Sajak Matahari “W.S. Rendra”
SAJAK MATAHARI
Karya: W.S. Rendra
Matahari bangkit dari sanubariku.
Menyentuh permukaan samodra raya.
Matahari keluar dari mulutku,
menjadi pelangi di cakrawala.
Wajahmu keluar dari jidatku,
wahai kamu, wanita miskin !
Kakimu terbenam di dalam lumpur.
Kamu harapkan beras seperempat gantang,
dan di tengah sawah tuan tanah menanammu !
Satu juta lelaki gundul
keluar dari hutan belantara,
tubuh mereka terbalut lumpur
dan kepala mereka berkilatan
memantulkan cahaya matahari.
Mata mereka menyala
tubuh mereka menjadi bara
dan mereka membakar dunia.
Matahari adalah cakra jingga
yang dilepas tangan Sang Krishna.
Ia menjadi rahmat dan kutukanmu,
ya, umat manusia !
W.S. Rendra merupakan seorang sastrawan kebangsaan Indonesia yang kerap dijuluki sebagai Burung Merak. Sejak muda W.S. Rendra sudah menulis puisi, skenario drama, cerpen, dan esai sastra diberbagai media massa. Selain terkenal di dalam negeri, karya-karya W.S. Rendra juga terkenal diluar negeri. Salah satu puisi karya W.S. Rendra adalah “Sajak Matahari”.
Puisi yang berjudul “Sajak Matahari” ditulis pada tanggal 5 Maret 1976 di Yogyakarta oleh W.S. Rendra dan dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern karya ini tidak termasuk kedalam salah satu angkatan atau kelompok seperti angkatan 45, 60-an, atau 70-an, karena dalam karyanya ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri. Tema yang diangkat dalam puisi ini adalah tetang kemanusiaan, yaitu membahas mengenai moral dan akhlak manusia.
Isi dari puisi “Sajak Matahari” yaitu menceritakan kejadian atau peristiwa sekaligus masalah yang sedang marak terjadi di dunia tanpa ada yang menyadarinya. Masalahnya adalah dunia yang mulai hancur karena ulah dan keserakahan seorang penguasa yang ingin menguasai dunia dengan cara cara kotornya. Yaitu rakyat yang dimanja dengan fasilitas namun sebenarnya diperalat oleh tuan mereka yaitu para konglomerat untuk menanam tanaman dan hanya dimanfaatkan hasil panennya saja.
Kemudian hutan yang habis ditebang mengakibatkan hilangnya paru-paru dunia dan dunia marah akan hal itu, kemarahannya seperti bara yang membakar dunia.
Amanat yang terkandung dalam puisi “Sajak Matahari” ini yaitu:
- Sebagai seseorang yang mempunyai kedudukan dan kekayaan yang lebih daripada orang lain, tidak boleh sewenang-wenang terhadap bawahan dan lebih memperhatikan hak-hak orang lain.
- Sebagai orang yang tertindas, beranilah dalam melepaskan diri dari orang-orang yang tidak menghargai hak kita.
- Janganlah mengikuti kemauan orang lain, karena yang menentukan nasib kita adalah Tuhan dan diri kita sendiri bukan orang lain.
Penulis: Anggi Eria Rahayu dan Riska Fitriana
