Oposisi Biner, Antara Monodisiplin dan Multidisiplin
Oleh: Agoes Hendriyanto
Kajian Budaya sebagai sebuah ilmu multidisiplin dengan sudut pandang teoritis mengenai suatu objek dengan perspektif bidang kritik sastra, sosiologi, sejarah, kajian media, dan berbagai bidang lainnya. Kajian budaya sebagai ilmu yang interdisipliner yang mengambil berbagai cara pandang dari ilmu lain untuk meneliti hubungan antara kebudayaan dengan politik atau kekuasaan.
Oleh sebab itu sangat berbeda dengan ilmu monodisiplin yang berkembang pada awal-awal perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu monodisiplin yang berkembang pada sekitar Abad 19 dengan tokohnya August Comte yang mempunyai pandangan bahwa batang, cabang, atau ranting dari disiplin ilmu yang dikuasainya dan tidak begitu peduli terhadap batang, cabang dan ranting disiplin ilmu di luar bidang yang dikuasainya.
Mereka tidak peduli sebuah penelitian selain struktur yang berpengaruh namun dibalik ada faktor lingkungan yang akan mempengaruhi hasil dari sebuah penelitian. Walaupun penelitian monodisiplin dengan paham posistivisme melalui sebuah pendekatan ilmiah yang dimulai dari observasi lapanganm kenuduan menemukan jawaban sementara atau hipotesa, baru menentukan metodeloginya, setelah itu penelitian dilaksanakan, kemudian mendapatkan data, dan data tersebut di analisis untuk digunakan apakah hipotesa diterima atau ditolak, kemudian baru dibuat sebuah simpulan.
Mereka tidak sadar bahwa penemuan yang berhasil mereka ciptakan berhasil merubah wajah dunia menjadi dunia modern namun dibalik penemuan besarnya ada persoalan sosial budaya yang berkembang di masyarakat. Salah satunya menciptakan kelas di masyarakat seperti kelas pemodal dan kelas buruh. Selain itu juga manusia ingin mendominasi sumber daya wilayah lain yaitu dengan berkembangnya imperealisme pada abad 18-19.
Monodisiplin dengan cara pendekatan persoalan dan cara berpikir pada generasi ini mulai dikritisi oleh generasi yang datang setelahnya. Perkembangan selanjutnya era modern, pada dasarnya juga masih bercorak monodisiplin, tetapi telah mulai ada kesadaran baru yang mengingatkan bahwa ada kekurangan yang melekat pada pendekatan monodisiplin.
Karakter, nilai-nilai yang selama ini diabaikan oleh positivism mulai dipergunakan untuk pengambilan sebuah simpulan. Faktor eksternal yang mempengaruhi penelitian menjadi salah satu faktor yang dipergunakan untuk membuat sebuah simpulan penelitian.
Sebagai contohnya diajarkan teori-teori budidaya tanaman yang pada awalnya sangat menarik bagi saya. Namun kenyataannya ilmu positivisme harus menggunakan beberapa pendekatan multidisipline untuk menerapkan di lapangan. Oleh sebab itu walaupun sifatnya kuantitatif namun hasilnya akan berbeda dalam prakti di lapangan. Sebuah ilmu harus mencakup 3 komponen utama yaitu ontologi, epistemologi, dan axiologi.
Ilmu monodisiplin disebabkan metode atau epistemologi yang diterapkan pada hakikatnya hanya
untuk menguji apakan Hipotesa tersebut ditolak atau diterima. Faktor kejujuran dalam menulis angka-angka menjadi faktor utama kebermanfaatannya. Seharusnya seorang ilmuwan yang memegang teguh prinsip monodisiplin yang sangat berhubungan dengan realitas ataupun praktik dilapangan harus sadar bahwa dibalik itu ada faktor lainnnya yang mempengaruhi keberhasilan sebuah penelitian.
Sebagai contohnya seorang peneliti bidang kesehatan menemukan teori, tentang pencegahan deman berdarah. Teori tersebut setiap tahun selalu diperbaharui. Kenyataan di lapangan menunjukan bahwa persoalan deman berdarah sampai sekarang belum terselesaikan. Seharusnya mereka sadar dibalik itu ada persoalan sosial humaniora yang sangat mempengaruhi hasil penelitian di tengah masyarakat.
Monodisipline sifat egoism dan kebanggaan yag berlebihan yang menganggap monodisiplin yang terhebat, terpandai. Mereka hanya menguji sesuatu atau struktur dari subyek penelitian. Padahal selain faktor struktur dari sebuah subyek terdapat faktor di luar struktur yang sangat mempengaruhi subyek penelitian. Namun demikian sekarang ini sudah mulai sadar bahwa permasalahan yang dihadapi oleh alam semesta, seperti perubahan iklim (climate change), kerusakan lingkungan hidup dan persoalan yang dihadapi oleh manusia, seperti fenomena lunturnya nilai-nilai, pendidikan karakter, pendidikan nilai, penanggulangan korupsi, kolusi dan nepotisme, juga kasus-kasus radikalisme, terorisme dan kekerasan yang mengatasnamakan agama yang sedang merebak sekarang ini tidak bisa dan tidak mungkin dapat diselesaikan dengan hanya menggunakan pendekatan monodisiplin.
Persoalan-persoalan ini memerlukan kerja sama antar berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Kerja sama antar berbagai disiplin ilmu adalah masa depan ilmu pengetahuan era baru. Kondisi sekarang saat pandemi Covid-19 ilmu monodisiplin berkibar kembali dengan penemuan vaksin dan obat terbaru. Semua dana dan sumber daya dikerahkan untuk menemukannya. Hal ini kan membuat mereka diatas angina dan pasti akan memandang sangat rendah ilmu Sosial Humaniora. Pendapat kami monodisiplin tidak akan mungkin
untuk mengakui multidisiplin disebabkan perbedaan konsep. Sehingga jurang semakin
lebar dengan adanya Covid-19, ilmu monodisiplin yang paling terdepan dalam penanganan
Covid-19. Pembuatan vaksin-covid-19, pembuatan obat covid-19, pencegahan penyebaran
covid-19, pembuatan Alat Pelindung Diri.
Apalagi nanti pasca pandemic Covid-19 yang akan merubah budaya masyarakat pada kegiatan mandiri di rumah maka riset yang berupa angka-angka menjadi konsumsi media sosial yang dicari. Angka bagi mereka identik dengan kebenaran, mereka tidak peduli lagi apakah angka tadi hasil manipulasi atau tidak. Hal ini akan terus berlangsung terus ibarat Utara-Selatan, barat-Timur, baik-Buruk, dan Monodisiplin – Multidisiplin (Culture Studies).
