dan Tradisi Lisan
Tradisi lisan yang berkembang di Sentono Gentong menyebutkan bahwa kawasan Pacitan pada masa lampau masih dikenal sebagai bagian dari wilayah Wengker Kidul, sebelum lahirnya nama Pacitan secara administratif. Dalam cerita masyarakat, rombongan saudagar dari India Selatan singgah di kawasan pesisir selatan untuk berdagang sekaligus melakukan syiar agama Islam.
Salah satu penanda penting dalam tradisi tersebut adalah keberadaan “paku bumi” yang diyakini pernah ditancapkan oleh para ulama sebagai simbol penetral wilayah sekaligus peneguhan spiritual tanah Jawa. Narasi ini memperkuat keyakinan masyarakat bahwa Pacitan memiliki posisi penting dalam sejarah awal perkembangan peradaban dan spiritualitas Pulau Jawa.
Selain kisah Syeh Subakir, masyarakat juga mengenal legenda Ki Buwono Keling, seorang tokoh sakti yang diyakini berasal dari Kalingga dan memiliki ilmu Ponco Sono. Cerita mengenai peperangan antara Ki Buwono Keling dengan Kyai Ageng Petung dan Kyai Ageng Posong menjadi bagian penting folklor masyarakat Pacitan. Tradisi tutur tersebut masih hidup dan berkembang dalam berbagai bentuk cerita rakyat yang diwariskan antar generasi.
Aspek Kebudayaan dan Kearifan Lokal
Sentono Gentong tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga mencerminkan perpaduan budaya Hindu-Islam yang berkembang di masyarakat Jawa pada masa transisi penyebaran agama Islam. Hal ini terlihat dari tokoh-tokoh yang muncul dalam tradisi lisan setempat, yang menggambarkan adanya proses akulturasi budaya dan spiritual.
Nama “Gentong” sendiri memiliki makna simbolik yang kuat. Dalam cerita masyarakat, gentong digunakan oleh para saudagar sebagai tempat menyimpan air minum dan sarana berwudlu selama perjalanan. Simbol gentong kemudian berkembang menjadi identitas budaya yang melekat pada situs tersebut.
Tradisi lisan di Sentono Gentong juga menunjukkan kuatnya nilai gotong royong, penghormatan terhadap leluhur, serta penghargaan masyarakat terhadap sumber air dan alam sekitar. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Pacitan.
Potensi Wisata Budaya dan Edukasi
Sebagai objek wisata berbasis sejarah dan tradisi lisan, Sentono Gentong memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya dan edukasi. Keunikan narasi sejarah lokal yang berpadu dengan legenda dan spiritualitas menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, peneliti, maupun pegiat budaya.
Potensi wisata tersebut meliputi:
- Wisata sejarah dan religi
Pengunjung dapat mempelajari sejarah penyebaran Islam dan perkembangan budaya di wilayah selatan Jawa. - Wisata tradisi lisan
Cerita rakyat mengenai Syeh Subakir, Wengker Kidul, dan Ki Buwono Keling dapat dikemas dalam bentuk pertunjukan budaya, diskusi sejarah, maupun paket wisata edukatif. - Wisata spiritual
Situs ini memiliki nuansa spiritual yang masih dijaga masyarakat melalui tradisi ziarah dan ritual tertentu. - Wisata budaya lokal
Sentono Gentong dapat dikembangkan bersama potensi seni tradisional, kuliner lokal, dan produk budaya masyarakat sekitar.
Upaya Pelestarian
Inventarisasi Situs Sentono Gentong penting dilakukan sebagai bagian dari pelestarian Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), khususnya pada kategori tradisi lisan dan situs budaya. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Pendokumentasian cerita rakyat dan narasi sejarah masyarakat.
- Pemetaan situs dan peninggalan yang berkaitan dengan Sentono Gentong.
- Penguatan literasi sejarah lokal melalui pendidikan dan kegiatan budaya.
- Pengembangan wisata berbasis masyarakat (community based tourism).
- Kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, budayawan, dan masyarakat adat.
Penutup
Situs Sentono Gentong merupakan salah satu kekayaan budaya Kabupaten Pacitan yang memiliki nilai historis, spiritual, dan tradisi lisan yang sangat kuat. Narasi tentang Syeh Subakir, Wengker Kidul, serta legenda Ki Buwono Keling menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Pacitan yang masih hidup hingga saat ini.
Melalui inventarisasi dan pelestarian yang berkelanjutan, Sentono Gentong berpotensi menjadi destinasi wisata budaya unggulan sekaligus sumber pembelajaran sejarah lokal yang memperkaya khazanah kebudayaan Indonesia.
Penulis: Agoes Hendriyanto
