New Normal ! Start Kembali Untuk Melanjutkan Kehidupan Alamiah
PRABANGKARANEWS.COM| PACITAN – Manusia yang sebelum adanya Covid-19 sudah melintas batas dunia normal manusia. Untuk akademisi akan berlomba-loba untuk satu tujuan dengan membayar puluhan juta bahkan ratusan juta. Minum satu cangkir copi jika belinya di pinggir jalan, warung nagkringan 2500-4000. Namun dengan tempat yang berbeda, nuansa yang berbeda, gengsi yang berbeda harga 1 cangkir copi bisa 40.000,- ribu padahal harga normalnya 4.000,- maka 36.000, saudara membayar tempat, membeli symbol sebuah merk. Angka 36.000 kita sebut dengan hiperealitas.
Hiperealita diperkenalkan oleh filsuf Prancis bernama Jean Baudrillard dalam bukunya tentang Simulacra. Sebuah kondisi mental (psikologi) manusia yang dipengaruhi pesan yang berualang-ulang dalam media sosial seperti faceboob, twitter, istagram, kelompok sosialita yang menganggap sesuatu itu nyata dan kita anggap kita butuh barang tersebut melebihi kebutuhan dasar manusia. Dunia hyperealita yang telah menjadi bagian dari kehidupan manusia hyperealista dengan berbagai symbol-simbol yang telah diproduksi.
Namun, hiperealitas manusia hilang, lenyap, seketika saat datang covid-19. Mendadak kita semua takut keluar rumah, takut berkerumun, aktivitas di luar dibatasi. Stay at home. Semua kegiatan dilakukan serba dari rumah. Kaum hyperealista tak bisa melakukan kegiatannya untuk memproduksi symbol-simbol baru untuk mendongkrak prestise dan status diri. Mobil mewah dan barang mewah lainnya tak ada nilainya saat semuanya terfokus pada mencegah agar tak terpapar Covid-19. Media sosial yang sebelumnya dipergunakan untuk memamerkan aktifitas manusia di tempat yang serba luxury, dengan harga yang fantastis hanya untuk sebuah prestise.
Ah…nampak kebanggaan mereka terhadap status diri mereka sebelum adanya Covid-19. Lalu bagaimana nasib para hiperealista? (sebutan untuk pelaku hiperealita)
Kondisi setelah Covid-19. Adanya pelarangan berkumpul di suatu tempat, entah kapan akan berakhir. Mengakibatkan resto sepi, cafe sepi, mall sepi. Tidak ada yang upload imej terbaru mereka di outle-outlet, resto, café, serta tampat nongkrong yang luxury atau super mewah pendongkrak citra diri itu. Timbul pertanyaan. Masih relevankah kebutuhan akan luxury, prestise dan status hari ini ? Masih mungkinkah kita membutuhkan itu? Saat masyarakat sangat membutuhkan kebuituhan pokok dan kesehatan. Tak ada artinya status jika kita terdampak Covid-19 bahkan keluarga kita yang terkena.
Masihkah dibutuhkan prestise, harga diri, seperti itu hari ini ? Pandemi Covid-19, bisa tombol reset. Yang mengembalikan manusia pada jatidiri.
Pandemi covid-19 ini ibarat tombol reset.
Sekali ditekan langsung semua berbondong-bondong menuju ke titik awal. Sebetulnya tidak salah. Karena yang terjadi sesungguhnya bukanlah pembatasan sosial, tetapi mengembalikan kehidupan sosial kita ke titik yang wajar ketika kehidupan sosial kita sudah benar-benar overdosis. Harga 36.000 satu gelas kopi.
Sebelumnya kita terjebak untuk membeli barang dengan merk populer, untuk satu tujuan yang diagungkan kaum hyperealista. Mereka membeli symbol yang akan berubah menjadi status manakala kehidupan sosial manusia didorong sampai puncak di luar kebutuhan wajar manusia. Namun semua sirna, ketika ruang manusia untuk saling bertemu hancur lebur seperti hari ini. Simbol-simbol yang dibangun dari merk terkenal pada saat ini runtuh nilai jualnya.
Apakah yang akan terjadi ?
Petani yang natural yang tak membeli symbol-simbol. Namun mereka tetap pada symbol natural dari alam. Ketika pandemic Covid-19 mereka tetap bertani, berlandang, sehingga dampak Covid-19 sedikit terdampak. Hal ini berkaitan dengan harga jual produk mereka juga akan terimbas. Namun semuanya tidak terlalu signifikan mempengaruhi 100 derajat kehidupan mereka.
Jika kita melihat kaum hyperealista. Menunjukan betapa lugunya kita kemarin selama ini rutin bekerja 8 jam sehari, 5 hari seminggu hanya untuk mengongkosi kebutuhan imajiner (hiperealita) kita. Kemarin kita benar-benar dijauhkan dari apa yg benar-benar kita butuhkan. Kita malah membiayai ilusi.
New Normal, adalah hancurnya sebuah abnormalitas dan kembalinya sebuah kehidupan normal. Sebelum revolusi industri, kehidupan itu relatif sangat normal. Manusia setara bekerja untuk kebutuhannya.
Ketika ‘ngopi’ mereka ya ngopi sambil ngobrol untuk menghilangkan penat. Kedai kopi pun sebagai ruang publik untuk saling guyub berinteraksi, bukan ruang halusinasi atau untuk menyendiri. Selesai ngopi kembali ke kehidupannya. Ah bukan halisinasi naik ke puncak yang tinggi seperti halusinasi. Upah yng mereka dapat pun untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Bukan untuk ‘membeli’ merek.
New Normal adalah sebuah terapi psikis dan efek kejut bagi kita untuk memikirkan ulang, untuk introspeksi betapa rapuhnya kehidupan sosial kita kemarin. Kita ibaratkan jaring laba-laba besar. Tertata, tersistem dan terstruktur rapih dan masif tetapi tidak kita sadari begitu rapuh dan labil ketika sebuah batu menimpanya.
New Normal mendorong kita untuk fokus dan mengefisiensikan tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yg kita butuhkan saja. Dan petunjuk atas matinya kebutuhan2 halusinasi kita. Seolah2 hidup kita serba dicukupkan. Kita didorong memikirkan kembali apa yg benar-benar kita butuhkan. Kembali ke jati diri dan fungsi diri kita yg nyata.
Dunia kita yang kemarin sudah mati. Semoga kita hidup normal kembali sebagai manusia
Mari kita sadar bahwa kemarin kita hidup dalam halusinasi. Kita sadar dan menyelamatkan diri bahwa kita berdiri di atas bom waktu. Hidup Normal bercengkerama dengan alam. Selalu mendekatkan diri kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Kerjasama, gotong-royong, tidak menguasai, berbagi, untuk satu tujuan mulia kebermanfaatan untuk sesama. Semoga Covid-19 segera berlalu semangat dan motivasi menjalani hidup baru. (redaksi/Agoeshendriyanto/Program Doktoral UNS Surakarta)
