NANO POWER DIPLOMACY: Digitalisasi Diplomasi dalam Praktek Diplomasi di Masa Pandemi Covid-19
SURAKARTA,- Diplomasi umumnya dilakukan secara langsung dan diplomat sebagai pelaku diplomasi secara langsung dapat bertukar pikiran, berdebat atau berbicara secara fisik on site. Namun, dengan adanya wabah pandemic covid 19, semua mesin diplomasi berubah secara radikal, sementara diplomasi tidak boleh berhenti. Apapun yang terjadi, diplomasi tidak boleh berkurang dan justru harus meningkat dari waktu ke waktu, baik melalui koneksi off-line maupun melalui koneksi virtual. Maka sangat rasional apabila setiap negara harus mencari cara untuk membangun hubungan internasional dan diplomasi tetap aman dan terkendali.
Sementara itu, dalam dua dekade terakhir, diplomasi secara virtual sesungguhnya telah dilakukan, khususnya diplomasi yang menggunakan situs virtual, seperti website pemerintah dan juga penggunaan media social. Para diplomat dan Duta Besar dari berbagai negara telah menyatakan bahwa media sosial, seperti tweeter telah dijadikan sebagai sarana dan alat untuk melakukan penyebaran gagasan baik secara pribadi maupun secara institusional.
Dalam kesempatan webinar, 24 Juni 2021, Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA (figure 1) berharap dapat menguji konsep Nano Power Diplomacy yang ia kembangkan di Program Studi Hubungan Internasional, FISIP, UNS Surakarta dan mendapat dukungan penuh ( Dana Riset selama 2 tahun) dari Dirjen Pendidikan tinggi untuk dikembangkan sebagai teori hubungan internasional berbasis Indonesia (ASIA).
Untuk menguji bagaimana praktek Nano Power itu dilaksanakan, tiga nara sumber utama, yang diundang untuk menjelaskan praktek diplomasi di Kedutaan Besar RI, dimana mereka bertugas, yakni duta besar yang sekarang masih aktif di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Afrika. Prof. Andrik memilih Afrika disebabkan oleh penggunaan media sosial yang masih rendah di benua yang sangat gigantes tersebut. Yaitu H.E. Dubes, Al Busyro Basnur (figure 2) Duta Besar RI untuk Ethiopia, Djibouti dan Uni Afrika. Beliau banyak mempresentasikan tentang hubungan diplomatik Indonesia-Ethiopia yang disebut mengalami kemajuan pesat justru di masa pandemi covid-19. Kedua, HE. Duta Besar Dr. Muhammad Hery Saripudin, Duta Besar Indonesia untuk Kenya, merangkap RD Kongo, Somalia, Uganda sekaligus Wakil Tetap RI untuk UNEP dan UN-Habitat.
Webinar dimulai dengan welcome speech dari Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi, Prof. Dr. Kuncoro Diharjo, berbicara pentingnya inovasi dalam riset Nasional. Ia menyebut bahwa Nano Power Diplomacy sebagai terminologi sosial yang seksi. Hal ini mengingat Teknologi Nano biasanya dipergunakan untuk istilah teknik, ternyata berguna untuk sebuah rancang bangun atau rekayasa sosial. Ia berharap bahwa teori dasar Hubungan Internasional yang dikembangkan oleh Prof. Andrik dapat mendunia, sebagai kontribusi UNS terhadap khasanah ilmu pengetahuan.
Hasil dari webinar tersebut menyebutkan konsep nano power relations memang terjadi dalam praktek diplomasi. Sebagaimana pernyataan Dubes Al Busyra bahwa dalam prakteknya, sebagian terbesar praktek diplomasi dilakukan oleh aktor non-negara. Ia menyebut bahwa 70% diplomasi di dilakukan oleh Non-state Actors (Aktor non-negara) sedangkan 30% diplomasi dijalankan oleh official actors, yaitu Duta Besar dan diplomat, dibantu dengan staff kedutaan serta pejabat Pemerintah.
