Parlemen Iran Setujui Penutupan Selat Hormuz di Tengah Ketegangan dengan AS, Perdagangan Minyak Global Terancam
PRABANGKARANEWS – Parlemen Iran telah menyetujui penutupan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, sebagai respons atas serangan udara Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran. Meski lembaga legislatif telah menyatakan dukungan terhadap langkah tersebut, pejabat senior militer Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Ismail Kowsari menegaskan bahwa keputusan akhir berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, menunjukkan masih adanya perdebatan internal mengenai tindakan ekstrem ini.
Selat Hormuz merupakan jalur penting dalam pasokan energi global, menyalurkan sekitar 20% dari total pengiriman minyak dan gas dunia setiap harinya—dengan rata-rata 20 juta barel per hari melintas pada tahun 2024, menurut Administrasi Informasi Energi AS (EIA). Gangguan pada jalur ini berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap pasar energi global, dilansir dari media sosial @Seasia.news Selasa (24/6/25).
Menanggapi ancaman Iran tersebut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa penutupan selat akan menjadi “bunuh diri ekonomi” bagi Iran dan merupakan “kesalahan besar“, seraya mendesak Tiongkok—yang merupakan pembeli minyak terbesar dari Iran—untuk memberi tekanan diplomatik agar Teheran mengurungkan niatnya. Rubio menekankan bahwa ketergantungan Tiongkok terhadap minyak dari Teluk Persia membuat negara itu berkepentingan untuk menjaga agar jalur laut tetap terbuka.
EIA mencatat bahwa sepanjang tahun 2024 dan kuartal pertama 2025, lebih dari seperempat dari seluruh pengiriman minyak maritim global dan seperlima konsumsi minyak dunia melintasi selat tersebut, memperlihatkan besarnya potensi gangguan jika penutupan benar terjadi.
Situasi ini masih terus berkembang, sementara para pengamat geopolitik memantau apakah Iran benar-benar akan melanjutkan rencana penutupan—langkah yang berisiko memperburuk ketegangan regional dan memicu lonjakan harga energi global.