Praktek diplomasi dimasa pandemi seperti blessing in disguise (berkah terselubung), sebagaimana disebutkan oleh Dubes Dr. Hery Saripudin . Ia menyatakan bahwa ada peningkatan signifikan dalam hubungan antar bangsa justru di saat adanya banyak pembatasan dan keterbatasan. Selanjutnya ia menyatakan bahwa Diplomasi virtual telah menjadi keniscayaan, mengubah strategi diplomasi yang radikal, baik sebagai upaya para diplomat untuk mensosialisasikan kegiatan sehari-hari, maupun memperkenalkan program strategis Indonesia kepada publik, bahkan menurut Dubes Hery penggunaan media sosial juga sebagai bentuk akuntabilitas seorang ambassador kepada masyarakat.
Duta Besar Salman Al Farisi, dubes di Pretoria, di Afrika Selatan merangkap Botswana, Eswatini, dan Lesotho, menyatakan bahwa hybrid diplomacy merupakan keniscayaan dan perlu disikapi secara bijak. Di satu sisi diplomasi multidimentsional berjalan di pihak lain perlunya antisipasi terhadap cyber criminals yang bisa mengancam keamanan warga negara dan kedaulaan bangsa.
Kesimpulannya, ketiga narasumber sepakat bahwa hybrid diplomacy adalah tipe paling ideal dalam praktek diplomasi, yakni diplomasi on-site dan diplomasi on-line. Keduanya menggabungkan antara kekuatan virtual dan kekuatan tatap muka, yang saling melengkapi. Hal-hal yang tidak dapat dibicarakan secara on-line hanya terkatakan pada saat tatap muka (on-site). Sedangkan hal-hal yang sulit diungkapkan secara on-site sering terkatakan secara terbuka di dalam diplomasi on-line. Hal-hal yang sulit dilakukan ketika mengalami kendala signal, dapat diatasi dalam situasi tatap muka. Ketika diplomasi kehilangan pesan secara non-verbal dalam diplomasi on-line (virtual) dapat dikoreksi ketika diplomasi dilakukan secara tatap muka (on-site).
Selain itu, ketiga narasumber juga menyebut bahwa dalam nano power relations, diplomasi virtual memungkinkan seorang Duta Besar melakukan kontak langsung dengan dengan individu (warga negara asing). Hal ini karena fasilitasi dan pola koneksi internet dan aplikasi media sosial, telah menyatukan dunia secara virtual. Hal tersebut menurut Prof Andrik telah membuktikan bahwa people to people contact, sebagai Citizen Diplomacy, kini tengah berjalan dan factor pandemi covid-19 telah mengubahnya secara radikal dibandingkan dengan diplomasi yang dilakukan secara konvensional. Peristiwa dinamika citizen diplomacy inilah yang disebut Prof. Andrik sebagai Nano Power Diplomacy.
Dalam clossing statementnya, Prof. Dr. Kuncoro Diharjo, Wakil Rektor III UNS, bidang Riset dan Inovasi berharap akan lahir inovasi-inovasi baru dalam riset, dan hasil inovasi tersebut dikenal dunia. Untuk itulah Warek III tersebut berjanji akan terus mengembangkan kerjasama dalam bidang Pendidikan, Riset dan Pengabdian masyarakat serta beasiswa dengan Afrika, khususnya dengan wilayah ketiga duta besar tersebut. UNS sendiri telah menerima beberapa mahasiswa dari Afrika, seperti dari Ethiopia, Uganda, Afrika Selatan. Untuk tahun-tahun mendatang, UNS akan juga mengirim mahasiswa magang dari UNS. Khususnya program magang dan tukar menukar mahasiswa, seperti harapan dari Chrystelle Jessica dari Prodi HI 2019. “kami berharap, saya dan teman2 saya dapat difasilitasi oleh Rektorat UNS agar bisa magang dan KKN di Afrika,” tegasnya mewakili mahasiswa HI.
